Minggu, 01 Mei 2011

Tunggu Aku , Jekarda!






“Tidaaakk… masa ini segera datang! Cukup on-time juga ya…” perempuan itu menarik-narik rol rambutnya dengan malas. Hari ini masih minggu ketiga di pertengahan tahun. Sudah basi untuk membuat resolusi tahun baru, namun terlalu percaya diri untuk menyambut pergantian tahun. Sungguh masa abu-abu.


May menuang isi coffee maker, menyisakan bekas-bekas uap dan setengah bagian lagi. Plus nasi uduk. Ah, sungguh perpaduan kuliner yang mekso

"Makan tuh, nggak usah pakai teori. Apalagi teori diet. Kasihan juga perutmu mesti menanggung dosamu yang kalap-kalap sendiri lihat makanan. Pakai deh tuh teori, kalau kamu dari awal memang konsisten preventif." demikian celetukan May di suatu pagi. Cadas.


May melirik sekilas surat yang dipegang Auli.


“Oh. Lanjutan kemarin?”


Dengan asal Auli menyeruput paksa kopi May, menyisakan raut kesal pada May karena kopinya disabotase.


“Iya. Jekarda calling. Hoek.”


“Kapan?”


“Minggu depan…”


Well, welcoming urban. Hahaha. Tak apa, kamu pasti bakal lebih gaul parah dan putih begitu menginjak Jakarta.”


“Putih?”


“Mm… saking parahnya polusi kota J, jadi sinar UV terhalang polusi yang naik ke atmosfer, menjadikan panas alami matahari hanya mengendus kulit--alih-alih membakarnya--tak mengusik pigmen berlebihan dengan UV. Voila! Dan kamu mendapat tabir surya alami, si polusi."


“Lumayan dong, ngirit lotion… Kompensasi ketika sebagian besar gaji habis buat gaya hidup, eh?”


May mengangkat bahu, mulai membentangkan koran tadi pagi di atas meja. Meneliti headline yang bikin pusing.


“Dan… kalau aku lupa akar?”


“Nah, setidaknya ingatlah untuk menyadari darimana kamu berasal.”






Tidak ada komentar:

Posting Komentar