Sabtu, 04 Maret 2017

Oxford dan Lembar Kosong



Memahaminya?
Rasanya seperti membaca setiap halaman kamus Oxford. Detail, memerlukan perhatian spesifik dan waktu yang sungguh luang. Tanpa distorsi, apalagi interupsi.


**

Ada kalanya sesi sarapan setiap pagi adalah sesi yang penuh rasa lelah. Karena ada berbagai rentetan kisah yang terasa gundah, meluncur cepat, terkadang nyaris tak terkendali.

"Gue udah mau gila, kali. Endless meeting, marathon-briefing--"
Peranku sepertinya sudah cukup baik, seperti semangkok bubur ayam tanpa kedelai yang selalu ia pesan dalam kotak bekal maroon yang selalu ia bawa ketika membeli bubur ayam andalan.

'Respek sedikit lah sama lingkungan, gue belum siap tinggal di Mars kalau bumi ini hancur.' begitu katanya ketika aku iseng menyindirnya dengan sarkasme, mengomentari kotak bekal maroon miliknya itu.

Peranku sepertinya sudah cukup baik, diam tenang dan menyimak.

"Menurut lu gimana?"

Oke, ini saatnya aku buka suara. Sedikit mengingat-ingat, apakah kali ini ia butuh solusi atau sekedar ingin didengarkan dengan efektif.
"Iya, parah juga sih kalau begitu. Tapi gue rasa lu udah luarbiasa, Re."

Seberkas senyum tersungging. Buru-buru memasukkan beberapa gadget, memulas lipstik nude, dia kemudian seperti teringat sesuatu,

"Duh, gue lupa ada meeting. Makasih buat sesi sarapan kali ini ya!"


**


Ronde.
Akhir-akhir ini aku cukup keranjingan ronde. Ronde yang disajikan sederhana, dimana yang paling menonjol adalah aroma jahenya yang sukses menimbulkan rasa hangat. Herannya, hangatnya sampai ke hati. See? Mungkin ini adalah salah satu kemampuan bersandiwara, termasuk dengan perasaan sendiri. Kamu boleh saja mengernyit, namun akupun tak benar-benar peduli.

"Gue dijodohin eh ini."

Biasanya  aku akan menyimak dahulu. Mencerna seksama, lalu jika diperlukan akan melemparkan fakta. Iya, dia masih bersamaku. Diterangi oleh lampu jalan, dengan mangkok ronde yang setengah habis. Sialnya, kali ini pretensi yang susah payah kubangun dengan semangkok ronde gagal.

"Menurut lu gimana?


**


Yang perlu dijadikan pelajaran dari masa kecil adalah keteguhan hati. Untuk mendapatkan sesuatu, untuk belajar berjalan, untuk bisa mengendarai sepeda, untuk bisa dipahami Ibu. Tak mudah, karena orang dewasa lebih sedikit memahami apa sebenarnya yang menjadi mau kita. 

Aku ingat, saat itu aku ingin sekali sebuah sepeda berwarna merah. Sepeda yang memiliki gambar bintang di sisi kanannya, lengkap dengan bel yang berbunyi nyaring. Bapak, adalah sosok yang cukup keras. Memberikan hal yang dimaui anaknya, selalu bukan hal yang cuma-cuma.

'Kamu harus menabung. Bapak tidak akan membelikanmu sepeda, karena Bapak sudah kasih kamu uang jajan.'

Dan demikian, sudah dapat ditebak. Aku belajar untuk sabar, menabung nyaris sebagian besar uang jajan yang seharusnya bisa kubelikan dadar telur puyuh favorit dan es limun berwarna hijau mentereng akibat pewarna makanan. 

Keteguhan hati, terkadang memang membuatmu bahagia pada akhirnya.


**

"Gue dijodohin eh ini."

Biasanya  aku akan menyimak dahulu. Mencerna seksama, lalu jika diperlukan akan melemparkan fakta. Iya, dia masih bersamaku. Diterangi oleh lampu jalan, dengan mangkok ronde yang setengah habis. Sialnya, kali ini pretensi yang susah payah kubangun dengan semangkok ronde gagal.

"Menurut lu gimana? 
"Sama gue aja, gimana?"

Entah kenapa, kali ini aku merasa tak perlu basa-basi.


**


Perjalanan ini cukup panjang. Dalam arti denotatif, karena menaiki kereta Argolawu dari Gambir menuju Gubeng selalu memerlukan sekian jam. Bukan karena harga tiket pesawat mahal, walaupun aku sedikit mengakui itu. Hahaha. Bukan pula karena agenda mendadak yang kami ambil kali ini. Bukan. Karena ada banyak hal dan kisah yang harus benar-benar kami luruskan dalam perjalanan panjang ini. Sesuatu yang terlewat, atau tak sengaja dipendam.

Memahamiku?
Mungkin dia hanya cukup membaca selembar kertas kosong. 








Selasa, 21 Februari 2017

5cm.





Here's to the ones who dream
Foolish as they may seem
Here's to the hearts that ache
Here's to the mess we make


Daya lenting.
"Seberapa sanggup kamu tangguh untuk tetap berada pada pendirianmu?"
"Sampai kapanpun."
"Yakin?"
"Entahlah, setidaknya aku mencoba."

Masih ingat, teori backpack ala Ryan Birmingham? Kehidupan kita terlalu penuh dengan aturan 'seharusnya', 'baiknya', 'sebagaimana mestinya.' Penuh dengan berbagai teori penerimaan sosial (meskipun benar). 

"Karena kamu harus menjadi aktor ternama jika ingin menyenangkan semua orang."
Dan kamu bukan artis.
So, you shouldn't.


**


Atau masih ingat rasanya belajar melangkah ketika bayi? Ingat rasa sakit yang muncul saat lutut berdarah atau perih terluka? Rasanya tidak. Karena kepuasan tidak linier dengan rasa sakit. Tidak selalu. Mungkin sekedar sebagai pemicu, pendorong untuk kembali mencoba. Namun belum tentu linier. Dan ketika kamu dewasa, kamu hanya akan mengingat rasa puas dan bahagia yang timbul saat kenangan 'berhasil berjalan' kembali di recall.
Entahlah apa namanya.
Dan aku, sibuk bertanya kepada diri sendiri.

"Seberapa banyak kamu benar-benar terjatuh di jalan yang memang menjadi impianmu bertahun-tahun? Atau sejak keci?"

Mungkin, kamu hanya belum terlalu banyak berusaha. Karena terlalu peduli dengan apa yang seharusnya.  


Leapt, without looking
And tumbled into the Seine
The water was freezing
She spent a month sneezing
But said she would do it again


Keberuntungan? 
Not so. A struggle heart. A hard-willing doze.


Here's to the ones who dream
Foolish as they may seem
Here's to the hearts that ache
Here's to the mess we make


**


"Apa mimpimu?"
"London, Abbey Road, sebuah brand lokal yang mampu menyentuh semua orang dengan story-tellingnya, menghabiskan waktu panjang setiap hari diantara aromaterapi akarwangi ditemani tumpukan buku-kain-buku sketsa..."
"Bisa kamu bayangkan ruang kerjamu itu?"
"Hm, entahlah, mungkin meja minimalis dari kayu pinus, wire-pad dimana kamu bisa meletakkan foto-foto momen terbaik, tanaman artifisial yang mendekati aslinya--ya, kamu tahu aku tak bisa bercocoktanam, beberapa atau mungkin satu-dua frame sederhana berisi quote favorit atau sesuatu yang cukup vintage, dengan kursi minimalis berwarna merah, dinding bata bercat putih..."


She captured a feeling
Sky with no ceiling
The sunset inside a frame

She lived in her liquor
And died with a flicker
I'll always remember the flame


"Instagrammable sekali, he?"
"Haha, said so."
"Jenis kudapan apa yang mampu menemanimu? Cake? Pastry? Mojito? Smoothies?"
"Tentunya bukan. Mendoan dengan stok cabe rawit yang aku petik sendiri dari taman depan, secangkir teh hangat."
"Oke."
"Oke, kamu?"
"Aku?"
"Iya, kamu. Ceritakan mimpimu."
"Mimpiku? Mimpiku adalah hidup saat ini. Menikmati setiap inci kesenangan yang ada. Dengan kamu--dan sebelum kamu potong--memang hanya sebesar itu. Kamu tahu bagaimana aku membedakan rasa masakan atau makanan?"
"Ehm--enak dan enak sekali?"
"Ya, seperti itu aku beranggapan sebuah hidup itu seharusnya. Bahagia dan bahagia sekali."
"Tapi, kamu bahkan tak punya mimpi...tertentu?"
"Karena bagiku, begitulah hidup itu dijalani. Hiduplah untuk saat ini. Namun bukan berarti sekedar hidup, kan?"


Here's to the ones who dream
Foolish as they may seem
Here's to the hearts that ache
Here's to the mess we make


**



Jadi, bertahun-tahun dari sekarang, kamu akan menjadi saksi apa yang aku tulis saat ini. Katamu, disini dan saat ini. Kataku, di suatu tempat dan kelak. Lalu jika kita bisa menjalani ini beriringan, dan kemudian masih ada ribuan hari ke depan. 

We can't predict our future. Just gain it.



Here's to the ones who dream
Foolish as they may seem
Here's to the hearts that ache
Here's to the mess we make


She told me:
"A bit of madness is key
To give us new colors to see
Who knows where it will lead us?
And that's why they need us"


So bring on the rebels
The ripples from pebbles
The painters, and poets, and plays


And here's to the fools who dream
Crazy as they may seem
Here's to the hearts that break
Here's to the mess we make


**


I trace it all back to then
Her, and the snow, and the Seine
Smiling through it
She said she'd do it again



Kamu memiliki daya lenting dalam dirimu. Dijatuhkan oleh opini, untuk kemudian bangkit kembali. Tidak masalah bagaimana memulainya. Selama kamu masih memiliki keyakinan bodoh dan sedikit nyala api. Besar-kecil, sedikit-banyak, menjadi begitu relatif. Pertanyaan besarnya adalah : kapan?








By the way, you know this song?












 

Come on, YES-men



The best revenge?
You know, do what really matters for your passion wholeheartedly.


**


There's always kinda yes-men ppl all around you. 'em just do what have to do. Not because of--what I called it?--fulfillment. Perhaps they still stuck on basic level at Maslow's Hierarchy of Needs.
Pfuit.
Yeah, pfuit.





Come on, yes-men. Are you still alive?

Minggu, 19 Februari 2017

A beginning : Yogyakarta





Hidup di Yogyakarta.
Bagaimana bisa kamu berpindah ke lain kota, sementara sebagian nyawamu tertinggal di sana?
Aku tak sanggup. 
"Kenapa?" pertanyaanmu sungguh retoris.
Aku menghela napas.
Rasa tenang itu mahal harganya.


**


Mencintai kota ini. Dan menemuinya adalah sebentuk terapi. 
Kembali ke kota ini. Namun mengakuinya berarti pengorbanan empati.


**


"Rasanya lautan? Coba kamu ambil sebuah cangkang kerang, dekatkan bagian cangkang kerang terbuka ke daun telinga."
"Dan apa yang akan aku dapat?"
"Debur ombak berdesir."








It's not have to be perfect. It's just to be okay. And it's okay.
Menghabiskan waktumu yang berjalan lambat, mengamati seorang pria kecil sedang sibuk memindahkan pasir dari satu titik ke titik lain, menutupi lubang tinggal seekor kepiting kecil. Itu dalam diam. Namun kamu bahkan mampu merasakan gestur bahagia terpancar sangat kuat,




"Yang dua tanpa gula, yang satu dengan gula."
"Kula pisah kemawon pripun?" (Saya pisah saja bagaimana?)
"Oh nggih pun." (Oh, oke)
Rasa sopan itu tidak selalu dipaksakan. Tata krama dan pelayanan tak selalu sejalan dengan edukasi atau latarbelakang, apalagi nominal. Itu perasaan.







Ketika tiket menuju kebahagiaan bisa ada dimanapun dalam bentuk apapun dengan harga yang terjangkau. Kamu pilih yang mana?


**


"Ini Ibu beli jamu watukan. Diminum ya Nduk."
Kamu tahu? Sesuatu yang sederhana dan tulus itu seperti pengusir hawa negatif keluar. Dan semuanya, berasal dari sugesti yang sederhana. 





**


Dan aku, tak akan pernah bosan menyusuri lorong penuh barang berdesakan semacam ini. Tak akan pernah. 
"Mambu menyan ngono, kok." (Bau menyan begini kok)
Bukan peppermint, ylang-ylang, lavender. Namun aroma cempaka, cengkeh, melati, akarwangi. Aroma yang memenuhi rongga hidung, penuh hingga menyusuri setiap neuron, diantara gending jawa yang mengalun pelan. Mistis? Candu? Kejawen? Ah, biar. Mereka tampak jauh lebih masuk akal daripada Xanax ataupun Prozac.











Dengan seratuslimapuluhribu rupiah, kamu memindahkan sepetak kehidupan ke tanah lain. Berharap ada sedikit ketenangan akan terbentuk di tanah lain itu kelak. Seratuslimapuluhribu rupiah, seharga gaya hidup lintas bistro dan kafe ternama, atau bahkan jauh lebih murah. Sesuatu yang murah, memang selalu lebih susah. Namun itu seninya, kan? Perjuangan.


**
 

Kesenangan ini seakan terhenti ke udara. Bersahut-sahutan dengan perut yang ikut merasa lapar. 
"Mau beli gorengan lagi."
"Jauh-jauh cuma beli gorengan?"
"Sebanding, karena disana aku cuma bisa mendapatkan sepotong tempe tipis yang tampak digoreng paksa dengan genangan minyak kelam."






... atau, serius, kamu masih bisa menampik lembutnya potongan ayam dan bebek yang juicy, berpadu sambal bawang super pedas, plus kenikmatan yang masih belum berakhir : tambah nasi sepuasnya? I don't think so. Kamu tak akan sungguh berkarya, ketika bahkan perutmu tak diapresiasi dengan pantas, kan? 
Masih berniat menyentuh potongan steak mahal yang overprice mungkin karena berlabel western?
Aku... mungkin tidak malam ini.


**




Terimakasih Yogyakarta, sampai jumpa kembali titik nol kilometer. 
Terimakasih untuk selalu menjadi kepingan harapan di saat semuanya sungguh tak masuk akal.









Sabtu, 04 Februari 2017

The Flowers Grow




"Hai."
"Hai."
"You've changed a lot."
"Thank's to you."


**


Kali ini kamu tampak gugup. Bahkan segelas avocado-latte tak cukup menutupi gelisah itu detik ini. Aku berusaha mengabaikannya sedari tadi, demi beberapa pendingan yang muncul di pop-up screen. Me, a workaholic one. A tough princess not waiting for any prince-charming in the daydream, huh?

"Lu baik-baik aja?"

Dan aku langsung menerima tatapan serius seketika. Oke, sinyal kuat macam provider X. Perlahan namun pasti aku mulai mematikan beberapa tab yang terbuka, kemudian menutup laptop. Sedikit terpecah, mengingat beberapa poin masih ditunggu oleh bos. Semoga tak ada intervensi dadakan diantara tatapan serius di depan muka begini.

"Gue mau ngomong sesuatu, penting."
"Ehm, oke. Go on."
"Besok gue ke Penang. Flight setengah lima."

Refleks, aku mengecek jam di pergelangan tangan. Well, sekian jam lagi.

"Duh, lu pasti belum prepare ya? Ya udah kita cari sesuatu dulu yuk. Soalnya--"
"Gue dapat tawaran di sana."



there is no reason to feel bad
but there are many seasons to feel sad glad mad
it's just a bunch of feelings that we have to hold




"Sampai kapan? Ah lu nggak cerita deh! Masak gue baru tahu sekarang??" berusaha menetralkan tone suara, meski rasanya sudah ada yang menggenang di ujung mata. Jangan tumpah!
"Tiga tahun."

Dan secangkir kopi yang telah sedikit dingin menjadi begitu menarik saat ini. Aku menenggaknya seperti itu adalah stok air terakhir di muka bumi.

"Good for you! Jangan lupa kabar-kabar yak. Apalagi kalau ketemu jodoh disana." 

Kamu diam. Shit. I hate this awkward situation.

"Tunggu gue ya."

Ah suara angin, batinku.

"Iye gue tungguin, oleh-oleh jangan lupa lah."



when i first held i was cold
a melting snowman i was told
but there was no one there to hold
before i swore that i would be alone for ever more




**




"Sehat?"
"Sehat. Lu gimana kabar? Nambah berapa kilo?"
"Aku tambah kurus ini. Kangen masakan rumah."
"Hahaha. Parah kamu. Cari makan aja pilih-pilih."

Wait. Aku - kamu?



**



Entah kenapa lagu Bad Day - Daniel Powter bisa sedemikian riang untuk ukuran 'bad day'. I mean, hari ini benar-benar buruk. Presentasi dengan klien gagal total. Mobil mendadak mati di tengah jalan hingga terpaksa diderek. PMS alias Pre Monster Syndrom (yea, my personal acronym) yang super rese hingga wajah sedemikan breakout. Couldn't ask for more.

"Mbak--"
"Nanti dulu deh, Nu.Gue lagi kesel nih!" tanpa ampun Banu--officeboy kantor--turut kena serapah sore ini. 
"Tapi Mbak--"
"Aduh apaan sih?!"

"Masih galak aja."

Darahku serasa berhenti berdesir. Kamu. Aku bahkan tak bisa berpikir akan membubuhkan tandabaca seru atau tanya disini.
"Hai."
"Hai."
"Kamu... kapan sampai?"
"Cukup lama, hingga sadar kalau cara ngomelmu masih sama."
"Ck--"



wow look at you now
flowers in the window
it's such a lovely day
and i'm glad you feel the same
cos to stand up
out in the crowd
you are one in a million
and i love you so let's watch the flowers grow



Banu? Dia sudah kabur lebih dulu.



**



"You've changed a lot."
"Thank's to you."
"Makasih sudah ditunggu. Kupikir kamu tidak cukup sabar."

Oke, aku masih berlindung diantara gelas avocado-latte, menghindar dari tatapan entahlah-apa-itu. We're best buddy, right? Or it was?

"Akhirnya datang juga, kamu. Lama sekali." kataku setelah yakin mampu menguasai tone suara dan ekspresi muka."
"Cukup, kok. Cukup untuk memastikan apakah benar jarak dan waktu benar membuktikan kalau aku memang rindu. Kamu?"

Aku yakin tanpa berkata sepatahpun mukaku yang memerah mendadak sudah menjadi sebuah jawaban.



it's such a lovely day and i'm glad you feel the same
cos to stand up
out in the crowd
you are one in a million
and i love you so let's watch the flowers grow
so now we're here and now is fine
so far away from there and there is time time time
to plant new seeds and watch them grow
so there'll be flowers in the window when we go
wow look at us now
flowers in the window
















Jumat, 20 Januari 2017

Patah atau tumbuh hilang berganti?




"Iya, aku kagum."
"Kenapa?"
"Nggak tau. Seperti semesta yang telah berkonspirasi. Tck!--" aku menjentikkan jari, "--begitu saja."

Seperti semesta yang telah berkonspirasi. Begitu saja. Semudah itu untuk merasa timbul dan tenggelam. Saking mudahnya, yang memperkuat konsistensi mungkin hanyalah komitmen. Mungkin.

"Bagaimana jika nanti aku menua, dan tak lagi menarik? Karena fisik hanya bagian setitik."
"Tak masalah! Aku akan ada, kini dan nanti."

Dan, memang semudah itu timbul dan tenggelam ketika merasa kasmaran.

I met you in the dark
You lit me up
You made me feel as though
I was enough
We danced the night away
We drank too much
I held your hair back when
You were throwing up


**


Kemeja putih ini terasa sangat tidak nyaman, padahal ini adalah kemeja kesayangan. Pertama kali dikenakan saat bertemu di taman. Pertemuan (?) Dan kini genap hari ke seribuempatratusenampuluh, kembali dikenakan. Setelah sempat tertimbun diantara media penyimpan kenangan. 

Sekian jengkal berjarak, dan kamu mengenakan kemeja senada.

"Tak bisa dibicarakan kembali?" katamu tempo hari, kesekian kali.

Aku menggeleng, meski tahu kamu bukan cenayang untuk melihatku tak mengangguk. Kedua kali. Namun atas ribuan sinyal terkirim sebelumnya, olehmu tak terespon.

Then you smiled over your shoulder
For a minute I was stone-cold sober
I pulled you closer to my chest
And you asked me to stay over
I said, I already told you
I think that you should get some rest


**


Percaya pada perbedaan dapat dipersatukan? Aku percaya. Sama percayanya dengan teori bahwa bumi itu bulat. Berarti, itu tak terbantahkan bukan?

"Bubur ayam?"
"Tanpa--"
"Daun bawang, kedelai, kecap, dan ayam. Iya, kesukaanmu, bubur ayam tanpa ayam."
"Masih belum capek?"
"Untuk mengitarimu? Belum. Kemampuanku berotasi terhadapmu masih sejarak ribuan tahun cahaya."
"Berlebihan sekali."
"Sama berlebihannya dengan kamu yang selalu mencoba menghindar."
"Besok aku pergi."
"Aku tunggu ya."
" ... "


I knew I loved you then
But you'd never know
'Cause I played it cool when I was scared of letting go
I knew I needed you
But I never showed
But I wanna stay with you
Until we're grey and old
Just say you won't let go
Just say you won't let go


**


Ada bagusnya ketika tak benar-benar berusaha, sementara belum semua yang percaya. Minimal, tak ada sosok mungil dengan mata indah yang dikorbankan. Dan kamu, bisa pergi dengan segala kebebasan. Ya, aku tahu itu. Kini seratusenam hari yang tenang. Meski cukup sepi.

"Dia janda," 

Aku hanya pura-pura tak mendengar stigma sosial berlebihan tentang istilah yang baru melekat. Bahkan meski yang berbisik diantara kangkung ranum, tomat, dan sesisir pisang adalah satu-dua ibu jobless berdaster. Minimal, aku tak hanya duduk manis menggerogoti kantong priaku.


I wake you up with some breakfast in bed
I'll bring you coffee
With a kiss on your head
And I'll take the kids to school
Wave them goodbye
And I'll thank my lucky stars for that night


**


Masih menunggu. Diantara pesan singkat yang tak dibalas.


**


Masih tak peduli. Dengan kisahku yang dibingkai sesukanya dalam pikiran mereka.


**


Karena jatuh cinta itu nyata.

When you looked over your shoulder
For a minute, I forget that I'm older
I wanna dance with you right now, oh
And you look as beautiful as ever
And I swear that every day you'll get better
You make me feel this way somehow



**


Karena sakit hati itu fakta.

Then you smiled over your shoulder
For a minute I was stone-cold sober
I pulled you closer to my chest
And you asked me to stay over
I said, I already told you
I think that you should get some rest


**


I'm gonna love you 'til
My lungs give out
I promise till death we part
Like in our vows
So I wrote this song for you
Now everybody knows
That it's just you and me
Until we're grey and old
Just say you won't let go
Just say you won't let go





Rabu, 18 Januari 2017

Menjadi Debu

Ini bukan jenis hari yang akan coba kau perjuangkan. Dan ada beberapa alasan yang mungkin menurutmu tak masuk akal. Ketika kau mencoba tak mempermasalahkan faktor lain di luar kendali dan gagal.

Ini bukan jenis hari yang sengaja ingin kau jadikan kelabu. Tak akan ada yang pernah meminta kehadiran panas sekaligus hujan dalam satu waktu.

Dan mungkin,
Ini bukan jenis hari yang akan cukup kuat kau lewati. Ketika bahkan sekedar untuk memejam mata saja terasa kejam dan tabu.

Dan saat ini adalah tentang persepsi. Dan jika kau merasa tak sanggup lagi. Dan meski ada pepatah untuk selalu mengingat perjuanganmu sejauh ini sebelum benar-benar beranjak pergi. Dan meski logika tak selalu sejalan dengan hati.

Ingatlah bahwa kamu memang masih punya hati. Bukan untuk memamerkan emosi. Namun karena kamu kamu memang seberharga ini.



badai tuan telah berlalu
salahkah ku menuntut mesra
tiap pagi menjelang kau di sampingku
ku nyaman ada bersamamu
selamanya sampai kita tua, sampai jadi debu
ku di liang yang satu, ku di sebelahmu

badai puan telah berlalu
salahkah ku menuntut mesra
tiap taufan menyerang kau di sampingku
ku aman ada bersamaku

selamanya sampai kita tua, sampai jadi debu
ku di liang yang satu, ku di sebelah mu


**


Dan memang, ini bukan jenis hari yang akan coba kau perjuangkan. Dan ada beberapa alasan yang mungkin menurutmu tak masuk akal. Ketika kau mencoba tak  mempermasalahkan faktor lain di luar kendali, namun menjadi sedemikian lelah ketika mencoba mencerna dan memahami.

























I can do this all day long, but I can't. Tribute to stupid dateline.