Minggu, 23 April 2017

Darurat Piknik untuk Semua!




Indonesia Darurat Piknik! 



Post di sebuah media online nasional tertanggal tujuhbelas April lalu. Kebetulan dibagikan di sebuah lapak instant messaging di kantor. Dari membaca judulnya saja, saya langsung merefleksikan hal itu ke dalam diri. Jyan.


**


Akhir-akhir ini saya cukup sering mengagendakan trip dadakan, tanpa pertimbangan. Karena toh sekedar killing time dengan strolling around di swalayan saja sudah luarbiasa menyenangkan.

Dan itulah yang terjadi beberapa saat lalu. Ulah impulsif untuk book sebuah tempat menginap di detik terakhir via sebuah aplikasi--Airbnb 
Norak yak. Sungguh. Kali pertama saya menggunakan aplikasi ini. Unik, mengingat yang disewakan adalah kediaman yang personal sekali. Saking personalnya, kamu bahkan bisa menebak-nebak buah manggis, kepribadian ataupun latarbelakang dari si empunya rumah. Fyuuu--kebiasanya observasi anak Psikologi yang suka otomatis muncul :')


**


Selalu ada yang pertama untuk setiap hal. 

Tiga hari terakhir bolak-balik buka web, beberapa aplikasi, googling sana-sini, terutama karena saya sangat picky dalam hal toilet ataupun aspek kebersihan lain. Hingga pada akhirnya saya menetapkan pilihan di sebuah guesthouse yang paling menarik di detik terakhir.  

Saya percaya bahwa jatuh hati pada pandangan pertama adalah esensial, termasuk dalam memilih tempat untuk ditinggali, meski hanya untuk sekian belas jam. Dan mengetahui profil si host--konyolnya--jika bisa, ternyata adalah hal yang tak kalah penting. Cara mengatur dekorasi rumah, attention to detail pada setiap titik, keseharian si host, cara ia berinteraksi dengan setiap orang yang menjadi tamu--sedikit banyak akan mampu memberikan gambaran tentang guesthouse incaran. A good host, a good guesthouse. Thanks to psychology *meh*

Dan karena saya percaya bahwa gambar mewakili ribuan kata, berikut resume hal yang paling menarik bagi mata,




Kenyataan bahwa pemilik rumah ini sangat menyukai tanaman, entah kenapa sangat menenangkan. Ya, hal terakhir yang sungguh dibutuhkan untuk piknik adalah sesuatu yang hijau :)



Aslinya lebih hijau, kok. Maafkan kualitas jepretan yang hanya mengandalkan kamera handphone ala kadarnya :')


An interesting corner


Kinda attention to detail




















Karena kelak yang menemanimu mungkin sama nyamannya dalam keheningan...


...hanya diam tanpa perlu banyak penjelasan. Itu cukup :)






 Iya! Ada raket dan kok untuk bermain bulutangkis! So much fun!








 Yay, what a spacious garden.

Sarang burung. Too cute!




Sudut favorit. Sungguh memaksimalkan cahaya matahari untuk masuk ke dalam rumah, meminimalisasi penggunaan lampu berlebih di siang hari.


 Cukup surprise mendapati host kami kali ini adalah seorang kolumnis--atau travel writer(?)--sangat masuk akal melihat koleksi buku-bukunya yang--duh--menarik sekali! Bahkan adik saya yang mudah bosan bisa rada tenang semalaman demi membaca buku-buku yang ada.








Kesan menggunakan layanan Airbnb? Senang! Apalagi langsung mendapat rumah dengan kriteria favorit : rapi, bersih, wangi, banyak buku, memiliki halaman luas untuk Cupis berlari kesana-kemari. Efek sampingnya adalah Bapak-Ibu bahkan malas keluar rumah saking nyamannya. Padahal niat awal adalah untuk eksplorasi kota Bogor. Hehe. Pun, sifat OCD saya keluar, bukan cuma sekali saya bertanya kepada keluarga,

"Bagus kan ya? Nyaman kan ya?" berkali-kali macam kaset rusak, sekedar untuk memastikan apakah pilihan guesthouse ini sungguh pas.

"Kok dia percaya sekali ya kita tinggal disini, check-out nya pun ndak ketemu." komentar Bapak suatu ketika, sambil sibuk membolak-balik lembar sebuah majalah travelling.

Dan rasanya ini seperti pembenaran dari post saya sebelumnya,
Technology makes stranger, closer.
It makes us--citizen of the world.

Iya, saya norak. Asli. Tapi norak yang sebanding dengan rasa senang dan puas seluruh keluarga :') Karena membahagiakan orang lain mungkin memang sesederhana itu.


**


Pada akhirnya, mengutip kalimat Seno Gumira Ajidarma di bagian akhir post yang tadi saya sebut di awal,

 “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”








Ayo piknik.










*Penasaran untuk book guesthouse keren ini? Klik disini. Host nya super ramah!























Minggu, 16 April 2017

Local Wisdom Masih Ada? Ya, Masih.



Menemukan celah lalu mengkritisinya lewat sarkasme atau skeptical-thinking. Apakah itu bisa menjadi suatu keahlian? Hehehe.

Saya, adalah salah satunya. Si sarkas *eh
Bedanya saya dengan beberapa tahun lalu adalah kini saya mencoba menjadi bagian solusi (baca : mencari solusi) setelah puas mencecar. Dan, susah. Asli.


**


Barusan sekali, otak terbagi konsentrasi. Dengan tumpukan buku-buku tentang generasi perubahan, millenials, lalu teknologi dalam masyarakat uber, pikiran tiba-tiba mengembara ke suasana persawahan menghijau, udara pegunungan yang segar, suara debur ombak di kejauhan.

Katakanlah, ini muak. Di lingkungan terdekat akhir-akhir ini seperti kecanduan teknologi. Iya, terlepas dari jenis gadgetnya maksud saya. Semua ada dalam genggaman. Semua ada dalam sekali sentuh atau klik.

Mendadak tadi, saya ingin sekali makan Fish Streat. Sebuah resto baru di bilangan Galaxy Bekasi. Dua kali lewat sana, saya dan suami kehilangan nyali sekedar untuk antri. Gila parah antrinya. Masih kapok pasca-antri Flip Burger di Senopati tempo hari. 

Thanks to technology. Dengan mudah kami mengetahui apa yang sedang menjadi tren dan viral. Adalah keren, ketika berhasil mencicipi atmosfer viral tersebut, kan?

Namun di sisi lain, ada rasa timpang ketika melihat deretan pria berjaket hijau sedang sibuk mengantri. Kepala mereka menunduk, jari-jari sibuk bertarung dengan keypad demi mendapat orderan. Entah hujan entah panas. Itu halal. Betul. 

Dan otak saya yang kadang penuh sarkasme ataupun sok rajin mengkritisi, langsung teringat sepenggal adegan dalam film Wall-E.

Wall-E, 2008. Source : YouTube


Film ini dibuat tahun 2008. Sekian tahun yang lalu dari teknologi berkembang. Dan hanya dalam jangka sekian tahun, adegan yang tercapture di film ini bukan lagi menjadi hal mustahil. Melihat penggalan film Wall-E ini kok rasanya, nyes.



**



Jika ada yang mendesak dan mendebat untuk menggunakan teknologi,

"Hei, jangan gaptek! Kamu harus update."

dan detik itu juga rasanya ingin mengernyit,

"Are you sure about that, huh?"

Yakin, kamu berkata seperti itu? Seakan-akan yang tidak melek teknologi hanyalah penghalang kemajuan. Rasa-rasanya kok egois sekali.


**


Bapak saya, adalah seorang wiraswasta. Berbagai usaha telah beliau tekuni dengan sepenuh hati. Apa saja. Hingga sewindu terakhir ini cukup mantap dengan usaha kerajinan tangan. Bapak sudah sepuh, dan anak-anaknya termasuk saya cukup gatal untuk membantu Bapak. 

"Pak, tak jualin di internet ya Pak."
"Ndak usah. Begini saja sudah laku kok."
"Biar Bapak nggak capek, angkut-angkut barang terus. Kan kalau pakai internet tinggal duduk, enak."
"Ndak usah. Nanti ditiru orang."

Itu Bapak. Dengan (yang mungkin menjadi) ketakutannya. Disini saya tak akan membahas betapa beratnya meyakinkan Bapak untuk mengubah model penjualan. Ataupun cara Bapak melakukan penetrasi pasar. Yang saya tahu saat itu--saat masih kuliah--ada gap generasi antara kami dan Bapak. Bapak, dengan metodenya yang kami pikir kuno. Dan kami, yang rasa-rasanya merasa paling melek teknologi di muka bumi.

Hingga suatu ketika, saya memahami apa yang miss dari beda generasi ini. Kecanggihan teknologi seakan-akan tidak memiliki rentang kesalahan. Yang terbaik. Namun ternyata, pelakunya yang kadang menimbulkan keraguan dan mendorong beda persepsi dalam lintas generasi. Bapak mungkin khawatir menggantungkan hidupnya dari sebuah teknologi yang memang sangat dinamis. Benda mati. Namun dinamis. Dan kami, dengan minat yang fluktuatif, kadangpun belum tentu mampu mengikuti ritmenya :)

Wajar, karena sekarang prinsipnya adalah,
Makes stranger closer.
Cukup kontradiktif dengan persepsi jaman Bapak dulu mungkin, kepercayaan itu ada dengan cara pembiasaan dan tidak semata diberikan.

Dan saya baru paham saat itu, ada value yang tak tergantikan teknologi. Gethok tular dan guyub. Bapak, menghubungkan antara satu rantai pengrajin dengan pengrajin yang lain. Berkunjung secara rutin satu-persatu. Dari awam menjadi kerabat. Menyapa langsung. Menyampaikan maksud dan keinginan, namun di satu sisi juga bertanya kabar. Mengenal pengrajin atau mendapatkan ide baru hasil brainstorming pun tidak dari internet atau surat kabar, melainkan gethok tular, info dari orang ke orang. Itu yang esensial. Sesuatu yang tak terbeli meski dengan versi teknologi manapun : local wisdom. Melibatkan pikiran, rasa, dan raga hingga terkonversi menjadi rasa percaya.


Bapak sehat?


**


Lalu, kemana arah dari tulisan absurd ini?
Arahnya hanya satu. Bagi yang sudah sangat melek teknologi, ayolah bersama mendorong yang masih merem teknologi. Jangan sampai, yang maju makin maju. Yang masih dibelakang makin terbelakang. Yang canggih seharusnya bukan teknologinya, namun manusia pelakunya, yang mampu menempatkan teknologi secara lebih bijak diantara hubungan lintas-manusia.

Be part of solution, not problem.











*sebuah catatan pribadi. Karena menjadi bijak tak selalu mudah.





















Minggu, 09 April 2017

Tiket Kebahagiaan



"Berangkat kapan?"
"Malam ini. Habis Isya'."
"Yakin nggak naik pesawat?"
"Kering kantong gue."
"Pinjem gue aja. It's okay."
"Nggak usah. Hahaha. Anggap aja gue mau refleksi sepanjang perjalanan."
"Refleksi? Pijat?"
"Ha-ha. Asli. Lu garing banget."
"Take care, ya."

 Dalam. Sangat dalam.


**


Perjalanan, semewah atau semurah apapun, tak pernah membuat sesal. Jujur, yang paling menyenangkan dari sebuah perjalanan adalah perjalanan itu sendiri. Beserta segala keheningannya. Aku bahkan tak keberatan menghabiskan berjam-jam tanpa kepastian hanya karena hal seremeh delay. Konyol ya? Karena buatku, hanya dengan sebuah perjalanan membosankan kamu akan menghargai interaksi dengan orang lain.

'Selalu lihat dari sisi baiknya, Nak,' demikian Ibu selalu berkata. 

Saat itu H-sekian menjelang Hari Raya. Setelah sekian lama, tahun itu kami akan melakukan mudik. Ya. Tinggal di kota setenang Klaten membuatku dan adik terbiasa dengan rasa tenang dan kedamaian. Dan kini kami harus seperti kaum urban yang berduyun-duyun memenuhi kota kecil sekitar kami saat Lebaran tiba, lengkap dengan berbagai buntalan oleh-oleh di atas kendaraan hingga nyaris tumpah ke sisi jalan? Bedanya, kami melawan arus.

"Kenapa Bapak tidak pulang saja, Bu? Ini kan Lebaran. Aku mau Lebaran sama Bapak disini, malam takbiran sambil lihat pawai bedug di alun-alun," Aku baru sadar, saat itu aku cenderung merengek.

Ibu, dengan tumpukan pakaian yang sedang dipilah untuk dibawa mendadak berhenti, lalu berlutut di hadapanku yang masih keras kepala.

"Bapak ndak bisa pulang, Nak. Kita yang kesana, ya."

Aku tak penah tega melihat Ibu sedih, apalagi sampai memohon di depan wajahku. Dan entah kenapa, kali itu Ibu sangat sedih. Tak mungkin tak ku iyakan, kan?

Dan rupanya itu adalah mudik terakhirku ke ibukota untuk menemui Bapak. Di pemakaman. Aku ingat, saat itu aku memakai baju koko berwarna putih gading. Dibelikan Bapak dan dikirimkan ke rumah untuk aku dan adik beberapa minggu sebelum Lebaran tiba. Bapak tahu anaknya tidak suka warna putih bersih.


240 thousand miles from the Moon, we’ve come a long way to belong here,
To share this view of the night, a glorious night, over the horizon is another bright sky
Oh, my my how beautiful, oh my irrefutable father,
He told me, "Son sometimes it may seem dark, but the absence of the light is a necessary part.
Just know, you’re never alone, you can always come back home


**


"Nak, tawaran Pakdhe bagus kok. Ndak diambil?"

Aku memandang setumpuk pisang goreng hangat mengepul di hadapan. Sore tadi ibu memetiknya dari kebun belakang rumah.

"Nggak ah Bu. Aku mau disini saja, menemani Ibu."
"Ndak papa Ro. Ibu ada Nani kok disini."
"Iya Mas, Nani kan kuliahnya cuma di Jogja, dan bisa pulang pergi." adikku menimpali.
"Nanti kamu capek--"

Ibu geleng-geleng kepala,
"Masmu atos tenan Nduk."
yang disambut tawa Nani.


**


"Aku bakal sering-sering pulang kok Bu."

Ibu mengelus kepalaku dengan lembut. Ah. Kok rasanya ingin mengumpat.

"Iya Nak. Hati-hati ya. Ibu baik-baik saja kok. Kan ada adikmu."
"Iya Mas. Ibu sama Nani, kok."
"Jaga Ibu, ya Nik."

Suara derap kereta, peluit pertanda ada kereta langsir, penanda palang kereta bersahut-sahutan di kejauhan. Rasanya tak ada yang lebih berat daripada meninggalkan itu semua. Di tanganku ada sebuah kotak makan berwarna hijau. Bergambar kartun katak. Ibu telah mengisinya dengan oseng tempe, ayam goreng, dan tumis genjer. Tak lupa jeruk pontianak sebuah. Biar tak usah jajan, selalu kata Ibu ketika membawakan bekal untuk aku dan Nani.


93 million miles from the Sun, people get ready get ready,
'cause here it comes it’s a light, a beautiful light, over the horizon into our eyes
Oh, my my how beautiful, oh my beautiful mother
She told me, "Son in life you’re gonna go far, and if you do it right you’ll love where you are
Just know, that wherever you go, you can always come home


Tumis genjer Ibu biasanya enak sekali. Kali ini tetap enak, namun sedikit pahit. Dan pahitnya sampai ke hati.



**


Orang-orang yang bekerja di Ibukota, pada akhirnya akan menggadaikan rasa lelahnya dengan tiket ratusan hingga jutaan rupiah saat Hari Raya menjelang. Ya, rasa lelah setahun. Kamu tak akan sungguh peduli lagi dengan makian bos, rapat-rapat tak penting yang menyita waktu seharian tanpa hasil berarti, jam kerja diluar ambang batas normal terutama ketika tumpukan target berhamburan, pekaknya telinga dengan klakson panjang saat beradu kendaraan di pagi hari--melintasi jalanan yang tergerus banjir atau lubang-lubang menganga. Tak peduli, selama semuanya demi tiket mudik. Tiket menuju  kebahagiaan, demikian aku menyebutnya. Apalagi yang kamu tunggu selain ekspresi bahagia seluruh keluarga besar di kampung saat melihatmu tiba, dengan tentengan berkodi-kodi baju yang dibeli berdesakan di Tanah Abang?

"Pakdheeeeee!"

Lamunanku terhenti diudara. 

"Hei, Mas!" suara Nani.

"Loh, kamu sudah besar!" aku buru-buru menggendong Aleesha--iya, nama anak sekarang mudah dilafalkan namun sukar ditulis, haha--keponakanku yang mulai bergelanyut di pinggangku. Ahya, Nani sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan manis.

"Sudah dari tadi, Mas?"
"Nggak, barusan kok. Suamimu mana?" 
"Di parkiran, tadi ban nya rada kempes. Eh, bawa barang banyak ya? Kutelepon dia, deh--"
"Nggak usah, nggak usah."
"Icha, ayo sama Ibu. Pakdhe capek itu baru sampai."
"Nggak mau! Icha mau sama Pakdhe!"
"Udah, nggak papa Nik." ujarku geli.
"Yasudah. Mas, mau langsung?"
"Iya. Langsung saja."
"Tapi langsung kami tinggal gimana? Ada njagong temen Bapaknya Icha."
"Iya, langsung aja nanti kamu."


**


"Sehat Bu? Ro kangen Ibu,"

Udara sore itu sungguh sejuk. Berkali-kali aku menghirup udara banyak-banyak, maruk sekali seakan itu adalah stok udara terakhir di muka bumi. Faktanya, bahkan udara pagi hari di Ibukota adalah udara yang telah tercemar, kok. Wajar kalau aku maruk, kan?

"Ro sekarang sudah naik jabatan Bu. Seperti yang Bapak pengen dulu. Jadi orang sukses. Yaa, mungkin belum sukses sekali sih Bu. Tapi cukup. Ro sekarang punya rumah di daerah Kebagusan. Ibu tau nggak daerah Kebagusan? Hehehe."

Kamu tahu, sesuka-sukanya aku dengan keheningan, aku tetap tak suka keheningan detik ini.

"Ro bawakan Ibu anggrek bulan ya Bu. Bunganya bagus sekali, Bu."

Kali ini, biarlah anggrek bulan yang menemani tidur panjang Ibu.


93 million miles from the Sun, people get ready get ready,
'cause here it comes it’s a light, a beautiful light, over the horizon into our eyes


"Ro pamit, Bu."


**


"Mas, ada tamu di depan." Nanik menepuk punggungku yang sedang sibuk memperbaiki kursi. Kursi kesayangan Bapak.
"Mas Bayu ya? Ngajak jalan ke alun-alun lihat pawai bedug dia." sahutku masih sibuk memaku ujung kursi.
"Bukan--"

Entah kenapa kali ini jantungku berdegup kencang. Jantungan?

"Hai."

"Loh--"

"Mau melihat pawai bedug di alun-alun?"
"Lu naik apa?" alih-alih menjawab, aku justru mengajukan pertanyaan.
"Pastinya naik pesawat, sih." ekspresi mukamu tampak geli dan penuh kejutan.

Iya, kejutan. 


Every road is a slippery slope
There is always a hand that you can hold on to.
Looking deeper through the telescope
You can see that your home’s inside of you.


"Pulangnya jangan malem-malem Mas, besok Sholat Ied pagi lo!" Nani, sedemikian iseng. Aku yakin dia menahan tawa karena saat aku berbalik badan dengan muka merah padam terdengar suara cekikikan beradu dengan dentingan rantang sambal goreng krecek, panci berisi opor ayam kampung, dan semangkuk acar nanas.


Just know, that wherever you go, no you’re never alone, you will always get back home


'Bapak, Ibu, selamat Idul Fitri. Maaf kalau Ro banyak salah.' bisikku dalam hati. Semoga kalimat ini sampai ke atas sana, ditemani suara takbir bersahutan di udara malam.















Ditulis dengan rasa kangen udara Yogyakarta dan Gudegnya yang legit rupawan. Ditemani 93 Million Miles-nya Jason Mraz. Replay lagu ini berkali-kali dan langsung mendapat mood bercerita dengan plot diatas :')

 




Sabtu, 04 Maret 2017

Oxford dan Lembar Kosong



Memahaminya?
Rasanya seperti membaca setiap halaman kamus Oxford. Detail, memerlukan perhatian spesifik dan waktu yang sungguh luang. Tanpa distorsi, apalagi interupsi.


**

Ada kalanya sesi sarapan setiap pagi adalah sesi yang penuh rasa lelah. Karena ada berbagai rentetan kisah yang terasa gundah, meluncur cepat, terkadang nyaris tak terkendali.

"Gue udah mau gila, kali. Endless meeting, marathon-briefing--"
Peranku sepertinya sudah cukup baik, seperti semangkok bubur ayam tanpa kedelai yang selalu ia pesan dalam kotak bekal maroon yang selalu ia bawa ketika membeli bubur ayam andalan.

'Respek sedikit lah sama lingkungan, gue belum siap tinggal di Mars kalau bumi ini hancur.' begitu katanya ketika aku iseng menyindirnya dengan sarkasme, mengomentari kotak bekal maroon miliknya itu.

Peranku sepertinya sudah cukup baik, diam tenang dan menyimak.

"Menurut lu gimana?"

Oke, ini saatnya aku buka suara. Sedikit mengingat-ingat, apakah kali ini ia butuh solusi atau sekedar ingin didengarkan dengan efektif.
"Iya, parah juga sih kalau begitu. Tapi gue rasa lu udah luarbiasa, Re."

Seberkas senyum tersungging. Buru-buru memasukkan beberapa gadget, memulas lipstik nude, dia kemudian seperti teringat sesuatu,

"Duh, gue lupa ada meeting. Makasih buat sesi sarapan kali ini ya!"


**


Ronde.
Akhir-akhir ini aku cukup keranjingan ronde. Ronde yang disajikan sederhana, dimana yang paling menonjol adalah aroma jahenya yang sukses menimbulkan rasa hangat. Herannya, hangatnya sampai ke hati. See? Mungkin ini adalah salah satu kemampuan bersandiwara, termasuk dengan perasaan sendiri. Kamu boleh saja mengernyit, namun akupun tak benar-benar peduli.

"Gue dijodohin eh ini."

Biasanya  aku akan menyimak dahulu. Mencerna seksama, lalu jika diperlukan akan melemparkan fakta. Iya, dia masih bersamaku. Diterangi oleh lampu jalan, dengan mangkok ronde yang setengah habis. Sialnya, kali ini pretensi yang susah payah kubangun dengan semangkok ronde gagal.

"Menurut lu gimana?


**


Yang perlu dijadikan pelajaran dari masa kecil adalah keteguhan hati. Untuk mendapatkan sesuatu, untuk belajar berjalan, untuk bisa mengendarai sepeda, untuk bisa dipahami Ibu. Tak mudah, karena orang dewasa lebih sedikit memahami apa sebenarnya yang menjadi mau kita. 

Aku ingat, saat itu aku ingin sekali sebuah sepeda berwarna merah. Sepeda yang memiliki gambar bintang di sisi kanannya, lengkap dengan bel yang berbunyi nyaring. Bapak, adalah sosok yang cukup keras. Memberikan hal yang dimaui anaknya, selalu bukan hal yang cuma-cuma.

'Kamu harus menabung. Bapak tidak akan membelikanmu sepeda, karena Bapak sudah kasih kamu uang jajan.'

Dan demikian, sudah dapat ditebak. Aku belajar untuk sabar, menabung nyaris sebagian besar uang jajan yang seharusnya bisa kubelikan dadar telur puyuh favorit dan es limun berwarna hijau mentereng akibat pewarna makanan. 

Keteguhan hati, terkadang memang membuatmu bahagia pada akhirnya.


**

"Gue dijodohin eh ini."

Biasanya  aku akan menyimak dahulu. Mencerna seksama, lalu jika diperlukan akan melemparkan fakta. Iya, dia masih bersamaku. Diterangi oleh lampu jalan, dengan mangkok ronde yang setengah habis. Sialnya, kali ini pretensi yang susah payah kubangun dengan semangkok ronde gagal.

"Menurut lu gimana? 
"Sama gue aja, gimana?"

Entah kenapa, kali ini aku merasa tak perlu basa-basi.


**


Perjalanan ini cukup panjang. Dalam arti denotatif, karena menaiki kereta Argolawu dari Gambir menuju Gubeng selalu memerlukan sekian jam. Bukan karena harga tiket pesawat mahal, walaupun aku sedikit mengakui itu. Hahaha. Bukan pula karena agenda mendadak yang kami ambil kali ini. Bukan. Karena ada banyak hal dan kisah yang harus benar-benar kami luruskan dalam perjalanan panjang ini. Sesuatu yang terlewat, atau tak sengaja dipendam.

Memahamiku?
Mungkin dia hanya cukup membaca selembar kertas kosong. 








Selasa, 21 Februari 2017

5cm.





Here's to the ones who dream
Foolish as they may seem
Here's to the hearts that ache
Here's to the mess we make


Daya lenting.
"Seberapa sanggup kamu tangguh untuk tetap berada pada pendirianmu?"
"Sampai kapanpun."
"Yakin?"
"Entahlah, setidaknya aku mencoba."

Masih ingat, teori backpack ala Ryan Birmingham? Kehidupan kita terlalu penuh dengan aturan 'seharusnya', 'baiknya', 'sebagaimana mestinya.' Penuh dengan berbagai teori penerimaan sosial (meskipun benar). 

"Karena kamu harus menjadi aktor ternama jika ingin menyenangkan semua orang."
Dan kamu bukan artis.
So, you shouldn't.


**


Atau masih ingat rasanya belajar melangkah ketika bayi? Ingat rasa sakit yang muncul saat lutut berdarah atau perih terluka? Rasanya tidak. Karena kepuasan tidak linier dengan rasa sakit. Tidak selalu. Mungkin sekedar sebagai pemicu, pendorong untuk kembali mencoba. Namun belum tentu linier. Dan ketika kamu dewasa, kamu hanya akan mengingat rasa puas dan bahagia yang timbul saat kenangan 'berhasil berjalan' kembali di recall.
Entahlah apa namanya.
Dan aku, sibuk bertanya kepada diri sendiri.

"Seberapa banyak kamu benar-benar terjatuh di jalan yang memang menjadi impianmu bertahun-tahun? Atau sejak keci?"

Mungkin, kamu hanya belum terlalu banyak berusaha. Karena terlalu peduli dengan apa yang seharusnya.  


Leapt, without looking
And tumbled into the Seine
The water was freezing
She spent a month sneezing
But said she would do it again


Keberuntungan? 
Not so. A struggle heart. A hard-willing doze.


Here's to the ones who dream
Foolish as they may seem
Here's to the hearts that ache
Here's to the mess we make


**


"Apa mimpimu?"
"London, Abbey Road, sebuah brand lokal yang mampu menyentuh semua orang dengan story-tellingnya, menghabiskan waktu panjang setiap hari diantara aromaterapi akarwangi ditemani tumpukan buku-kain-buku sketsa..."
"Bisa kamu bayangkan ruang kerjamu itu?"
"Hm, entahlah, mungkin meja minimalis dari kayu pinus, wire-pad dimana kamu bisa meletakkan foto-foto momen terbaik, tanaman artifisial yang mendekati aslinya--ya, kamu tahu aku tak bisa bercocoktanam, beberapa atau mungkin satu-dua frame sederhana berisi quote favorit atau sesuatu yang cukup vintage, dengan kursi minimalis berwarna merah, dinding bata bercat putih..."


She captured a feeling
Sky with no ceiling
The sunset inside a frame

She lived in her liquor
And died with a flicker
I'll always remember the flame


"Instagrammable sekali, he?"
"Haha, said so."
"Jenis kudapan apa yang mampu menemanimu? Cake? Pastry? Mojito? Smoothies?"
"Tentunya bukan. Mendoan dengan stok cabe rawit yang aku petik sendiri dari taman depan, secangkir teh hangat."
"Oke."
"Oke, kamu?"
"Aku?"
"Iya, kamu. Ceritakan mimpimu."
"Mimpiku? Mimpiku adalah hidup saat ini. Menikmati setiap inci kesenangan yang ada. Dengan kamu--dan sebelum kamu potong--memang hanya sebesar itu. Kamu tahu bagaimana aku membedakan rasa masakan atau makanan?"
"Ehm--enak dan enak sekali?"
"Ya, seperti itu aku beranggapan sebuah hidup itu seharusnya. Bahagia dan bahagia sekali."
"Tapi, kamu bahkan tak punya mimpi...tertentu?"
"Karena bagiku, begitulah hidup itu dijalani. Hiduplah untuk saat ini. Namun bukan berarti sekedar hidup, kan?"


Here's to the ones who dream
Foolish as they may seem
Here's to the hearts that ache
Here's to the mess we make


**



Jadi, bertahun-tahun dari sekarang, kamu akan menjadi saksi apa yang aku tulis saat ini. Katamu, disini dan saat ini. Kataku, di suatu tempat dan kelak. Lalu jika kita bisa menjalani ini beriringan, dan kemudian masih ada ribuan hari ke depan. 

We can't predict our future. Just gain it.



Here's to the ones who dream
Foolish as they may seem
Here's to the hearts that ache
Here's to the mess we make


She told me:
"A bit of madness is key
To give us new colors to see
Who knows where it will lead us?
And that's why they need us"


So bring on the rebels
The ripples from pebbles
The painters, and poets, and plays


And here's to the fools who dream
Crazy as they may seem
Here's to the hearts that break
Here's to the mess we make


**


I trace it all back to then
Her, and the snow, and the Seine
Smiling through it
She said she'd do it again



Kamu memiliki daya lenting dalam dirimu. Dijatuhkan oleh opini, untuk kemudian bangkit kembali. Tidak masalah bagaimana memulainya. Selama kamu masih memiliki keyakinan bodoh dan sedikit nyala api. Besar-kecil, sedikit-banyak, menjadi begitu relatif. Pertanyaan besarnya adalah : kapan?








By the way, you know this song?