Sabtu, 10 Juni 2017

We're all human




So I’m going to dedicate my life to using my name and popularity to helping charities, helping people, uniting people, people bombing each other because of religious beliefs. We need somebody in the world to help us all make peace.


Asam lambung naik.
Mengingat ini bulan puasa dan jadwal makan yang suka dilanggar sendiri, nampaknya masalah pencernaan kali ini tidak disponsori langsung olah pola makan.


Lalu?
Stressed-out. Ada beberapa hal yang seharusnya menjadi misi sekian bulan terakhir, dan dengan semangat menggebu berusaha melakukan ini-itu. Dan masih berpegang, ketika kamu memiliki suatu idealisme, jangan pernah menunggu orang lain untuk setuju. Karena menunggu persetujuan orang lain seperti menggantung nasibmu kepada hal yang bahkan tidak mengenalmu sebaik dirimu sendiri. Idealis, huh? Hingga pada akhirnya ini berbalik dan menjadi stressor.

Hingga pada akhirnya hal ini menjadi titik balik.


**


Motivator terbaik adalah diri sendiri. Itu adalah hal yang selalu diamini. Tapi pada akhirnya, sebentuk afirmasi positif dari sebuah tribe lah--yang membantu reinforcement motivasi tersebut. Tepatnya--pola pikir tandingan yang menantang idealisme kita selama ini.

Kamu tahu? Rasanya terpancing ketika ada AHA moment yang hadir dengan ide liarnya lalu menyampaikan sederet visi misi kehidupan, lalu kamu memandang dirimu sendiri dan--

"Seriously, aku baru dua-tiga langkah?" tamparan batin.

Ini konyol, tapi hal ini ternyata menjadi bahan bakar terbaik yang pernah ada. Long-last. Jangan percaya mentah-mentah training motivasi, kalau kesadaran diri saja masih menerawang *eh


**


Looking for meaning of life, way too serious. Am I?
Slow down, S. There's plenty of time you'll make it happen :')

Menulis ini panjang-panjang, sambil ditemani single playlist Coldplay yang Everglow. Dan baru menekuni dengan penghayatan satu speech yang memang diselipkan Coldplay di akhir lagu. That deep,

God is watching me
God don’t praise me because I beat Joe Frazier
God don’t give nothing about Joe Frazier
God don’t care nothing about England or America as far as real wealth… it’s all His.
He wants to know how do we treat each other?
How do we help each other?
So I’m going to dedicate my life to using my name and popularity to helping charities, helping people, uniting people, people bombing each other because of religious beliefs. We need somebody in the world to help us all make peace.
So when I die – if there’s a heaven – I’m gonna see it.

Muhammad Ali, kepada seluruh audiens di Newcastle, Tyne, tahun 1977.




Do good. It's hard but never go wrong. Walk the talk.
And we just need to take time embracing those marks behind.














Senin, 29 Mei 2017

A marketer is a story-teller, not a liar anymore



"Bagaimana jika... drive thru masakan Padang? Namanya mungkin Padang Cuisine On-the-go?"
Siang itu cukup panas, sungguh membuat malas bergerak. Anak kecil sedang sibuk salto kanan-kiri-depan-belakang. Selama bersama ibu-bapaknya, aman. Selintasan ide drive thru liar tadi gegara beberapa kali melihat billboard rumah makan Padang peranakan. Sebut saja berinisial M. Entah kenapa yang tercetus di kepala justru drive thru.

Kamu mengernyit. Untungnya sudah sangat terbiasa.

"Drive thru?" tanyanya lamat-lamat.
"Iya! Selama ini kan masakan Padang terkenal dengan porsinya yang luarbiasa dan dihidang di atas meja. Padahal suatu ketika kamu mungkin lagi pengen banget tappentsama porsi raksasanya." sahut saya bersemangat.

"Mengurai esensi masakan Padang nggak tuh?" seperti biasa ia selalu memainkan peranan sebagai bagian Devil's Advocate.
"Nggak ah, ini kan memudahkan. Konsep jualannya pop up. Packaging nya praktis--" masih ngeyel, masih keukeuh, 
"Jadi macam rice-bowl." masih mencoba menjual pepesan kosong ke si dia, "--biasanya rice-bowl kan identik dengan potongan chicken katsu, noodles anekarupa, saus teriyaki atau dressing-salad lain. Naaah, ini nanti nasinya dari beras pandan wangi yang pulen, di atasnya ada potongan rendang yang juicy, sayur singkong tumbuk, sepotong perkedel kentang, lalu disiram dengan kuah gulai dan kuah rendang, toppingnya adalah remukan adonan krispi. Oya, jangan lupa sambal cabai hijaunya! Nyumm--" duh, sampai menelan ludah membayangkannya.

"Bisa sih," katanya bisa--namun banyak aura tak yakinnya. Hahaha.


**


Iya, itu ide gila. Ide gila lain setelah brainstorming another pop-up cuisine : Warteg on-the-go dan Burjo on-the-go.

Dasarnya? Efisiensi. Hemat tempat, by demand, masakini. Pembelian awal lengkap beserta kotak makan, lalu untuk pembelian berikutnya yang membawa kotak makan akan mendapatkan free rendang. MISAL.


**


"Aku pengen buka angkringan." dia memulai percakapan. DIA--bukan saya, mempertegas kalau kali ini ide tidak keluar dari kepala saya.

Meski demikian, ide dadakan itu sukses mengangkat kepala dari kesibukan menekuni buku baru. 

"Apa?" nyaris mengira salah mendengar.

"Iya. Jadi sama teman kemarin iseng sharing. Di daerah X kan banyak mahasiswanya. Apa nggak kita coba buka angkringan macam di Yogyakarta. Pasti laku."

Kali ini saya mengernyit.

"Konsepnya bagaimana?" --maafkan anak visual, yang ada di otak langsung konsep dan  interior-eksterior. Huhu.

"Ya biasa aja. Angkringan biasa. Jual sate-sate, nasi kucing, wedang jahe. Kan banyak mahasiswa tuh, bisa laku banyak."

"Terus yang membedakan sama usaha sejenis apa? Sekedar hadir saja lama-lama tenggelam loh."

"..."

Nah. Pada suatu titik ini bedanya membahas sebuah ide antara seorang perempuan lulusan Psikologi, dengan seorang laki-laki jebolan Teknik Sipil. Krik


**


Terlepas dari apakah sebuah ide debatable atau tidak, pada akhirnya mau apapun project yang dimiliki, muaranya adalah packaging. Kemasan. Cara membungkus, cara menyampaikan. Karena marketing saat ini--dari apa yang sering saya baca dan temukan-- adalah tukang cerita.

A marketer is a story-teller, not a liar anymore (Anonym)

Mau manusia, mau plastik pembungkus, mau tutup apapun, bagi saya packaging itu penting. Kemasan mampu membuat suatu hal yang biasa-biasa saja menjadi istimewa. Ada personal value-added nya.



**


"Aku arep bali sesuk sore iki." (Aku mau pulang besok sore ini)
"Ngopo?" (Kenapa)
"Iyo, ono perlu. Bojoku yo nitip bumbu giling." (Iya, ada perlu. Istriku juga nitip bumbu giling)
"Lhaa golek nangndi?" (Lhaa cari dimana?)
"Mbak ku lak gawe. Deknen racik dhewe njuk dibungkusi, nggo dhewe." (Kakak perempuanku kan membuatnya. Dia meraciknya sendiri lalu dibungkus, untuk konsumsi pribadi)
"Tok dolke, kono. Kari dibungkusi nganggo wadah ala-ala ziplock utowo bungkusan sik kekinian, iso dadi oleh-oleh khas Boyolali lo." (Kamu jualkan, gih. Tinggal dibungkus dengan tempat model ziplock atau kemasan kekinian, jadi deh oleh-oleh khas Boyolali)
"Wah! Ide yang bagus!"

Jam makan siang yang produktif. Membahas hal tidak penting begini dengan seorang rekan yang (konyolnya) mengamini ide gila menjadi sebuah topik. Terus, sekarang terealisasi? Hm, tampaknya tidak. Karena memang perlu lebih dari sekedar gila untuk memulainya. Sama, dia masih terjebak di ritme kubikel :')




**


Saya selalu percaya, bahwa konsep kemasan yang matang akan bersinergi dengan baik dengan konten. Karena first impression masih menjadi salah satu aspek penentu dalam pengambilan keputusan aksi-reaksi seseorang.


**


Lalu apa pentingnya brainstorming tak berujung begitu? Buang-buang waktu (?) Hm, not really. Brainstorming, sanggah-menyanggah, saling melempar isu, cukup penting untuk mengembangkan imajinasi. Asli. Wasting time ini cukup mind-blowing, dan ketika rada konsisten dilakukan bertahun-tahun, menstimulasi otak :')

Yuk, iseng!









_______

Devil's Advocate--merupakan sebuah teknik yang didesain untuk mengkritisi sebuah ide secara positif, hingga ide tersebut memiliki berbagai kemungkinan strategi atau solusi. Biasanya dilakukan dalam dua kelompok kontras, tujuan strategi ini adalah untuk memunculkan insight terbaik dari setiap gagasan. Belajar pertama kali tentang hal ini, lagi-lagi (masih) di sebuah kuliah Psikologi.







Kamis, 25 Mei 2017

#viralkanhalbaik



Insomnia lagi.
Kalau kata mbak senior tukang travelling--sebut saja Mbak Agvi,

"Hape sama wifimu bikin off aja, Nduk." solusi cerdas penunda insomnia.


**


Iya, sengaja ingin membahasnya disini. Tentang viral.
Kemarin. Stasiun Klender terbakar.
Tadi. Dangerous Woman Tour nya Ariana di Manchester diteror. Bom.
Malam ini. Ada bom di Kampung Melayu.
Malam ini. Beberapa kali mengulik IG sibuk menjadi buzzer ala-ala buat proyek kantor. 

Never stop influencing. Pak Bos menulis demikian.
Kemudian ini tentang pengaruh.  Saya menelan ludah. Saat berita Kampung Melayu turun, saya sedang sibuk berkirim pesan online dengan rekan kerja. Si Ibu panik-kesal-takut.

"Apa jadinya? Tiap hari aku naik kendaraan umum karena perjalanan kantor-rumah super macet. Dan sekarang bahkan teror sudah menyebar. Bukan lagi menyasar kafe! Lama-lama Pasar! Terminal! Jalanan! Pada mikir nggak sih?!" itu bukan teks bersuara. Namun rasa takutnya menjalar sampai ke tengkuk. Saya merinding. Padahal awalnya stay cool.

Ketakutan yang sama. Suami belum pulang (tadi), ditelepon tak bisa. Sampai akhirnya iseng bilang ke rekan kerja,

"Bu, dulu suka nonton Kera Sakti?" saking mengalihkan rasa cemas. 

Betapa mudahnya rasa takut dan bahagia itu menular secara viral. Lewat media. Berebut dopamin, serotonin, adrenalin dari jumlah like, topik yang diposting. Mudah ya?


**


#viralkanhalbaik

Mungkin semua ini dimulai dari satu-dua post saja. Rasa keingintahuan manusia akan hal negatif relatif lebih besar daripada hal positif. Itu yang dijajakan media. Kesedihan, rasa iba, simpati, luka, kekecewaan. Hal-hal tipikal yang laku di pasaran, seperti kacang rebus di musim hujan.

Apakah kemudian hal baik memang berkurang peminatnya?

'Banyak, kok.' batin berbisik pelan sekali, mungkin takut kena gap logika.
'Iya, banyak. Namun masih kalah banyak dengan publikasi hal negatif.'

Alunan Banda Neira tak pernah sesendu ini.


**


"Apa yang kamu bisa?"
"Siapa, aku?"
"Iya."
"Aku... aku mungkin hanya bisa menulis."
"Jangan terlalu banyak memberi porsi pada 'mungkin'. Bisa jadi itu senjata. A lethal weapon. Kompensasi kurangmu itu ya lewat kelebihan."

Lupa siapa yang bilang. Tapi terimakasih.
Barangkali sudah puluhan orang yang unfollow gara-gara jengah bosan muak sama tulisan saya. Hahaha.


Commitment is pushing yourself when no one else is around.


Hell yeah. Damn true.


**


#viralkanhalbaik

Harus ada yang memulai, lalu bersama, dengan senjata apapun yang dimiliki. Karena musuh masakini bukan lagi sekedar kompeni.

Mari akhiri sesuatu yang sudah dimulai, dengan hal yang sama saat mengawalinya.


#prayformanchester
#prayforjakarta
#prayforeverything


Apakah aku harus lari ke hutan, belok ke pantai?
(masalahnya di Bekasi belum ketemu hutan sama pantai yang sebelahan, sih)

















Senin, 01 Mei 2017

Harta Karun itu (masih) ada di Belantara Ibukota




Sejak kapan keranjingan bunga? Tidak  pernah. Atau setidaknya, bukan saya. Namun ternyata hobi suami ini sangat menyenangkan untuk diabadikan. Sementara ia sibuk menawar, dan saya sibuk membidik dengan lensa seadanya :')

Akhir-akhir ini cukup intens menyisihkan sereceh-duareceh untuk hunting tanaman, anggrek. Entahlah, namun anggrek tak pernah gagal membuat doi sumringah. Awal hunting dimulai sejak beberapa bulan kebelakang, diawali daerah Cibungur Purwakarta. Anggrek yang dijual disana tak terlalu variatif, namun harganya lumayan terjangkau. Bisa loh seratusribu dapat tiga! Lalu sempat hunting di Yogyakarta, di pusat tanaman hias. Terakhir meniatkan hati hunting di daerah Ciapus Tamansari, Bogor. Namun ternyata tutup. Sempat terpikir ke Kebun Raya Bogor, konon ada satu lokasi khusus menjual tanaman. Namun keinginan itu dipatahkan dengan sempurna oleh kemacetan dan hujan deras. Memeng, kalau kata orang Jawa.


Thanks to IG, it works
Ragunan? 
Iya dari Terminal Bus Ragunan masuk ke arah akses GOR Ragunan lalu ambil ke kiri, mengikuti jalan. Di kiri jalan kamu akan menemukan hartakarun!



Tempat apa?
Namanya Taman Anggrek Ragunan. 
Tak meyakinkan? Iya betul. 
Lokasi ini hampir terlewat saking penandanya tertutup tanaman-tanaman. Sedikit kurang terawat. Namun rasa penasaran jauh lebih besar karena eksistensi post terakhir hasil random search IG masih di kisaran bulan Maret-April 2017. Asumsinya, masih buka lah ya. 
Saat masuk ke lokasi parkir, hanya ada sekitar tiga mobil, dan sepi sekali. Iseng tanya ke penjual di depan lokasi, dan disarankan untuk langsung masuk saja. Fyuu-- 
Oya, masuknya gratis.


What a breathtaking view
Iya, katalog ingatan akan tanaman bagus memang masih terbatas seputaran Pulau Jawa, sih. Jadi lihat begini di tengah-tengah ibukota lumayan jadi oase. Duh mak, cantik sekali! Dan anggrek tanah cantik ini pun sukses diboyong ke rumah :) Satu pot dihargai delapanpuluh ribu rupiah. Murah? Mahal? Sudahlah, namanya juga hobi :)






Kalau tak salah sok tahu, ini Bunga Talang (atau Telang?). Beberapa saat lalu sempat ingin sekali beli versi yang sudah dikemas rapi di online-shop. Sempat ingin mengadopsi tanaman ini juga, tapi niat hati tak sedalam itu. Dipandang saja lah.


 Entah ada berapa kavling yang menjual tanaman hias. Yang pasti saat datang kesana hanya ada beberapa kavling yang buka. Tidak jelas juga apakah di hari biasa memang sesepi ini atau tidak. Namun hunting dengan kondisi yang sepi seperti memang lebih kondusif, sih :)















Eyes.





































Nah! Mengincar ini awalnya. Suka sekali dengan bunganya yang cantik dan besar. Next time, mungkin :)










Senang. 
Namun memang bukan hobi saya, sih. Sejak dulu sudah paham kalau memelihara binatang dan tanaman bukan keahlian saya. Menanam bangsa succulent yang gampang saja mati :'( 
Senang, karena pada akhirnya pria datar ini menemukan hobi terkait interaksi dengan non-benda mati. Hahaha. 



Hunting kemana lagi kita?









Minggu, 30 April 2017

Balada Tongkol Balado




Pertemuan keramat.
Iya, dilakukan di malam Jumat, namun bukan membahas sesuatu yang berhubungan dengan laknat.

Aku menyesap wedang beras kencur dengan estetis, sementara dia sibuk bermain kartu.
Aku pengamat yang baik--jika kata itu lebih halus untuk menyebut seorang mata-mata.


**


"Dibayar berapa?"
Aku mengangguk. Menjadi mata-mata bukan hal yang gampang, kan? Maksudku, aku menghabiskan setiap Jumat sore dan terkadang hingga menjelang malam, mengabaikan setumpuk tanggungjawab, hanya demi tugas mengamati dari seorang teman. Sebut saja, Anini.

Anini merengut.
"Nanti, buku biografi bertandatangan biduan Pantura favoritmu itu. Bagaimana?"
Wah, anak ini sungguh petaruh handal. Dengan riang, aku menjabat tangan Anini.


**


"Anini anak yang baik."
"Lalu?"
Sabtu sore kelima. Tubuhku tampaknya lebih bugar, setelah rutin bertandang ke bar jamu kekinian seminggu sekali, hanya demi mengamati subjek intaian Anini. Ro.

"Lalu apa? Ya sudah."
"Dia tampaknya tertarik padamu." aku baru sadar, cassava wedges ala bar ini sungguh menarik. Dengan dicocol sambal Roa apalagi.

Ro menoleh malas, mengamatiku yang asyik dengan kunyahan sepotong besar cassava wedges sang primadona sore itu.

"Aku ceritakan sebuah rahasia, sebenarnya bukan lagi rahasia. Karena ketika satu hal yang disebut rahasia telah dibagikan kepada orang lain, status rahasia-nya telah larut ke bumi--,'
Oke, hasil pengamatan yang lain. Pria ini sanggup mendramatisasi keadaan,
'--dia menyukaimu."
"Siapa?"
"Dia. Anini."


**


Kamu tahu, orang dengan kesedihan mendalam sering disalahartikan sebagai penikmat lagu sendu mendayu-dayu. Faktanya? Penggemar musik dan lagu 'keras', semi hardcore, seringkali adalah pribadi yang paling mampu menyelami emosi. Semakin keras entah lirik dan hentakannya, semakin tersalur himpitan emosi. Apa itu istilah masakininya? Nah, baper. Baper secara anti-mainstream.

Itu Anini.
Mengenalnya sejak kelas dua sekolahdasar. Anini, anak yang kerap di bully rekan-rekannya hanya karena bertubuh kecil, berkulit legam, dan suara ringkih seperti mencicit. Sudah bicara, bukan karena tak bisa berkata. Namun karena rasa percaya dirinya redup entah kemana.

Lalu masa sekolah menengah pertama. Masih sama.
Lalu sekolah menengah atas. Tetap sama.

Karena apa?
Mungkin karena ia hanya memiliki seorang Ibu yang entah berada dimana, sementara Bapaknya menikah lagi dengan pemudi kampung tetangga. Kudengar, Ibunya sangat dikenal di kisaran sepertiga akhir malam, diantara lampu-lampu jalanan dan hingar bingar hiburan.

Peranku?
Sudah kubilang sejak awal. Aku setia menjadi pengamat. Diam saja. Jahat? Aku hanya menjaga jarak. Karena orangtua menjunjung pergaulan terhormat. Rupanya mereka tak tahu, anaknya ini memuja lagu Pantura, meski bukan goyangannya.

"Sudah Jumat kedelapan, Anini. Ayo, mana janjimu, biografi bertandatangan?" kataku di corong telepon. Janji yang diiyakan palsu oleh Anini. Semoga masih terdengar wajar.
"Sore ini. Ketemu dimana?"
"Warung padang biasa saja."
"Oke."


**


Yang aku suka dari warung masakan padang adalah tatanan hidangnya di meja. Seluruh menu lezat sengaja dihidangkan, seakan-akan kamu mampu membayar keseluruhannya dan perut sanggup mencerna.

"Bagaimana dia?" Anini menatapku tajam, ia bahkan tak tertarik dengan tongkol balado yang mencolok indra. Padahal ia suka sekali. Loh, aku tahu? Iya, aku tahu. Aku hapal. Anini penyuka warna pastel. Benci hujan dan lagu dangdut. Kadang minum kopi sachet seribuan tapi lebih sering menyesap minuman liang teh kalengan. Hanya mampu mengitari lapangan tiga kali ketika pelajaran olahraga, dan masih setia mendengar My Chemical Romance sementara dunia sudah terhipnotis EDM. Aku tahu.

Segelas teh manis langsung habis setengah kutenggak.
"Dia--baik."
"Baik?"
"Anini, aku ceritakan sebuah rahasia, sebenarnya bukan lagi rahasia. Karena ketika satu hal yang disebut rahasia telah dibagikan kepada orang lain, status rahasia-nya telah larut ke bumi--,'
"Apa itu?"
"Kenapa harus aku?"


**


Kelak, mungkin akan ada seorang ilmuwan yang mampu menciptakan anestesi untuk perasaan. Karena kadang sentilan di hati rasanya jauh lebih sakit daripada di amputasi.


**


"Terimakasih sudah menjadi pengamat, kamu. Setelah belasan tahun. Sendiri, namun diamati. Tak masalah meski dicaci, selama masih ditunggui. Di kejauhan."
"Tongkol balado, Anini?"
"Aku belum mendapat tandatangan biduan Panturamu."
"Jumat depan, aku ke rumahmu, ya."


**


Ini Jumat sore. Ibukota gerah. Polusi masih mendominasi. Jangankan pelangi, turun hujan saja Alhamdulillah. 


So many
Bright lights, they cast a shadow
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak

Dan entah kenapa, aku jatuh cinta pada wedang beras kencur dan tongkol balado.
















Minggu, 23 April 2017

Darurat Piknik untuk Semua!




Indonesia Darurat Piknik! 



Post di sebuah media online nasional tertanggal tujuhbelas April lalu. Kebetulan dibagikan di sebuah lapak instant messaging di kantor. Dari membaca judulnya saja, saya langsung merefleksikan hal itu ke dalam diri. Jyan.


**


Akhir-akhir ini saya cukup sering mengagendakan trip dadakan, tanpa pertimbangan. Karena toh sekedar killing time dengan strolling around di swalayan saja sudah luarbiasa menyenangkan.

Dan itulah yang terjadi beberapa saat lalu. Ulah impulsif untuk book sebuah tempat menginap di detik terakhir via sebuah aplikasi--Airbnb 
Norak yak. Sungguh. Kali pertama saya menggunakan aplikasi ini. Unik, mengingat yang disewakan adalah kediaman yang personal sekali. Saking personalnya, kamu bahkan bisa menebak-nebak buah manggis, kepribadian ataupun latarbelakang dari si empunya rumah. Fyuuu--kebiasanya observasi anak Psikologi yang suka otomatis muncul :')


**


Selalu ada yang pertama untuk setiap hal. 

Tiga hari terakhir bolak-balik buka web, beberapa aplikasi, googling sana-sini, terutama karena saya sangat picky dalam hal toilet ataupun aspek kebersihan lain. Hingga pada akhirnya saya menetapkan pilihan di sebuah guesthouse yang paling menarik di detik terakhir.  

Saya percaya bahwa jatuh hati pada pandangan pertama adalah esensial, termasuk dalam memilih tempat untuk ditinggali, meski hanya untuk sekian belas jam. Dan mengetahui profil si host--konyolnya--jika bisa, ternyata adalah hal yang tak kalah penting. Cara mengatur dekorasi rumah, attention to detail pada setiap titik, keseharian si host, cara ia berinteraksi dengan setiap orang yang menjadi tamu--sedikit banyak akan mampu memberikan gambaran tentang guesthouse incaran. A good host, a good guesthouse. Thanks to psychology *meh*

Dan karena saya percaya bahwa gambar mewakili ribuan kata, berikut resume hal yang paling menarik bagi mata,




Kenyataan bahwa pemilik rumah ini sangat menyukai tanaman, entah kenapa sangat menenangkan. Ya, hal terakhir yang sungguh dibutuhkan untuk piknik adalah sesuatu yang hijau :)



Aslinya lebih hijau, kok. Maafkan kualitas jepretan yang hanya mengandalkan kamera handphone ala kadarnya :')


An interesting corner


Kinda attention to detail




















Karena kelak yang menemanimu mungkin sama nyamannya dalam keheningan...


...hanya diam tanpa perlu banyak penjelasan. Itu cukup :)






 Iya! Ada raket dan kok untuk bermain bulutangkis! So much fun!








 Yay, what a spacious garden.

Sarang burung. Too cute!




Sudut favorit. Sungguh memaksimalkan cahaya matahari untuk masuk ke dalam rumah, meminimalisasi penggunaan lampu berlebih di siang hari.


 Cukup surprise mendapati host kami kali ini adalah seorang kolumnis--atau travel writer(?)--sangat masuk akal melihat koleksi buku-bukunya yang--duh--menarik sekali! Bahkan adik saya yang mudah bosan bisa rada tenang semalaman demi membaca buku-buku yang ada.








Kesan menggunakan layanan Airbnb? Senang! Apalagi langsung mendapat rumah dengan kriteria favorit : rapi, bersih, wangi, banyak buku, memiliki halaman luas untuk Cupis berlari kesana-kemari. Efek sampingnya adalah Bapak-Ibu bahkan malas keluar rumah saking nyamannya. Padahal niat awal adalah untuk eksplorasi kota Bogor. Hehe. Pun, sifat OCD saya keluar, bukan cuma sekali saya bertanya kepada keluarga,

"Bagus kan ya? Nyaman kan ya?" berkali-kali macam kaset rusak, sekedar untuk memastikan apakah pilihan guesthouse ini sungguh pas.

"Kok dia percaya sekali ya kita tinggal disini, check-out nya pun ndak ketemu." komentar Bapak suatu ketika, sambil sibuk membolak-balik lembar sebuah majalah travelling.

Dan rasanya ini seperti pembenaran dari post saya sebelumnya,
Technology makes stranger, closer.
It makes us--citizen of the world.

Iya, saya norak. Asli. Tapi norak yang sebanding dengan rasa senang dan puas seluruh keluarga :') Karena membahagiakan orang lain mungkin memang sesederhana itu.


**


Pada akhirnya, mengutip kalimat Seno Gumira Ajidarma di bagian akhir post yang tadi saya sebut di awal,

 “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”








Ayo piknik.










*Penasaran untuk book guesthouse keren ini? Klik disini. Host nya super ramah!