Senin, 14 November 2011

HR for Hell (wanna be) Resource

Jujur saja, saya menuliskan ini dengan muka yang saya kondisikan se-flat mungkin. 
Seni menjadi HR adalah, berusaha pada titik netral dengan segala pertentangan diantara atas dan bawah. It's hard, man.
Disini, saya bisa menarik kesimpulan, terlepas dari apakah terlalu prematur atau tidak.

**

Kerjasama tim--hal yang dulu sebatas saya amini di balik buku manajemen tebal--adalah penting. Dan pentingnya mutlak 100%, kalau perusahaan mau maju. Sejak awal duduk di bangku kuliah, belajar menjadi HR adalah belajar bagaimana memfasilitasi dan mengakomodasi kebutuhan kedua belah pihak yang mungkin bersinggungan. 

**

Kerjasama, bukan semata hubungan horisontal. Percuma. Kerjasama, adalah bagaimana atasan mau sama-sama berusaha memikirkan bawahannya secara lebih proper. Tidak hanya berlindung di bawah kenyamanan AC dan kursi kulit yang empuk dan hangat. Apakah bawahan hanya semata mengharapkan gaji besar? Tidak kok. Saya bisa menjamin itu. Gaji, bukanlah hal yang dapat meningkatkan motivasi karena itu lebih mengacu pada hak seorang karyawan seiring dengan upaya yang telah ia keluarkan semaksimal mungkin. Situasi kerja, bagaimana atasan bisa merangkul bawahan, adalah hal yang krusial. Terutama ketika gaji tidak dapat menjadi tolak ukur kepuasan seorang karyawan. Dan HR, adalah posisi strategis yang serba salah diantara dua kepentingan. 

Apakah menjadi HR perlu hati nurani? Idealnya, iya.

Menjadi HR adalah, bagaimana kamu tahu bahwa atasan tidak melulu benar dan perlu diluruskan
Menjadi HR adalah, bagaimana kamu tahu jika bawahan perlu situasi dan kondisi kerja yang mendukung untuk bisa menampilkan performansi terbaiknya
Menjadi HR adalah, ketika karyawan tidak mungkin dapat 'dipuaskan' melalui satu perspektif maka dia harus diarahkan pada perspektif lain
Menjadi HR adalah, menjadi orangtua angkat bagi karyawan meskipun mereka masih menganggapmu sebelah mata entah karena kamu junior ataupun anak kemarin sore
Menjadi HR adalah, ketika kamu bisa berempati pada setiap peran dalam bagian perusahaan dan mengetahui dampak jangka panjangnya
Menjadi HR adalah, bukan semata kamu mendapat nilai sempurna karena bekerja berdasarkan tugas, namun mendapat nilai sempurna dari bawahan karena bekerja berdasarkan nurani

Dan ketika menjadi HR membuatmu bekerja tanpa hati dan hanya karena KPI? Apakah itu layak dibenarkan?





Minggu, 06 November 2011

Different is (still) Different



Perkenalkan. Saya Reni. Saya suka hujan, menyeduh kopi pahit, membaca buku. Jawa tulen dan bercita-cita menaikkan kedua orangtua saya haji.”
“Hei. Aku Robin. Mulai detik ini aku akan memandu kamu selama dua minggu ke depan. Kapan-kapan kamu harus mampir ke dekat gerejaku, ada spot menarik yang bisa dijadikan spot kegiatan photo shoot kita."

**

“Ah ya, yang namanya berbeda ya tetap bakal berbeda. Sampai mati perbedaan itu mutlak. Dan pasti mengundang masalah.”
“Kamu picik, ya, Re.”
“Nggak. Rasanya sama pahit seperti ketika kamu menelan obat cina. Hanya saja, efeknya berkebalikan. Pahit pada akhirnya.”
“Dan kalau aku tetap berkata aku sayang kamu?”
It isn’t workin’.”

**

Ko, apa yang menjadi dasar sebuah hubungan?”
“Banyak. Memangnya kenapa?”
“Tampaknya aku jatuh cinta.”
“Pastikan dia sama seperti kita, Ro. Kamu pasti tak ingin seperti Cici.”
“Apakah memang semata hanya kata ‘sama’ yang menjadi dasar dari semua hubungan, Ko? Aku pikir manusialah yang menciptakan kata ‘sama’ untuk memukul rata perbedaan itu sendiri? Menjadi kotak-kotak seperti itu?”
“Tak sesederhana itu, Ro. Tak sesederhana itu.”

**

Bibit, bebet, bobot. Ibu ndak mau kamu punya pasangan aneh-aneh, Nduk. Cukup bibit, bebet, bobot.”
“Ro—“
“Ibu ndak melarang kamu berteman dengan Ro. Tapi sebatas itu saja, Nduk. Kamu kayak ndak tau Bapak mu saja. Mau apa kamu jadi gosip pas arisan trah?”
“Ibu—sebelum sama Bapak, Ibu pernah jatuh cinta dengan orang lain?”
“Pernah, Nduk.”
“Ibu nggak melanjutkan hubungan itu?”
Eyangmu ndak setuju… pacar Ibu dulu cuma lulusan SMP.”
“Tapi Ibu cinta?”
“…cinta. Tapi—“
“Ibu sayang?”
“…iya Nduk. Tapi itu dulu—“
“Bu, maaf Re lancang. Tapi-tapi itu, Ibu mengabaikan semuanya hanya karena dia lulusan SMP—karena Eyang? Padahal entah kapan takdir mungkin menjadikan pacar Ibu dulu sebagai atasan Bapak.”
“Itu berbeda, Nduk. Tolong. Jangan Ro. Tidak sesederhana itu. Perbedaannya terlalu jauh. Tidak sama.”



**

“Kita kawin lari saja, Re.”
“Kamu gila.”
“Aku nggak gila. Aku masih punya cukup logika untuk sekedar berpikir. Aku, dan kamu berbeda. Beda etnis. Beda agama. Beda budaya. Perbedaan signifikan yang sialnya memang ada sejak awal sebagai benteng. Dan masing-masing Tuhan kita yang mungkin sedang ‘iseng’ menuntun kita untuk bertemu seperti ini pada awalnya.”
“Dan aku harus mundur, sejauh ini. Setelah semua ini?”
“Aku bingung. Kamu tahu posisiku.”
“Dan tolong pertimbangan juga posisiku. Posisi hatiku yang menjadi tak karuan sejak kamu datang pertama kali.”
“…”
“Re…?”
“Aku tidak bisa. Kita—tetap berbeda.”
“…”
“Ro?”
“Aku berharap reinkarnasi dan masa depan setelah kematian itu ada, Re.”