Sabtu, 14 Mei 2011

View from the Top



 

Nemu jepretan ngasal ini.  Tertanggal 4 Juni 2009. Lokasinya itu (kalau nggak salah inget) helipad atau semacam tempat paralayang di daerah (pantai?) Parangndog—timur Pantai Parangtritis, menjelang sunset, pukul 5an sore

Waktu itu saya 'diculik' salah seorang teman saya kesini, gara-gara nunggu temen lain yang lama banget sampai Parangtritis. Lima menit pertama saya sih senang-senang saja bakal diajak ke tempat baru. Tapi menjelang beberapa menit kemudian, seiring jalan yang kian kalap, saya mulai deg-degan. 


“Kita mau kemana yaa??” (suara rada ngambang, tertelan suara roda bertimpaan batu-batuan lumayan terjal)

“Ntar kamu tau deh. Seru banget pokoknya…”


Saya mendadak bodoh, seharusnya kami merumuskan definisi ‘seru’ dahulu sebelumnya…

Agak syok sama jalannya yang nanjak parah—saya berusaha menikmati perjalanan—hei, saya menikmatinya kok! Dengan setengah hati gara-gara serem sama jalannya. Teman saya yang mengaku Mapala itu berjuang menaklukkan medan. Meski dia bilang sudah berkali-kali ke sana, tetap saja saya komat-kamit baca doa apapun sambil sibuk berpegangan kesana-kemari. Akhirnya kami sampai di dataran yang lumayan ‘rata’, ada sebuah pondokan disana…semacam warung kopi atau apalah. Kata teman saya lagi, warung itu sih langganannya anak-anak Mapala. Saya sih, cuma angguk-angguk saja. Memangnya apalagi yang bisa saya lakukan pasca deg-degan naik turun jalan terjal??
Sejauh itu saya masih celingukan. Apa yang menarik dari pondokan yang dikelilingi bukit yang (pada waktu itu) rada gersang, dan bebatuan kapur (?) ? Bagi yang merasa pecinta alam, maaf...keindahan alam mungkin belum tereksplorasi betul oleh mata saya. Apalagi saat itu sepi sekali (termasuk di pondok/warung yang kata teman saya biasanya ramai). Sampai kemudian teman saya tadi mengajak saya 'naik'. Olalala...

...ternyata saya masih kudu membabat semak ringan, menaiki jalan setapak bertingkat dari semacam semen bertangga yang lumayan tinggi dan jauh, lengkap sempurna, dengan sandal jepit nyaris putus (secara niat saya, teman saya, dan teman-teman saya yang pada telat itu memang semata hendak sunsetan di Depok, bukannya manjat semi tebing begini). Huah. Ngos-ngosan saya—antara berusaha berjalan agar tak terpleset, agar sandal tak putus, dan mengimbangi teman saya yang dengan culasnya telah menghilang diantara bebukitan semak.


“Masih jauh nggak sih???” saya bertanya tepat di titik akhir napas saya. Huhu.

“Tinggal dikit lagi. Buruan!” duh, pengen saya timpuk deh teman saya itu pakai bebatuan tebing.


Dan… sampailah saya. Di sebuah dataran rata, tampaknya memang di-semen membentuk dataran artificial. Cukup luas. Dan sepi. Hanya ada, umm… sepasang kekasih (tebakan saya, melihat gesture tubuh mereka)—wanita bule, dan seorang pria macam persilangan surfer dan seniman Malioboro : hitam, tampak eksotis? (dengan paparan sinar matahari sore), rambut panjang mengarah keriting (atau gimbal??), lengkap dengan atribut gelang—saya lupa.

Aslinya berlipat-lipat keren deh. 
Tapi gara-gara nggak ada kamera oke, cuma terabadikan segini doang... 




Duh, maaf deh ya. Sebenarnya view-nya oke dari sudut ini. 
Tapi temen saya pake ikut nampang :( 


Takjub saya menikmati lautan lepas dengan cara berbeda, dari ketinggian beberapa ratus meter (atau ribuan? Duh, entahlah…). Cuaca yang luarbiasa indah, terang, cerah, tanpa interupsi awan mendung. Sementara di bawah sana, ombak bergulung-gulung dengan begitu teratur. Sempurna, namun tidak berlebihan. Mungkin ada setengah jam kami disana, dan akhirnya justru kami berdua yang terlambat janjian dengan teman-teman. Hahaha. Tapi sumpah deh, keindahan yang tertangkap mata saya ataupun kamera telepon selular saya sangat bersahaja di sore itu :)


(masih sempat) mengejar matahari... 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar