Rabu, 11 Mei 2011

Cinta Pertamaku Bernama Buku


Waktu kecil, saya menghabiskan hari saya dengan merengek-rengek minta jatah buku tiap kali berhasil ranking satu. Cukup ranking satu, karena kalau tidak saya akan ngelunjak. Saat itu, ranking satu saya seharga dengan delapan buku (maruk kali saya). Saya ingat betul, waktu itu saya minta beberapa komik—beberapa serial cantik—dan beberapa seri serial Lima Sekawan. Orangtua saya tahu betul betapa saya suka membaca, apapun itu. Tapi mereka heran, kenapa saya tidak tertarik membaca buku pelajaran. Satu-satunya alasan saya membuka buku pelajaran, adalah gara-gara saya ingin mendapatkan buku baru—dengan cara menjadi ranking satu. Maklum, jaman saya SD dulu uang sangu saya minim sekali. Hanya bisa untuk naik bis, dan membeli cemilan, dan gorengan. Parah deh. Meski kisaran komik masih sangat murah pada jaman itu (hanya 3.800 rupiah), dan rata-rata novel seharga 10.000 hingga 15.000 rupiah, tetap saja uang saku saya masih kurang—apalagi mengingat ketidakmampuan saya untuk tidak gelap mata demi melihat tumpukan buku di Gr*media.


sejumlah buku pertama saya yang masih saya ingat


            Tapi yang namanya anak kecil—jangankan anak kecil, sih, sekarang juga sama saja—disuruh belajar terus pasti bosan setengah mampus. Jadilah saya, dengan nakalnya menyelipkan seri Lima Sekawan atau komik Doraemon diantara buku pelajaran Bahasa Indonesia saya yang tebal. Pura-pura kusyuk membaca, padahal dalam hati cekikian membaca dialog Dick dan George. Jangan sampai ketahuan, karena koleksi tersayang saya akan disita selama beberapa hari.

            Ngomong-ngomong soal buku pertama termahal saya ketika kecil, Harry Potter adalah buku termahal pertama yang saya miliki. Dimulai dari Harry Potter #1. Seingat saya, saya memiliki novel tersebut saat saya duduk di tingkat-tingkat akhir masa sekolah dasar. Dengan semangat ’45 saya menabung uang jajan setiap hari. Saya jatuh cinta pada pemikiran fiksi fantasi J.K. Rowling yang sangat detail. Terasa pas, dan fenomenal dalam pemikiran kanak-kanak saya. Novel pertama Rowling mendorong saya untuk giat menabung, demi sekuel berikutnya. Payahnya, saya tak bisa cukup puas hanya sekedar meminjam novel yang saya incar. Termasuk ketika seorang teman telah berhasil memiliki Harry Potter #4, sementara saya belum. Saya meminjamnya tepat di musim ujian—hal yang sangat bertentangan dengan keinginan orangtua saya agar saya belajar—demi memuaskan rasa penasaran saya. Saat itu, tiap beberapa saat sekali orangtua saya dengan setia mengecek ke kamar saya, apakah putrinya yang bandel benar-benar belajar. Tentu saja tidak! Mana mungkin saya membaca paragraph demi paragraph ilmu pengetahuan alam, sementara nyawa Harry sedang diujung tanduk Voldemort?! HELL NO! Jadilah saya—duh, maafkan anakmu ini Pak, Bu—menyelipkan novel penggoda itu di bawah tempat tidur, beralaskan selembar kertas agar tak lecek atau tergores. Ketika orangtua saya lengah dan tak mengecek saya, maka saya berasyik-masyuk dengan halaman demi halaman novel itu. Sebaliknya, begitu ada indikasi bunyi kenop pintu dibuka, maka saya kembali berpura-pura tenggelam berkerut-merut memahami setiap penjelasan dari buku pelajaran. Jangan salahkan saya, godaan untuk membaca ternyata begitu besar! Dan, meski saya sudah membacanya, saya tetap berhasrat tinggi untuk membelinya. Duh…

Sekarang? Sama saja. Membaca adalah pelarian terbaik untuk kembali menemukan diri saya yang suka tenggelam dalam dunia fana ini (halah). Dan tetap saja, orangtua saya masih saja heran dengan hobi saya menguras tabungan atau gaji saya demi buku-buku yang berserakan. Yah, bagaimana lagi? Belanja buku bagi saya bukan lagi untuk gaya-gayaan, tapi sama urjennya seperti membeli celana dalam ataupun bahan pangan.



2 komentar:

  1. ad buku mnarik slain novel??

    BalasHapus
  2. Yeah!!! Hidup Buku!!! (^o^)/
    Pengen beli buku lagi nih jadinya.. Tapi lagi miskin.. :(

    BalasHapus