Tampilkan postingan dengan label Book. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Book. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 April 2017

Darurat Piknik untuk Semua!




Indonesia Darurat Piknik! 



Post di sebuah media online nasional tertanggal tujuhbelas April lalu. Kebetulan dibagikan di sebuah lapak instant messaging di kantor. Dari membaca judulnya saja, saya langsung merefleksikan hal itu ke dalam diri. Jyan.


**


Akhir-akhir ini saya cukup sering mengagendakan trip dadakan, tanpa pertimbangan. Karena toh sekedar killing time dengan strolling around di swalayan saja sudah luarbiasa menyenangkan.

Dan itulah yang terjadi beberapa saat lalu. Ulah impulsif untuk book sebuah tempat menginap di detik terakhir via sebuah aplikasi--Airbnb 
Norak yak. Sungguh. Kali pertama saya menggunakan aplikasi ini. Unik, mengingat yang disewakan adalah kediaman yang personal sekali. Saking personalnya, kamu bahkan bisa menebak-nebak buah manggis, kepribadian ataupun latarbelakang dari si empunya rumah. Fyuuu--kebiasanya observasi anak Psikologi yang suka otomatis muncul :')


**


Selalu ada yang pertama untuk setiap hal. 

Tiga hari terakhir bolak-balik buka web, beberapa aplikasi, googling sana-sini, terutama karena saya sangat picky dalam hal toilet ataupun aspek kebersihan lain. Hingga pada akhirnya saya menetapkan pilihan di sebuah guesthouse yang paling menarik di detik terakhir.  

Saya percaya bahwa jatuh hati pada pandangan pertama adalah esensial, termasuk dalam memilih tempat untuk ditinggali, meski hanya untuk sekian belas jam. Dan mengetahui profil si host--konyolnya--jika bisa, ternyata adalah hal yang tak kalah penting. Cara mengatur dekorasi rumah, attention to detail pada setiap titik, keseharian si host, cara ia berinteraksi dengan setiap orang yang menjadi tamu--sedikit banyak akan mampu memberikan gambaran tentang guesthouse incaran. A good host, a good guesthouse. Thanks to psychology *meh*

Dan karena saya percaya bahwa gambar mewakili ribuan kata, berikut resume hal yang paling menarik bagi mata,




Kenyataan bahwa pemilik rumah ini sangat menyukai tanaman, entah kenapa sangat menenangkan. Ya, hal terakhir yang sungguh dibutuhkan untuk piknik adalah sesuatu yang hijau :)



Aslinya lebih hijau, kok. Maafkan kualitas jepretan yang hanya mengandalkan kamera handphone ala kadarnya :')


An interesting corner


Kinda attention to detail




















Karena kelak yang menemanimu mungkin sama nyamannya dalam keheningan...


...hanya diam tanpa perlu banyak penjelasan. Itu cukup :)






 Iya! Ada raket dan kok untuk bermain bulutangkis! So much fun!








 Yay, what a spacious garden.

Sarang burung. Too cute!




Sudut favorit. Sungguh memaksimalkan cahaya matahari untuk masuk ke dalam rumah, meminimalisasi penggunaan lampu berlebih di siang hari.


 Cukup surprise mendapati host kami kali ini adalah seorang kolumnis--atau travel writer(?)--sangat masuk akal melihat koleksi buku-bukunya yang--duh--menarik sekali! Bahkan adik saya yang mudah bosan bisa rada tenang semalaman demi membaca buku-buku yang ada.








Kesan menggunakan layanan Airbnb? Senang! Apalagi langsung mendapat rumah dengan kriteria favorit : rapi, bersih, wangi, banyak buku, memiliki halaman luas untuk Cupis berlari kesana-kemari. Efek sampingnya adalah Bapak-Ibu bahkan malas keluar rumah saking nyamannya. Padahal niat awal adalah untuk eksplorasi kota Bogor. Hehe. Pun, sifat OCD saya keluar, bukan cuma sekali saya bertanya kepada keluarga,

"Bagus kan ya? Nyaman kan ya?" berkali-kali macam kaset rusak, sekedar untuk memastikan apakah pilihan guesthouse ini sungguh pas.

"Kok dia percaya sekali ya kita tinggal disini, check-out nya pun ndak ketemu." komentar Bapak suatu ketika, sambil sibuk membolak-balik lembar sebuah majalah travelling.

Dan rasanya ini seperti pembenaran dari post saya sebelumnya,
Technology makes stranger, closer.
It makes us--citizen of the world.

Iya, saya norak. Asli. Tapi norak yang sebanding dengan rasa senang dan puas seluruh keluarga :') Karena membahagiakan orang lain mungkin memang sesederhana itu.


**


Pada akhirnya, mengutip kalimat Seno Gumira Ajidarma di bagian akhir post yang tadi saya sebut di awal,

 “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”








Ayo piknik.










*Penasaran untuk book guesthouse keren ini? Klik disini. Host nya super ramah!























Jumat, 01 Februari 2013

NOKTURNAL



Yay. NOKTURNAL.






Buku keroyokan kedua. Lagi lagi sama Lulabi. Kali ini sama beberapa rekan baru :)
Hahay.


Minat?
Harganya 35 ribu rupiah. Mahal ya? Memang. Jika masih nekat mau pesan silakan hubungi rekan saya Lulabi di imajinasikolektif@gmail.com atau 08562554565.

Enjoy, peeps!




Rabu, 11 Mei 2011

Cinta Pertamaku Bernama Buku


Waktu kecil, saya menghabiskan hari saya dengan merengek-rengek minta jatah buku tiap kali berhasil ranking satu. Cukup ranking satu, karena kalau tidak saya akan ngelunjak. Saat itu, ranking satu saya seharga dengan delapan buku (maruk kali saya). Saya ingat betul, waktu itu saya minta beberapa komik—beberapa serial cantik—dan beberapa seri serial Lima Sekawan. Orangtua saya tahu betul betapa saya suka membaca, apapun itu. Tapi mereka heran, kenapa saya tidak tertarik membaca buku pelajaran. Satu-satunya alasan saya membuka buku pelajaran, adalah gara-gara saya ingin mendapatkan buku baru—dengan cara menjadi ranking satu. Maklum, jaman saya SD dulu uang sangu saya minim sekali. Hanya bisa untuk naik bis, dan membeli cemilan, dan gorengan. Parah deh. Meski kisaran komik masih sangat murah pada jaman itu (hanya 3.800 rupiah), dan rata-rata novel seharga 10.000 hingga 15.000 rupiah, tetap saja uang saku saya masih kurang—apalagi mengingat ketidakmampuan saya untuk tidak gelap mata demi melihat tumpukan buku di Gr*media.


sejumlah buku pertama saya yang masih saya ingat


            Tapi yang namanya anak kecil—jangankan anak kecil, sih, sekarang juga sama saja—disuruh belajar terus pasti bosan setengah mampus. Jadilah saya, dengan nakalnya menyelipkan seri Lima Sekawan atau komik Doraemon diantara buku pelajaran Bahasa Indonesia saya yang tebal. Pura-pura kusyuk membaca, padahal dalam hati cekikian membaca dialog Dick dan George. Jangan sampai ketahuan, karena koleksi tersayang saya akan disita selama beberapa hari.

            Ngomong-ngomong soal buku pertama termahal saya ketika kecil, Harry Potter adalah buku termahal pertama yang saya miliki. Dimulai dari Harry Potter #1. Seingat saya, saya memiliki novel tersebut saat saya duduk di tingkat-tingkat akhir masa sekolah dasar. Dengan semangat ’45 saya menabung uang jajan setiap hari. Saya jatuh cinta pada pemikiran fiksi fantasi J.K. Rowling yang sangat detail. Terasa pas, dan fenomenal dalam pemikiran kanak-kanak saya. Novel pertama Rowling mendorong saya untuk giat menabung, demi sekuel berikutnya. Payahnya, saya tak bisa cukup puas hanya sekedar meminjam novel yang saya incar. Termasuk ketika seorang teman telah berhasil memiliki Harry Potter #4, sementara saya belum. Saya meminjamnya tepat di musim ujian—hal yang sangat bertentangan dengan keinginan orangtua saya agar saya belajar—demi memuaskan rasa penasaran saya. Saat itu, tiap beberapa saat sekali orangtua saya dengan setia mengecek ke kamar saya, apakah putrinya yang bandel benar-benar belajar. Tentu saja tidak! Mana mungkin saya membaca paragraph demi paragraph ilmu pengetahuan alam, sementara nyawa Harry sedang diujung tanduk Voldemort?! HELL NO! Jadilah saya—duh, maafkan anakmu ini Pak, Bu—menyelipkan novel penggoda itu di bawah tempat tidur, beralaskan selembar kertas agar tak lecek atau tergores. Ketika orangtua saya lengah dan tak mengecek saya, maka saya berasyik-masyuk dengan halaman demi halaman novel itu. Sebaliknya, begitu ada indikasi bunyi kenop pintu dibuka, maka saya kembali berpura-pura tenggelam berkerut-merut memahami setiap penjelasan dari buku pelajaran. Jangan salahkan saya, godaan untuk membaca ternyata begitu besar! Dan, meski saya sudah membacanya, saya tetap berhasrat tinggi untuk membelinya. Duh…

Sekarang? Sama saja. Membaca adalah pelarian terbaik untuk kembali menemukan diri saya yang suka tenggelam dalam dunia fana ini (halah). Dan tetap saja, orangtua saya masih saja heran dengan hobi saya menguras tabungan atau gaji saya demi buku-buku yang berserakan. Yah, bagaimana lagi? Belanja buku bagi saya bukan lagi untuk gaya-gayaan, tapi sama urjennya seperti membeli celana dalam ataupun bahan pangan.



Rabu, 27 April 2011

Kepuasan yang paling eksistensial




Kenapa saya cukup freak dengan buku? Entah.


Baru saja, saya mencapai kesepakatan dengan sebuah toko buku bekas online, tentang sebuah novel yang saya cari. The Namesake.

Menilik obsesi saya terhadap buku tersebut, pasti semua orang berpikir bahwa saya tahu ceritanya. Jawabannya : tidak. Saya hanya tahu tentang buku itu dari katalog Grame*ia beberapa tahun lalu. Saya tertarik, namun selalu lupa untuk menjadikannya prioritas dalam belanjaan saya berikutnya. Sampai akhirnya saya merasa benar-benar harus memilikinya, bertahun-tahun kemudian, dan ternyata pihak Grame*ia tidak menerbitkannya lagi :(  saya patah hati. Plus saya baru tahu novel itu meraih penghargaan Pulitzer Prize dan menjadi The New York Time Bestseller. Betapa kian mupeng saya :(

Jujur, saya bahkan tak hapal nama tokohnya, hanya hapal tokoh sentranya, Gogol. Dengan setting India-Amerika, dengan pergulatan masalah nama. Titik. Tapi saya merasa, saya akan amat sangat senang dan puas ketika saya berhasil memiliki bukunya. Memiliki. Bukan meminjamnya dari rental atau teman.
 

Kepuasan yang aneh? Biar.
  

Kepuasan sederhana saya itu--memiliki dan mengoleksi buku-buku yang mungkin tidak cerdas atau fantastis--sama halnya dengan seseorang yang berhasil mengutak-atik fitur yang ada dalam smartphone-nya hingga mengabaikan ujian, sama halnya dengan seseorang yang membuang-buang uang dan bahan demi eksperimen memasak kue yang gagal terus menerus, sama halnya dengan orang yang memilih merakit sepeda tanpa rem dengan warna-warni bak pelangi…

welcoming the next lovely book in my cabinet ...
  




Setiap orang memiliki titik dan bentuk kepuasan terhadap berbagai hal masing-masing, kan? Meskipun orang lain menganggap kepuasan kita sangat tidak jelas eksistensinya, toh kita puas.

Kepuasan saya mengoleksi buku, sama halnya dengan kepuasan saya dalam menulis. Saya suka menulis. Bukan buat pamer, karena tulisan saya juga sangat abal-abal dan tidak sekeren Fira Basuki atau Dee atau Pramoedya, kok. Saya suka menulis, karena saya menemukan diri saya yang paling jujur disini. Saya suka menulis, karena setelah semua hal yang tidak bisa saya lakukan, tidak bisa saya kendalikan, tidak mampu saya dapatkan, saya bisa tahu dengan pasti bahwa huruf demi huruf akan menjelma menjadi paragraph, dan paragraph akan berubah menjadi beberapa larik alinea. Dan kalau beruntung, ada yang membaca tulisan saya yang tak bermutu ini, memberikan feedback pada saya kelak, dan saya terharu, ada yang sudi membaca tulisan saya. Hehehe. Padahal bahkan mungkin mereka tak benar-benar mengenal saya :)

Saya bisa tahu dengan pasti, apapun mood saya di suatu hari, saya akan lega setelah menuliskannya. So, ini bukan masalah berapa banyak saya menulis, topik apa yang saya kemukakan, berapa komentar yang saya harapkan, atau apapun. Saya hanya ingin menulis karena saya merasa menemukan ruang autis pribadi saya. Itu saja.


Seperti penggalan dialog dalam film Julie & Julia,


“You know why I love about cooking?”

“What’s that?”

“I love then after the day when nothing is sure, and when I say nothing--i mean nothing--you can come home, and absolutely know there if you add egg yolks to chocolate, and sugar, and milk… It would get thick. It such a comfort.”


            Karena menulis itu, adalah mood kita yang sangat personal :)

           

Sabtu, 23 April 2011

Kronik Betawi







"Konon, buaya adalah binatang yang setia. Tak seperti merpati. Buaya hanya hidup dengan satu pasangan seumur hidupnya, sedang merpati jika pasangannya pergi, bisa mencari pasangan lain. Entah kenapa dua jenis binatang ini diartikan terbalik. Sebutan buaya darat untuk laki-laki berhidung belang yang doyan cari perempuan. Sedang merpati selalu dilambangkan kesetiaan dengan ungkapan 'merpati tak pernah ingkar janji'. "

"Heran, orang-orang itu bela-belain datang jauh-jauh ke Jakarta cuma buat hidup berhimpit-himpitan. Apa betul hijrah ke Jakarta itu sama dengan memperbaiki nasib? Apa tidak sama susahnya dengan tinggal di kampung asal atau malah lebih susah?" 

"Saya yakin, kalau semua penduduk Jakarta pendatang dijejer di Jalan Sudirman, pasti mirip ikan sardin. Mepet-mepet."

 "Kebayakan orang Jakarta sekarang pada kurang paham, kalau Menteng itu nama buah, Bintaro itu nama pohon dan Kebon Jeruk, memang dulu di sana ada hamparan tanaman yang benar-benar jeruk buahnya. Para pendatang agaknya hanya kenal nama-nama itu sebagai kawasan gedongan."

--Ratih Kumala-- 






"

Jumat, 17 Desember 2010

Judge A Book by Its Cover



Saya setuju bahwa mata adalah sumber segala bentuk permasalahan di muka bumi ini. Bukannya menggeneralisasi, ataupun terlalu psikologis. Namun fakta yang saya temui adalah sebagian besar waktu dan tenaga dan biaya habis demi memuaskan pantulan yang ditangkap mata dan meracuni pikiran serta hati. Oke, indera lain juga berkontribusi sih. Tapi mata tetap jawaranya. Hehe. 

Beberapa teman saya tergolong cukup konsumtif, entah itu untuk celana model baru (yang ironisnya selalu berulang berpuluh tahun kemudian), atau tumpukan buku (saya!),bahkan mencicipi menu di salah satu franchise donat terkemuka. Dan, dari mana kita mendapat keyakinan bahwa celana A tampak tepat untuk dibeli, atau sebuah buku tampak sangat mengesankan untuk dimiliki, atau kenapa fast food itu tampak sangat memukau?

Kebiasaan terburuk saya adalah selalu terjebak dalam sebuah pameran atau toko buku. Dua tempat itu adalah favorit saya dalam melarikan diri. Dan mata sangat berperan disini. Selain aroma yang khas (entah aroma lapuk atau kamfer) sebagai feromon yang tak bisa saya hindari, cover sebuah buku adalah hal krusial yang kerapkali menjebak saya untuk memboroskan cadangan financial saya. Beberapa kali saya merasa tertipu membeli sebuah buku yang tampak mahadahsyat (dari sampulnya, dan… terkadang resensinya). Tapi untungnya saya tak pernah terlalu menyesali kenapa membeli buku dengan warna oranya ngejreng—sebuah buku setebal 320 karangan Richard Brodie (yang baru saya ketahui bahwa buku tersebut adalah favorit Dewi Lestari, jelaslah saya tidak terlalu kecewa :p) yang dijual hanya 10.000 rupiah saja. Buku lain yang menjadi sasaran tebak-tebak berhadiah adalah buku sains popular berjudul Murphy’s Law. 






terjebak 'hanya' karena ini?? Absolutely yes



versi aseli nya... simpel :)





Jujur, saya bahkan menggadaikan niat saya untuk membeli Traveler’s Tale demi buku itu. Tentunya buku itu harus cukup berharga, bukan?

Awalnya saya menyesal. Beberapa halaman pembukanya membuat saya bosan setengah mati karena membahas psikologi umum, yah… saya bukanlah fans setiap sesuatu bernama persepsi dan kedalaman—hal yang wajib dibahas dalam ilmu psikologi itu. Tapi karena saya merasa harus bertanggungjawab atas buku aneh ini, saya memutuskan untuk membacanya. Dan buku ini memang konyol tapi ilmiah. Tanpa bermaksud menghibur diri saya sendiri,tapi kebodohan saya mengutuk benda-benda mati sebagai kambing hitam menjadi rada reasonable :p


Akhir-akhir ini saya sangat jarang menata kembali buku-buku yang saya gunakan untuk menyelesaikan tugas akhir saya. Hingga suatu ketika saya pasti repot sendiri mencari sebuah buku tebal bersampul biru diantara tumpukan dalam kondisi terburu-buru. Dan sialnya buku tersebut tetap tak nongol. Hingga adik saya pun bertanya,

“Nggak ada disitu mungkin Mbak…” demi melihat saya berkali-kali mengacak-acak tempat yang sama.

Tapi dasar ngeyel, saya tetap saja mencari di tempat yang sama. Entah setelah melewati kelelahan dan sebagainya dan entah keajaiban alam atau apa… voila! Buku itu terletak disana, masih disana padahal saya yakin sudah menelusuri dengan teliti tumpukan buku itu.

Dan, kenapa?

Ketika saya mencari buku yang saya maksud, rupanya saya tak melihat dengan benar karena saya mengambil shortcut ingatan mengenai si buku biru : buku berwarna biru. Titik. Dengan demikian saya cenderung akan memindai seluruh ruangan dan mencari ‘alien’ tersebut sesuai shortcut yang saya miliki tadi. Dan ketika saya terburu-buru maka daerah pindaian pun menjadi lebih sempit, dengan memusatkan perhatian pada shortcut tadi tanpa melihat rincian lain. Hal itu tentu menjadi masalah, karena rupanya saya melupakan kenyataan bahwa si buku biru tertinggal tempo hari dalam keadaan terbalik dan warna biru itu tak terlihat, dan bodohnya saya memang yakin buku itu masih berada di tempat yang sama.

Dalam buku ini, saya jadi menertawakan kenaifan saya : kenapa sih seisi alam semesta selalu berkonspirasi ketika saya sedang dikejar tenggat waktu?? (Terlepas dari asumsi Law of Attraction dan The Secret, tentu) padahal tentu dan selalu ada alasan rasional dibalik itu.

Saya bukan penikmat buku berat, dan saya merekomendasikan buku ini. Terutama, saya sangat menyukai quote yang banyak bertebaran di setiap halaman. Beberapa yang saya kutip : 


Hidup hanya bisa dipahami bila kita melihat kebelakang, dan hanya bisa dijalani bila kita melihat ke depan (Soren Kierkegaard)

Semua yang anda suka adalah illegal, immoral, atau menggemukkan (Alexander Woollcott)




... dan favorit saya...


Ornag tidak bermaksud melontarkan yang mereka ucapkan, tidak juga mengicapkan apa yang mereka maksudkan



Sekali dua kali, salah beli buku gara-gara artistik dan permainan kata yang memikat mata sah-sah saja,ah!