Tampilkan postingan dengan label short story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label short story. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 November 2017

Namaste.




Menjadi soliter itu menenangkan. Karena kamu tak harus memasang tampang penuh minat pada siapapun. Atau sekedar ikut arus menanggapi sebuah chat basa-basi di sebuah grup instant messaging.

Iya, mungkin masa-masa penuh pencitraan itu sudah hilang. Digantikan hasrat yang begitu besar untuk menyendiri, merefleksikan yang telah dijalani.

"Capek?"
"Iya."
"Mau nonton? Ada film box office baru besok."
"Tidak. Pasti ramai."
"Mau martabak mesir?"
Aku menggeleng.
Lalu kamu beranjak.
Dan aku patah hati, bahkan kamupun tak sanggup menemani kesunyian ini.


City of stars
Are you shining just for me?
City of stars
There's so much that I can't see
Who knows?
I felt it from the first embrace I shared with you


"Ini."
Asap-asap mengepul begitu kejam, berusaha mendesak gumpalan lamunan yang sedang berusaha kunikmati. Sungguh, melamun itu begitu hakiki.
Segelas teh tawar panas, ditemani semangkuk mie dokdok mirip abang burjo. Dengan toping ekstra irisan rawit merah menganga.
"Nanti kamu pasti lapar. Aku di depan, kalau-kalau kamu perlu sesuatu." mengacak-acak rambutku dengan tidak sopan, lalu beranjak.

Mie dokdok ini sungguh menggoda. Aku bahkan tak tahan melihat kuah kental kecoklatan yang super gurih. Enggan karena rasa gengsi yang tinggi, namun toh tanganku meraihnya diam-diam.

Asin.
Rupanya air mataku yang menambahkan citarasa.


**


Sungguh aku menyukai sunyi. Sunyi yang tenang.  

A look in somebody's eyes
to light up the skies
to open the world and send it reeling

Duduk diam menonton serial televisi yang sengaja dibiarkan menyala, atau duduk di atas lantai dingin beralaskan rug kelabu, berselimut kain usang sembari menjelajah lembar demi lembar buku favorit.

Bisa saja kamu hanya menyimak semua keheningan tanpa banyak pertanyaan dan permintaan. Hanya duduk, turut merayakan diam. Bisa saja.

a voice that says, I'll be here
and you'll be alright

 
 

Minggu, 30 April 2017

Balada Tongkol Balado




Pertemuan keramat.
Iya, dilakukan di malam Jumat, namun bukan membahas sesuatu yang berhubungan dengan laknat.

Aku menyesap wedang beras kencur dengan estetis, sementara dia sibuk bermain kartu.
Aku pengamat yang baik--jika kata itu lebih halus untuk menyebut seorang mata-mata.


**


"Dibayar berapa?"
Aku mengangguk. Menjadi mata-mata bukan hal yang gampang, kan? Maksudku, aku menghabiskan setiap Jumat sore dan terkadang hingga menjelang malam, mengabaikan setumpuk tanggungjawab, hanya demi tugas mengamati dari seorang teman. Sebut saja, Anini.

Anini merengut.
"Nanti, buku biografi bertandatangan biduan Pantura favoritmu itu. Bagaimana?"
Wah, anak ini sungguh petaruh handal. Dengan riang, aku menjabat tangan Anini.


**


"Anini anak yang baik."
"Lalu?"
Sabtu sore kelima. Tubuhku tampaknya lebih bugar, setelah rutin bertandang ke bar jamu kekinian seminggu sekali, hanya demi mengamati subjek intaian Anini. Ro.

"Lalu apa? Ya sudah."
"Dia tampaknya tertarik padamu." aku baru sadar, cassava wedges ala bar ini sungguh menarik. Dengan dicocol sambal Roa apalagi.

Ro menoleh malas, mengamatiku yang asyik dengan kunyahan sepotong besar cassava wedges sang primadona sore itu.

"Aku ceritakan sebuah rahasia, sebenarnya bukan lagi rahasia. Karena ketika satu hal yang disebut rahasia telah dibagikan kepada orang lain, status rahasia-nya telah larut ke bumi--,'
Oke, hasil pengamatan yang lain. Pria ini sanggup mendramatisasi keadaan,
'--dia menyukaimu."
"Siapa?"
"Dia. Anini."


**


Kamu tahu, orang dengan kesedihan mendalam sering disalahartikan sebagai penikmat lagu sendu mendayu-dayu. Faktanya? Penggemar musik dan lagu 'keras', semi hardcore, seringkali adalah pribadi yang paling mampu menyelami emosi. Semakin keras entah lirik dan hentakannya, semakin tersalur himpitan emosi. Apa itu istilah masakininya? Nah, baper. Baper secara anti-mainstream.

Itu Anini.
Mengenalnya sejak kelas dua sekolahdasar. Anini, anak yang kerap di bully rekan-rekannya hanya karena bertubuh kecil, berkulit legam, dan suara ringkih seperti mencicit. Sudah bicara, bukan karena tak bisa berkata. Namun karena rasa percaya dirinya redup entah kemana.

Lalu masa sekolah menengah pertama. Masih sama.
Lalu sekolah menengah atas. Tetap sama.

Karena apa?
Mungkin karena ia hanya memiliki seorang Ibu yang entah berada dimana, sementara Bapaknya menikah lagi dengan pemudi kampung tetangga. Kudengar, Ibunya sangat dikenal di kisaran sepertiga akhir malam, diantara lampu-lampu jalanan dan hingar bingar hiburan.

Peranku?
Sudah kubilang sejak awal. Aku setia menjadi pengamat. Diam saja. Jahat? Aku hanya menjaga jarak. Karena orangtua menjunjung pergaulan terhormat. Rupanya mereka tak tahu, anaknya ini memuja lagu Pantura, meski bukan goyangannya.

"Sudah Jumat kedelapan, Anini. Ayo, mana janjimu, biografi bertandatangan?" kataku di corong telepon. Janji yang diiyakan palsu oleh Anini. Semoga masih terdengar wajar.
"Sore ini. Ketemu dimana?"
"Warung padang biasa saja."
"Oke."


**


Yang aku suka dari warung masakan padang adalah tatanan hidangnya di meja. Seluruh menu lezat sengaja dihidangkan, seakan-akan kamu mampu membayar keseluruhannya dan perut sanggup mencerna.

"Bagaimana dia?" Anini menatapku tajam, ia bahkan tak tertarik dengan tongkol balado yang mencolok indra. Padahal ia suka sekali. Loh, aku tahu? Iya, aku tahu. Aku hapal. Anini penyuka warna pastel. Benci hujan dan lagu dangdut. Kadang minum kopi sachet seribuan tapi lebih sering menyesap minuman liang teh kalengan. Hanya mampu mengitari lapangan tiga kali ketika pelajaran olahraga, dan masih setia mendengar My Chemical Romance sementara dunia sudah terhipnotis EDM. Aku tahu.

Segelas teh manis langsung habis setengah kutenggak.
"Dia--baik."
"Baik?"
"Anini, aku ceritakan sebuah rahasia, sebenarnya bukan lagi rahasia. Karena ketika satu hal yang disebut rahasia telah dibagikan kepada orang lain, status rahasia-nya telah larut ke bumi--,'
"Apa itu?"
"Kenapa harus aku?"


**


Kelak, mungkin akan ada seorang ilmuwan yang mampu menciptakan anestesi untuk perasaan. Karena kadang sentilan di hati rasanya jauh lebih sakit daripada di amputasi.


**


"Terimakasih sudah menjadi pengamat, kamu. Setelah belasan tahun. Sendiri, namun diamati. Tak masalah meski dicaci, selama masih ditunggui. Di kejauhan."
"Tongkol balado, Anini?"
"Aku belum mendapat tandatangan biduan Panturamu."
"Jumat depan, aku ke rumahmu, ya."


**


Ini Jumat sore. Ibukota gerah. Polusi masih mendominasi. Jangankan pelangi, turun hujan saja Alhamdulillah. 


So many
Bright lights, they cast a shadow
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak

Dan entah kenapa, aku jatuh cinta pada wedang beras kencur dan tongkol balado.
















Minggu, 09 April 2017

Tiket Kebahagiaan



"Berangkat kapan?"
"Malam ini. Habis Isya'."
"Yakin nggak naik pesawat?"
"Kering kantong gue."
"Pinjem gue aja. It's okay."
"Nggak usah. Hahaha. Anggap aja gue mau refleksi sepanjang perjalanan."
"Refleksi? Pijat?"
"Ha-ha. Asli. Lu garing banget."
"Take care, ya."

 Dalam. Sangat dalam.


**


Perjalanan, semewah atau semurah apapun, tak pernah membuat sesal. Jujur, yang paling menyenangkan dari sebuah perjalanan adalah perjalanan itu sendiri. Beserta segala keheningannya. Aku bahkan tak keberatan menghabiskan berjam-jam tanpa kepastian hanya karena hal seremeh delay. Konyol ya? Karena buatku, hanya dengan sebuah perjalanan membosankan kamu akan menghargai interaksi dengan orang lain.

'Selalu lihat dari sisi baiknya, Nak,' demikian Ibu selalu berkata. 

Saat itu H-sekian menjelang Hari Raya. Setelah sekian lama, tahun itu kami akan melakukan mudik. Ya. Tinggal di kota setenang Klaten membuatku dan adik terbiasa dengan rasa tenang dan kedamaian. Dan kini kami harus seperti kaum urban yang berduyun-duyun memenuhi kota kecil sekitar kami saat Lebaran tiba, lengkap dengan berbagai buntalan oleh-oleh di atas kendaraan hingga nyaris tumpah ke sisi jalan? Bedanya, kami melawan arus.

"Kenapa Bapak tidak pulang saja, Bu? Ini kan Lebaran. Aku mau Lebaran sama Bapak disini, malam takbiran sambil lihat pawai bedug di alun-alun," Aku baru sadar, saat itu aku cenderung merengek.

Ibu, dengan tumpukan pakaian yang sedang dipilah untuk dibawa mendadak berhenti, lalu berlutut di hadapanku yang masih keras kepala.

"Bapak ndak bisa pulang, Nak. Kita yang kesana, ya."

Aku tak penah tega melihat Ibu sedih, apalagi sampai memohon di depan wajahku. Dan entah kenapa, kali itu Ibu sangat sedih. Tak mungkin tak ku iyakan, kan?

Dan rupanya itu adalah mudik terakhirku ke ibukota untuk menemui Bapak. Di pemakaman. Aku ingat, saat itu aku memakai baju koko berwarna putih gading. Dibelikan Bapak dan dikirimkan ke rumah untuk aku dan adik beberapa minggu sebelum Lebaran tiba. Bapak tahu anaknya tidak suka warna putih bersih.


240 thousand miles from the Moon, we’ve come a long way to belong here,
To share this view of the night, a glorious night, over the horizon is another bright sky
Oh, my my how beautiful, oh my irrefutable father,
He told me, "Son sometimes it may seem dark, but the absence of the light is a necessary part.
Just know, you’re never alone, you can always come back home


**


"Nak, tawaran Pakdhe bagus kok. Ndak diambil?"

Aku memandang setumpuk pisang goreng hangat mengepul di hadapan. Sore tadi ibu memetiknya dari kebun belakang rumah.

"Nggak ah Bu. Aku mau disini saja, menemani Ibu."
"Ndak papa Ro. Ibu ada Nani kok disini."
"Iya Mas, Nani kan kuliahnya cuma di Jogja, dan bisa pulang pergi." adikku menimpali.
"Nanti kamu capek--"

Ibu geleng-geleng kepala,
"Masmu atos tenan Nduk."
yang disambut tawa Nani.


**


"Aku bakal sering-sering pulang kok Bu."

Ibu mengelus kepalaku dengan lembut. Ah. Kok rasanya ingin mengumpat.

"Iya Nak. Hati-hati ya. Ibu baik-baik saja kok. Kan ada adikmu."
"Iya Mas. Ibu sama Nani, kok."
"Jaga Ibu, ya Nik."

Suara derap kereta, peluit pertanda ada kereta langsir, penanda palang kereta bersahut-sahutan di kejauhan. Rasanya tak ada yang lebih berat daripada meninggalkan itu semua. Di tanganku ada sebuah kotak makan berwarna hijau. Bergambar kartun katak. Ibu telah mengisinya dengan oseng tempe, ayam goreng, dan tumis genjer. Tak lupa jeruk pontianak sebuah. Biar tak usah jajan, selalu kata Ibu ketika membawakan bekal untuk aku dan Nani.


93 million miles from the Sun, people get ready get ready,
'cause here it comes it’s a light, a beautiful light, over the horizon into our eyes
Oh, my my how beautiful, oh my beautiful mother
She told me, "Son in life you’re gonna go far, and if you do it right you’ll love where you are
Just know, that wherever you go, you can always come home


Tumis genjer Ibu biasanya enak sekali. Kali ini tetap enak, namun sedikit pahit. Dan pahitnya sampai ke hati.



**


Orang-orang yang bekerja di Ibukota, pada akhirnya akan menggadaikan rasa lelahnya dengan tiket ratusan hingga jutaan rupiah saat Hari Raya menjelang. Ya, rasa lelah setahun. Kamu tak akan sungguh peduli lagi dengan makian bos, rapat-rapat tak penting yang menyita waktu seharian tanpa hasil berarti, jam kerja diluar ambang batas normal terutama ketika tumpukan target berhamburan, pekaknya telinga dengan klakson panjang saat beradu kendaraan di pagi hari--melintasi jalanan yang tergerus banjir atau lubang-lubang menganga. Tak peduli, selama semuanya demi tiket mudik. Tiket menuju  kebahagiaan, demikian aku menyebutnya. Apalagi yang kamu tunggu selain ekspresi bahagia seluruh keluarga besar di kampung saat melihatmu tiba, dengan tentengan berkodi-kodi baju yang dibeli berdesakan di Tanah Abang?

"Pakdheeeeee!"

Lamunanku terhenti diudara. 

"Hei, Mas!" suara Nani.

"Loh, kamu sudah besar!" aku buru-buru menggendong Aleesha--iya, nama anak sekarang mudah dilafalkan namun sukar ditulis, haha--keponakanku yang mulai bergelanyut di pinggangku. Ahya, Nani sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan manis.

"Sudah dari tadi, Mas?"
"Nggak, barusan kok. Suamimu mana?" 
"Di parkiran, tadi ban nya rada kempes. Eh, bawa barang banyak ya? Kutelepon dia, deh--"
"Nggak usah, nggak usah."
"Icha, ayo sama Ibu. Pakdhe capek itu baru sampai."
"Nggak mau! Icha mau sama Pakdhe!"
"Udah, nggak papa Nik." ujarku geli.
"Yasudah. Mas, mau langsung?"
"Iya. Langsung saja."
"Tapi langsung kami tinggal gimana? Ada njagong temen Bapaknya Icha."
"Iya, langsung aja nanti kamu."


**


"Sehat Bu? Ro kangen Ibu,"

Udara sore itu sungguh sejuk. Berkali-kali aku menghirup udara banyak-banyak, maruk sekali seakan itu adalah stok udara terakhir di muka bumi. Faktanya, bahkan udara pagi hari di Ibukota adalah udara yang telah tercemar, kok. Wajar kalau aku maruk, kan?

"Ro sekarang sudah naik jabatan Bu. Seperti yang Bapak pengen dulu. Jadi orang sukses. Yaa, mungkin belum sukses sekali sih Bu. Tapi cukup. Ro sekarang punya rumah di daerah Kebagusan. Ibu tau nggak daerah Kebagusan? Hehehe."

Kamu tahu, sesuka-sukanya aku dengan keheningan, aku tetap tak suka keheningan detik ini.

"Ro bawakan Ibu anggrek bulan ya Bu. Bunganya bagus sekali, Bu."

Kali ini, biarlah anggrek bulan yang menemani tidur panjang Ibu.


93 million miles from the Sun, people get ready get ready,
'cause here it comes it’s a light, a beautiful light, over the horizon into our eyes


"Ro pamit, Bu."


**


"Mas, ada tamu di depan." Nanik menepuk punggungku yang sedang sibuk memperbaiki kursi. Kursi kesayangan Bapak.
"Mas Bayu ya? Ngajak jalan ke alun-alun lihat pawai bedug dia." sahutku masih sibuk memaku ujung kursi.
"Bukan--"

Entah kenapa kali ini jantungku berdegup kencang. Jantungan?

"Hai."

"Loh--"

"Mau melihat pawai bedug di alun-alun?"
"Lu naik apa?" alih-alih menjawab, aku justru mengajukan pertanyaan.
"Pastinya naik pesawat, sih." ekspresi mukamu tampak geli dan penuh kejutan.

Iya, kejutan. 


Every road is a slippery slope
There is always a hand that you can hold on to.
Looking deeper through the telescope
You can see that your home’s inside of you.


"Pulangnya jangan malem-malem Mas, besok Sholat Ied pagi lo!" Nani, sedemikian iseng. Aku yakin dia menahan tawa karena saat aku berbalik badan dengan muka merah padam terdengar suara cekikikan beradu dengan dentingan rantang sambal goreng krecek, panci berisi opor ayam kampung, dan semangkuk acar nanas.


Just know, that wherever you go, no you’re never alone, you will always get back home


'Bapak, Ibu, selamat Idul Fitri. Maaf kalau Ro banyak salah.' bisikku dalam hati. Semoga kalimat ini sampai ke atas sana, ditemani suara takbir bersahutan di udara malam.















Ditulis dengan rasa kangen udara Yogyakarta dan Gudegnya yang legit rupawan. Ditemani 93 Million Miles-nya Jason Mraz. Replay lagu ini berkali-kali dan langsung mendapat mood bercerita dengan plot diatas :')

 




Sabtu, 04 Maret 2017

Oxford dan Lembar Kosong



Memahaminya?
Rasanya seperti membaca setiap halaman kamus Oxford. Detail, memerlukan perhatian spesifik dan waktu yang sungguh luang. Tanpa distorsi, apalagi interupsi.


**

Ada kalanya sesi sarapan setiap pagi adalah sesi yang penuh rasa lelah. Karena ada berbagai rentetan kisah yang terasa gundah, meluncur cepat, terkadang nyaris tak terkendali.

"Gue udah mau gila, kali. Endless meeting, marathon-briefing--"
Peranku sepertinya sudah cukup baik, seperti semangkok bubur ayam tanpa kedelai yang selalu ia pesan dalam kotak bekal maroon yang selalu ia bawa ketika membeli bubur ayam andalan.

'Respek sedikit lah sama lingkungan, gue belum siap tinggal di Mars kalau bumi ini hancur.' begitu katanya ketika aku iseng menyindirnya dengan sarkasme, mengomentari kotak bekal maroon miliknya itu.

Peranku sepertinya sudah cukup baik, diam tenang dan menyimak.

"Menurut lu gimana?"

Oke, ini saatnya aku buka suara. Sedikit mengingat-ingat, apakah kali ini ia butuh solusi atau sekedar ingin didengarkan dengan efektif.
"Iya, parah juga sih kalau begitu. Tapi gue rasa lu udah luarbiasa, Re."

Seberkas senyum tersungging. Buru-buru memasukkan beberapa gadget, memulas lipstik nude, dia kemudian seperti teringat sesuatu,

"Duh, gue lupa ada meeting. Makasih buat sesi sarapan kali ini ya!"


**


Ronde.
Akhir-akhir ini aku cukup keranjingan ronde. Ronde yang disajikan sederhana, dimana yang paling menonjol adalah aroma jahenya yang sukses menimbulkan rasa hangat. Herannya, hangatnya sampai ke hati. See? Mungkin ini adalah salah satu kemampuan bersandiwara, termasuk dengan perasaan sendiri. Kamu boleh saja mengernyit, namun akupun tak benar-benar peduli.

"Gue dijodohin eh ini."

Biasanya  aku akan menyimak dahulu. Mencerna seksama, lalu jika diperlukan akan melemparkan fakta. Iya, dia masih bersamaku. Diterangi oleh lampu jalan, dengan mangkok ronde yang setengah habis. Sialnya, kali ini pretensi yang susah payah kubangun dengan semangkok ronde gagal.

"Menurut lu gimana?


**


Yang perlu dijadikan pelajaran dari masa kecil adalah keteguhan hati. Untuk mendapatkan sesuatu, untuk belajar berjalan, untuk bisa mengendarai sepeda, untuk bisa dipahami Ibu. Tak mudah, karena orang dewasa lebih sedikit memahami apa sebenarnya yang menjadi mau kita. 

Aku ingat, saat itu aku ingin sekali sebuah sepeda berwarna merah. Sepeda yang memiliki gambar bintang di sisi kanannya, lengkap dengan bel yang berbunyi nyaring. Bapak, adalah sosok yang cukup keras. Memberikan hal yang dimaui anaknya, selalu bukan hal yang cuma-cuma.

'Kamu harus menabung. Bapak tidak akan membelikanmu sepeda, karena Bapak sudah kasih kamu uang jajan.'

Dan demikian, sudah dapat ditebak. Aku belajar untuk sabar, menabung nyaris sebagian besar uang jajan yang seharusnya bisa kubelikan dadar telur puyuh favorit dan es limun berwarna hijau mentereng akibat pewarna makanan. 

Keteguhan hati, terkadang memang membuatmu bahagia pada akhirnya.


**

"Gue dijodohin eh ini."

Biasanya  aku akan menyimak dahulu. Mencerna seksama, lalu jika diperlukan akan melemparkan fakta. Iya, dia masih bersamaku. Diterangi oleh lampu jalan, dengan mangkok ronde yang setengah habis. Sialnya, kali ini pretensi yang susah payah kubangun dengan semangkok ronde gagal.

"Menurut lu gimana? 
"Sama gue aja, gimana?"

Entah kenapa, kali ini aku merasa tak perlu basa-basi.


**


Perjalanan ini cukup panjang. Dalam arti denotatif, karena menaiki kereta Argolawu dari Gambir menuju Gubeng selalu memerlukan sekian jam. Bukan karena harga tiket pesawat mahal, walaupun aku sedikit mengakui itu. Hahaha. Bukan pula karena agenda mendadak yang kami ambil kali ini. Bukan. Karena ada banyak hal dan kisah yang harus benar-benar kami luruskan dalam perjalanan panjang ini. Sesuatu yang terlewat, atau tak sengaja dipendam.

Memahamiku?
Mungkin dia hanya cukup membaca selembar kertas kosong. 








Sabtu, 04 Februari 2017

The Flowers Grow




"Hai."
"Hai."
"You've changed a lot."
"Thank's to you."


**


Kali ini kamu tampak gugup. Bahkan segelas avocado-latte tak cukup menutupi gelisah itu detik ini. Aku berusaha mengabaikannya sedari tadi, demi beberapa pendingan yang muncul di pop-up screen. Me, a workaholic one. A tough princess not waiting for any prince-charming in the daydream, huh?

"Lu baik-baik aja?"

Dan aku langsung menerima tatapan serius seketika. Oke, sinyal kuat macam provider X. Perlahan namun pasti aku mulai mematikan beberapa tab yang terbuka, kemudian menutup laptop. Sedikit terpecah, mengingat beberapa poin masih ditunggu oleh bos. Semoga tak ada intervensi dadakan diantara tatapan serius di depan muka begini.

"Gue mau ngomong sesuatu, penting."
"Ehm, oke. Go on."
"Besok gue ke Penang. Flight setengah lima."

Refleks, aku mengecek jam di pergelangan tangan. Well, sekian jam lagi.

"Duh, lu pasti belum prepare ya? Ya udah kita cari sesuatu dulu yuk. Soalnya--"
"Gue dapat tawaran di sana."



there is no reason to feel bad
but there are many seasons to feel sad glad mad
it's just a bunch of feelings that we have to hold




"Sampai kapan? Ah lu nggak cerita deh! Masak gue baru tahu sekarang??" berusaha menetralkan tone suara, meski rasanya sudah ada yang menggenang di ujung mata. Jangan tumpah!
"Tiga tahun."

Dan secangkir kopi yang telah sedikit dingin menjadi begitu menarik saat ini. Aku menenggaknya seperti itu adalah stok air terakhir di muka bumi.

"Good for you! Jangan lupa kabar-kabar yak. Apalagi kalau ketemu jodoh disana." 

Kamu diam. Shit. I hate this awkward situation.

"Tunggu gue ya."

Ah suara angin, batinku.

"Iye gue tungguin, oleh-oleh jangan lupa lah."



when i first held i was cold
a melting snowman i was told
but there was no one there to hold
before i swore that i would be alone for ever more




**




"Sehat?"
"Sehat. Lu gimana kabar? Nambah berapa kilo?"
"Aku tambah kurus ini. Kangen masakan rumah."
"Hahaha. Parah kamu. Cari makan aja pilih-pilih."

Wait. Aku - kamu?



**



Entah kenapa lagu Bad Day - Daniel Powter bisa sedemikian riang untuk ukuran 'bad day'. I mean, hari ini benar-benar buruk. Presentasi dengan klien gagal total. Mobil mendadak mati di tengah jalan hingga terpaksa diderek. PMS alias Pre Monster Syndrom (yea, my personal acronym) yang super rese hingga wajah sedemikan breakout. Couldn't ask for more.

"Mbak--"
"Nanti dulu deh, Nu.Gue lagi kesel nih!" tanpa ampun Banu--officeboy kantor--turut kena serapah sore ini. 
"Tapi Mbak--"
"Aduh apaan sih?!"

"Masih galak aja."

Darahku serasa berhenti berdesir. Kamu. Aku bahkan tak bisa berpikir akan membubuhkan tandabaca seru atau tanya disini.
"Hai."
"Hai."
"Kamu... kapan sampai?"
"Cukup lama, hingga sadar kalau cara ngomelmu masih sama."
"Ck--"



wow look at you now
flowers in the window
it's such a lovely day
and i'm glad you feel the same
cos to stand up
out in the crowd
you are one in a million
and i love you so let's watch the flowers grow



Banu? Dia sudah kabur lebih dulu.



**



"You've changed a lot."
"Thank's to you."
"Makasih sudah ditunggu. Kupikir kamu tidak cukup sabar."

Oke, aku masih berlindung diantara gelas avocado-latte, menghindar dari tatapan entahlah-apa-itu. We're best buddy, right? Or it was?

"Akhirnya datang juga, kamu. Lama sekali." kataku setelah yakin mampu menguasai tone suara dan ekspresi muka."
"Cukup, kok. Cukup untuk memastikan apakah benar jarak dan waktu benar membuktikan kalau aku memang rindu. Kamu?"

Aku yakin tanpa berkata sepatahpun mukaku yang memerah mendadak sudah menjadi sebuah jawaban.



it's such a lovely day and i'm glad you feel the same
cos to stand up
out in the crowd
you are one in a million
and i love you so let's watch the flowers grow
so now we're here and now is fine
so far away from there and there is time time time
to plant new seeds and watch them grow
so there'll be flowers in the window when we go
wow look at us now
flowers in the window
















Jumat, 20 Januari 2017

Patah atau tumbuh hilang berganti?




"Iya, aku kagum."
"Kenapa?"
"Nggak tau. Seperti semesta yang telah berkonspirasi. Tck!--" aku menjentikkan jari, "--begitu saja."

Seperti semesta yang telah berkonspirasi. Begitu saja. Semudah itu untuk merasa timbul dan tenggelam. Saking mudahnya, yang memperkuat konsistensi mungkin hanyalah komitmen. Mungkin.

"Bagaimana jika nanti aku menua, dan tak lagi menarik? Karena fisik hanya bagian setitik."
"Tak masalah! Aku akan ada, kini dan nanti."

Dan, memang semudah itu timbul dan tenggelam ketika merasa kasmaran.

I met you in the dark
You lit me up
You made me feel as though
I was enough
We danced the night away
We drank too much
I held your hair back when
You were throwing up


**


Kemeja putih ini terasa sangat tidak nyaman, padahal ini adalah kemeja kesayangan. Pertama kali dikenakan saat bertemu di taman. Pertemuan (?) Dan kini genap hari ke seribuempatratusenampuluh, kembali dikenakan. Setelah sempat tertimbun diantara media penyimpan kenangan. 

Sekian jengkal berjarak, dan kamu mengenakan kemeja senada.

"Tak bisa dibicarakan kembali?" katamu tempo hari, kesekian kali.

Aku menggeleng, meski tahu kamu bukan cenayang untuk melihatku tak mengangguk. Kedua kali. Namun atas ribuan sinyal terkirim sebelumnya, olehmu tak terespon.

Then you smiled over your shoulder
For a minute I was stone-cold sober
I pulled you closer to my chest
And you asked me to stay over
I said, I already told you
I think that you should get some rest


**


Percaya pada perbedaan dapat dipersatukan? Aku percaya. Sama percayanya dengan teori bahwa bumi itu bulat. Berarti, itu tak terbantahkan bukan?

"Bubur ayam?"
"Tanpa--"
"Daun bawang, kedelai, kecap, dan ayam. Iya, kesukaanmu, bubur ayam tanpa ayam."
"Masih belum capek?"
"Untuk mengitarimu? Belum. Kemampuanku berotasi terhadapmu masih sejarak ribuan tahun cahaya."
"Berlebihan sekali."
"Sama berlebihannya dengan kamu yang selalu mencoba menghindar."
"Besok aku pergi."
"Aku tunggu ya."
" ... "


I knew I loved you then
But you'd never know
'Cause I played it cool when I was scared of letting go
I knew I needed you
But I never showed
But I wanna stay with you
Until we're grey and old
Just say you won't let go
Just say you won't let go


**


Ada bagusnya ketika tak benar-benar berusaha, sementara belum semua yang percaya. Minimal, tak ada sosok mungil dengan mata indah yang dikorbankan. Dan kamu, bisa pergi dengan segala kebebasan. Ya, aku tahu itu. Kini seratusenam hari yang tenang. Meski cukup sepi.

"Dia janda," 

Aku hanya pura-pura tak mendengar stigma sosial berlebihan tentang istilah yang baru melekat. Bahkan meski yang berbisik diantara kangkung ranum, tomat, dan sesisir pisang adalah satu-dua ibu jobless berdaster. Minimal, aku tak hanya duduk manis menggerogoti kantong priaku.


I wake you up with some breakfast in bed
I'll bring you coffee
With a kiss on your head
And I'll take the kids to school
Wave them goodbye
And I'll thank my lucky stars for that night


**


Masih menunggu. Diantara pesan singkat yang tak dibalas.


**


Masih tak peduli. Dengan kisahku yang dibingkai sesukanya dalam pikiran mereka.


**


Karena jatuh cinta itu nyata.

When you looked over your shoulder
For a minute, I forget that I'm older
I wanna dance with you right now, oh
And you look as beautiful as ever
And I swear that every day you'll get better
You make me feel this way somehow



**


Karena sakit hati itu fakta.

Then you smiled over your shoulder
For a minute I was stone-cold sober
I pulled you closer to my chest
And you asked me to stay over
I said, I already told you
I think that you should get some rest


**


I'm gonna love you 'til
My lungs give out
I promise till death we part
Like in our vows
So I wrote this song for you
Now everybody knows
That it's just you and me
Until we're grey and old
Just say you won't let go
Just say you won't let go





Minggu, 15 Januari 2017

L.O.V.E di Breaux Bridge





Ini bukan bar. Ini bukan gerai kedai kopi ternama. Tak ada whiskey, wine, espresso, atau cocktail. Tak ada pendingin udara hanya jendela seadanya. Makanan? Tak ada chicken katsu, tenderloin steak, atau sekedar french fries

Ini hanya warung seadanya.

L is for the way you look at me


**


Bapak pernah berjanji, kelak anaknya ini akan dibawa ke restoran cepat saji, seperti anak teman-temannya yang bekerja di kota besar. Menikmati limpahan minyak kotor dan penuh lemak seharga puluhan ribu. 'Membeli kapitalisme,' begitu kata Bapak. Saat itu aku tak benar-benar mengerti. Apa yang dapat kamu harapkan dari pemahaman anak sekian tahun ketika mendengar kata 'kapitalisme'? Hehe.

"Non, temulawaknya satu. Dengan es."

Bukan pria parlente. Hanya seorang pengunjung biasa, dengan kaos kasual dan sneaker bersih. Masih ada lipatan di celana jins nya. 

"Ubi gorengnya nggak sekalian, Mas?" aku berusaha menawarkan.

Dia menggeleng sambil membuka tudung saji eceng gondok. Favoritku. Aku membelinya dengan harga cukup murah. 

"Ini saja." dengan semangat ia menggigit bakwan yang masih panas.

"Silakan," segelas es temulawak tersaji di hadapannya.

 O is for the only one I see

Nggak pahit? Mungkin kamu mengernyit. Nyatanya tidak, ya. Ia rutin memesan es temulawak meski racikan itu bukan menu spesial di warungku ini. Lalu, apa yang spesial dari warung seadanya ini?

"Beras Kencur Madu nya satunggal, Mbak."

Aku tersenyum. Tak banyak yang memahami bahasa jawa disini. Mungkin pria ini salah satunya. Parlente kah dia? Hei hei, coba harapan akan membaca karakter pria parlente bermobil pardole (meminjam istilah teman yang nyeleneh, haha) sedikit dihempaskan ke bumi. Ini memang bukan plot penuh gaya hidup ala jetset. Maaf. Nah, masih ada waktu bagimu untuk menutup browser tab, menghemat paket data, dan kembali browsing plot cerita impian yang lain :) 

Sebut saja Bambang. Itu, si pemesan beras kencur madu. Mungkin ia adalah pengunjung sambil-lalu, pada awalnya. Sambil-lalu, karena saat itu kebetulan ia mampir di cuaca berangin yang teramat sangat, sedikit pelarian dari gerai kedai kopi favoritnya yang mendadak tutup, di seberang warung. Dan kini Bambang menjadi pengunjung cukup reguler. Seminggu dua kali. Selasa dan Sabtu. Cukup reguler, lah ya.

V is very, very extraordinary


**


"Wah, enak iki." 

Pagi ini aku tengah bereksperimen membuat kembang goyang dan kue-ku. Ada yang masih ingat? Sudah kalah pamornya memang, dari bakery-cakery yang menjamur di tiap sudut jalan. 

Ada beberapa tester yang bersedia meluangkan waktunya saat aku iseng mengirimi mereka pesan singkat,

'Jajanan lawas, anyone?'

Ada tiga-empat orang berdesakan di pawon (tak terlalu pawon sebenarnya, namun lidahku masih saja terlalu kaku untuk menyebut pantry) warung seadanya ini. Bambang dan pria penggemar pahitnya temulawak, tentu menjadi salah duanya.

"Kamu nggak pengen buka warung di ujung gedung itu, Ni? Harga sewanya rada murah. Strategis pula."

Aku meringis. Bukan cuma sekali dua kali hal ini ditanyakan. Dan rajin pula kujawab,

"Biarlah tempat ini ditemukan tanpa sengaja. Jika berjodoh pasti ketemu. Hehe."

Tenang Pak, anakmu ini akan memegang janji sampai kapanpun. 

 E is even more than anyone that you adore can


**


Warung seadanya tutup hari ini. Memang tak ada tulisan 'closed' tertera di depan pintu. Tapi siapapun yang pernah mampir kesitu pasti tahu bahwa warung ini sedang diam membisu. Tak ada suara merdu Frank Sinatra--satu-satunya penyanyi yang entah sudah berapa ratusan ribu kali single nya diputar menemani meracik jamu. 

"Tutup to?"
"Iya."

Love is all that I can give to you
Love is more than just a game for two
Two in love can make it
Take my heart and please don't break it
Love was made for me and you



**


'Nduk, bali dhisik. Bapak lara.' 

Pesan singkat kakak laki-lakiku, cukup membuat pagiku yang tenang mendadak amis, berantakan, dan berhamburan. STMJ yang sedang kuracik tumpah, beserta sebutir telur yang sedang setengah kutuang. Kalang kabut, aku kesana kemari mencari tiket penerbangan pertama ke tanah kelahiran. 

L is for the way you look at me
O is for the only one I see
V is very, very extraordinary
E is even more than anyone that you adore can



**


Breaux Bridge dipenuhi daun berguguran September itu. Hei, apa kabar Lousiana? Dan apa kabar, warung seadanya? Bambang, dan pria temulawak?

Tanah disekitarku masih menggenang becek, sisa hujan yang cukup deras. Aku menggigil. Breaux Bridge dan Gunungkidul tak jauh berbeda tentang kualitas angin. Sekali menyenggol maka bulu kuduk akan berdiri. 

"Bapak, kula pamit rumiyin nggih." 

Kali ini teman Bapak adalah setangkai bunga sedap malam.


**


Love was made for me and you
Love was made for me and you
Love was made for me and you
Love was made for me and you