Minggu, 01 Juli 2012

Teori Ayam Kampung


Out of the box.

*** 
"Bagi saya, penting hukumnya ada penyatuan frekuensi dalam suatu divisi. Ketika Anda sudah 'menuntut' bawahan untuk bisa menyamakan ritme dengan Anda, membuat mereka mengejar target ke atas--menuju Anda... terkadang perlu bagi atasan, seperti Anda, untuk bisa turut menyamakan ritme dengan bawahan. Bukan merendahkan diri, namun coba berempati."
Kepulan asap rokok. Satu kepulan. Tatapan tajam. 
"Kamu, masih terlalu kecil. Sama seperti yang lain."


***

Ayam kampung, lalapan, es teh tawar, rasa-rasanya tidak pernah sehambar ini di lidah. Setengah tak ikhlas, aku mencabut selembar tisu, mengelap ujung-ujung bibir, dan menggumpalnya di samping piring yang baru setengah tersentuh.
Dia, sibuk dengan kretek di ujung bibir, ditemani semerbak kopi. Menatapku. Well, ini seperti sidang terdakwa. Aku, terdakwa utamanya.
Baru lewat limabelas menit sejak aku duduk di meja ini, di hadapannya, limabelas menit berlalu sejak jam istirahat melongok manja.

"Menurut kamu?"
"Menurut saya?"
"Ya." kepulan asap rokok membumbung diantara aku dan dia.
Aku menghela napas, bosan. Entah harus mulai seperti apa lagi.
"Dari sekian banyak hal, saya tetap tak bisa sepakat dengan opini Anda. Maaf."
"Oh ya? Yang mana?"
"Kenyamanan nomor dua. Profesionalitas nomor satu."
"Kita bukan dinas sosial."
"Hitler juga telah lama tumbang karena mengagungkan otoritas murni."
"Teori frekuensimu, basi untuk saya."
"Tapi kelak bisa membantu Anda. Bahwa situasi yang nyaman dan aman dapat menyalakan loyalitas."
"Itu hanya membuat mereka manja."
"Tidak dengan batas dan ketegasan Anda."
"Kelak ketika kamu seusia saya, idealisme mu akan runtuh perlahan. Dan kamu akan menghadapai realita."


Aku lapar. Teramat lapar, karena serangan meluncur ke pikiran dan perasaan sekaligus. 
Ah, nampaknya juru masak kali ini gagal meracik bumbu. Efeknya hanya tertinggal pahit di lidah.
Banyak yang harus dibenahi lagi nampaknya. Secara perasaan, secara profesional, secara idealisme. It will be kinda hectic effort day-to-day.




*random curhat tengah malam*









Tidak ada komentar:

Posting Komentar