Selasa, 23 November 2010

A Walk to Remind Her (and her obsession)

 
apakah kau berani tinggal di luar?
ataukah kau berani masuk ke dalam?
dan jika kau masuk, akankah kau belok ke kiri? ataukah ke kanan?
atau kanan dan tiga perempat, atau tidak sama sekali?
kau bisa sangat bingung & mulai berlomba menyusuri jalan dengan jantung memberontak keluar dr dada, dan berjalan melewati jarak menyeberangi ruang.
menghadapi ketakutanku akan tempat yang paling tak berguna.
ruang tunggu untuk orang menunggu.
menunggu kereta pergi dan bis datang.
atau pesawat pergi.
atau surat datang.
atau hujan berhenti.
atau telepon berdering.
atau jam berdentang.
atau menunggu sebuah iya atau sebuah tidak.
atau menunggu sebuah kesempatan lain.
ada hal yang sangat ingin kamu dengar,tetapi tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang dari mereka ingin kamu dengar.
tetapi jangan sampai kamu menjadi tuli walaupun kamu tidak mendengar itu dari seseorang yang mengatakan itu dari dalam hatinya.
jangan pernah berkata selamat tinggal jika kamu masih ingin mencoba.
jangan menyerah jika kamu masih merasa ingin berjuang.
jangan pernah kamu berkata kamu tidak mencintai orang itu lagi bila kamu tidak bisa membiarkannya pergi.
cinta datang kepada mereka yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan.
kepada mereka yang masih percaya walaupun mereka telah dikhianati.
kepada mereka yang masih ingin mencintai walaupun telah disakiti sebelumnya.
dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangun kembali kepercayaan yang telah hancur.

orang yang bahagia tidak perlu memiliki yang terbaik dari segala hal.
kebahagiaan adalah bohong bagi mereka yang menangis,
mereka yang terluka,
mereka yang mencari,
mereka yang mencoba.
mereka hanya bisa menghargai orang orang yang penting yang telah menyentuh hidup mereka

Penggalan ini saya dapatkan dari friendster seorang teman. Senyum simpul adalah reaksi pertama saya terhadapnya. Hmm… semua kepingan kita memiliki banyak pilihan dan keharusan untuk memilih sederet kemungkinan jawaban. Dan memang tak bisa terhindarkan. Sebenarnya, pilihan seperti apa yang diharapkan? Apakah yang tepat pada waktunya? Ataukah mendekati kemungkinan lain?


Seorang teman menginspirasi kemungkinan pilihan itu. Tak peduli terlambat atau tidak.



Namanya Lala. Dia adalah manusia dengan sejuta harapan, tak peduli semustahil apapun kemungkinan dibalik pilihannya. Toh dia tetap maju. Sama seperti saya, Lala memiliki obsesi menjadi seorang backpacker. Obsesi itu tumbuh dan berkembang sejak jaman putih abu-abu, lebih dari keinginannya untuk punya pacar, lulus dengan predikat cumlaude, menjadi CEO top perusahaan multinasional, dan lain-lain. Bagi sebagian besar yang hobinya travelling around the world, itu bukanlah obsesi yang pantas dibanggakan. Saya bahkan tidak berpikir bahwa itu adalah ide brilian untuk sekedar dijadikan sebagai mimpi. Tapi obsesi itu meracuni Lala sebagai sebuah pilihan yang harus ditetapkan. Dan itu berarti sama sulitnya seperti saya yang memutuskan untuk berganti dosen atau tidak demi kelangsungan masa depan saya (curcol mode : on).

Sebagai anak tunggal dan berasal dari keluarga sederhana, ada banyak tembok yang membentangi mimpi itu. Entah sudah berapa banyak cekcok kecil dengan keluarga dan sedikit sindiran teman-teman sepergaulan yang menganggap bahwa ide itu konyol untuk ia lakukan. Ada begitu banyak keterbatasan yang mungkin jika ia patuhi akan membuat mimpi itu tinggal mimpi. Tapi toh ia berusaha. Ia mencari info, mengumpulkan brosur, browsing sana-sini, mengikuti tes dan sederet kompetisi. Ia tak perlu pengakuan, tak perlu uang (yah, kalau ini mungkin sedikiiittt perlu J), tak perlu piala… yang ia perlukan hanya kesempatan mengambil pilihan atas obsesi itu. Saya yakin dalam laptopnya tersembunyi berbagai tempat yang ingin dia kunjungi. Mungkin bagi beberapa orang tampak berlebihan, sayapun pernah beranggapan demikian. Namun ia konsisten. Bertahun-tahun saya bergaul dengannya, dan saya menemukan bahwa ia sesungguhnya tak patah arang.

Beberapa bulan terakhir kami memang jarang bertemu, namun terkadang ada kalanya saling bertukar SMS. Dan pada suatu sesi SMS saya iseng bertanya,
“Gimana kabar obsesimu?”
Dia tertawa dan menjawab dengan mantab.
“Belum, nih. Doakan ya.”

Hmm… saya tercenung. Dalam beberapa interaksi kami, saya menemui fase hopless-leleh-luweh nya ketika apa yang menjadi keinginannya ternyata gagal. Tapi tidak untuk obsesi yang satu itu. Saya masih sering mendengar ceritanya, mendengar perkembangan terbaru yang ditemuinya, dan segala macam hal yang menunjang. Meskipun saya tak cukup tahu bagaimana dia akan mengakomodasi semua harapan itu, namun saya cukup yakin bahwa semangat itu tak pernah mati.

Siang itu saya ada janji bertemu dengannya. Saat itu pikiran saya sedang carut marut menatap draft laporan yang porak poranda. Berlagak sok rajin, sembari menunggunya saya membolak-balik salah satu buku yang kemudian menjadi favorit saya : Marmut Merah Jambu by Raditya Dika. Cukup lama saya menunggu, hingga sebuah SMS masuk ke hp saya.
“Eh maaf, aku nggak bisa kesana nih… maaf mendadak.”
Rupanya teman saya itu.
“Nggak pa-pa. Emang kenapa?” saya balik bertanya.
Guess what?? Aku dipanggil interview buat summer course! Haaaa!!!!!! …”

Masih banyak yang dia katakan. Masih banyak aura positif yang terlontar dari intonasi dan diksi nya. Namun saya hanya menangkap satu kalimat yang tercetus mendadak di kepala saya :

Dia mendapat jackpot itu. One step closer for the next step.

Kita tak pernah tahu bagaimana obsesi dan mimpi demikian tipis dan bisa bersinggungan dengan mulus. Entah jalan yang ditempuh akan lurus, menanjak, berkelok, menurun, berputar, ataupun tampak tanpa arah. Seperti satu paragraph yang hendak saya kutip lagi.

Pada akhirnya orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan. Mereka cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh dari mulai kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh. Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya menerima. Orang yang jatuh cinta diam-diam paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang tidak kita sesungguhnya butuhkan. Dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah merelakan. Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian.

Teman saya rupanya tak mau jatuh cinta sendirian. Oleh karena itu ia memutuskan memberi tahu apa yang dicintainya itu. So, apakah kau berani tinggal di luar? Atau masuk ke dalam?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar