Tampilkan postingan dengan label OST of my life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OST of my life. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Mei 2011

M for Maliq : Pamer *devilaugh*


Kemarin Jumat (20 Mei 2011) gara-gara kecipratan rejeki dari seorang teman, saya jadi bisa nonton Maliq—private concert—di TBY, gratis!—yaiyy (private—bila dibandingkan konser biasanya yang begitu bejibun penonton :p). Sebenarnya acara tersebut adalah rangkaian Movies Night Out—kerjasama Kaskus dan Simpati. So much fun :) Saya mendapat free snack, goodie bag, dan perform  Maliq yang oke. 
 

salah satu properti event


btw, bruwet sekaliiii gambarnya T.T




 sekedar penikmat suara--alasan kenapa saya menjauh dari stage 
(agar bisa tetap keluar tanpa terjepit)


 another blur shoot :p


properti yang paling sering jadi sasaran narsis


goodie bag niat buat golden ticket 


foto TERJELAS Maliq :* 





Kamis, 19 Mei 2011

Adam Lambert – No Boundaries *press play*




“Iya, kamu dapet pembimbing Bu ***.”

“Hah!?”

**

Adam Lambert – No Boundaries   *press play*

Just when you think the road is going nowhere

Just when you almost gave up all your dreams

They take you by the hand and show you that you can

There are no boundaries

**

Campur aduk mirip gado-gado. Kira-kira begitu rasanya pas pertama kali dapat pengumuman nama dosen pembimbing skripsi tercinta. Rada stress—tepatnya—mengingat si ibu yang sibuk itu sedang tambah sibuk karena merawat suaminya. Ya, suaminya menderita kanker. Saya—yang orangnya nggak enakan dan nggak tegaan, kudu memberanikan diri untuk rajin ngapel si ibu, demi mengejar tenggat Februari. Entah apa yang saya kejar sebenarnya—apakah demi menghindari omelan ibu saya yang tak henti-hentinya mengomentari skripsi saya yang tak selesai-selesai (for God’s sake, padahal saya angkatan yang masih hijau *it means, bahkan kalau saya mau masih ada bertahun-tahun jatah sebelum kena DO—tapi tentu saya tak sebodoh itu*), atau keinginan untuk menyusul ‘seseorang’ ke kota kejam berawalan J gara-gara capek long distance relationship, atau muak setiap hari kudu memelototi antara laptop, jurnal dengan huruf kecil-kecil bahasa inggris yang bikin pusing, atau insomnia di saat semua orang sedang bermimpi indah. Kemungkinan-kemungkinan itu benar-benar mendorong saya untuk segera keluar dari lubang buaya, ternyata.
 

Seconds hours so many days 

You know what you want but how long can you wait
 

Bulan-bulan awal saya masih semangat ’45, menyingsingkan lengan baju demi menggarap skripsi. Lama-lama? Sungguh, saya muak. Tapi saya benar-benar tak punya sesuatu (--atau seseorang?) yang bisa saya jadikan tong sampah. Sayangnya belum ada. Saya tidak bisa cerita kepada orangtua saya, karena mereka akan lebih menangkap bahwa saya mengeluh—alih-alih saya sebenarnya mulai merasakan tekanan batin. Dengan teman? Sangat tidak solutif, karena sejujurnya curhat dengan teman seringkali hanya memberikan penghiburan semu (saya rasa, tidak ada teman dalam fase yang sama yang akan sepenuh hati mendukung semangat kita—yang ada (mungkin) mereka sedikit berbisik dalam hati dengan iri kenapa temannya melaju begitu kencang. Paling pol saya dikomentari, “Kamu ngapain sih, cepet-cepet banget? Nyantai dikit lah… “ Geez. Prioritas tiap orang, memang berbeda, sih). Pacar? Tumpuan terakhir ini tentu lebih sulit dijangkau lagi—secara harafiah—karena kami ber-long distance  ria.


Seconds hours so many days 

You know what you want but how long can you wait

Every moment lasts forever

When you feel you've lost your way


            Pacar saya, kakak angkatan saya, teman-teman saya, bahkan orangtua saya, pasti tahu betapa stressful-nya fase tugas akhir. Tapi tetap saja, semua orang menjadi begitu tak paham kondisi menyebalkan yang saya alami. Keluar dari penelitian payung, memulai dari nol besar, salah skala, suami dosen pembimbing meninggal, kemudian disambung dengan putra beliau mengalami kecelakaan… belum lagi ketidakcocokan antara teori, skala, dan pembahasan menjelang detik-detik sidang—sumpah! Sepet sesepet-sepetnya. Dan masih saja ditanyai, sidang kapan? Lulus kapan? *so RAARRWWR

Memang tak bisa, ketika berharap semua menjadi sesempurna rencana kita, kan?



What if my chances were already gone

I started believing that I could be wrong



Waktu kemarin saya ngebut skripsi, terus terang saya sudah hampir sangat menyerah. Beberapa minggu yang tergadai karena Merapi ngamuk, suami dosen berpulang, dan kecelakaan parah putra beliau—praktis menggerogoti hari minimalis konsultasi saya. Semua orang begitu yakin bahwa saya akan tembus Februari (entah atas dasar apa)—yang sangat menekan saya. Mungkin, memang tak ada yang bisa menyelamatkan waktu yang berputar cepat selain keajaiban dan secuil keyakinan.



I fought to the limit you stand on the edge

What if today is as good as it gets


Tapi ternyata yang namanya skripsi—suka-nggak-suka, pahit-nggak-pahit—kudu dijalani. Pilihannya cuma maju atau diam. Bisa saja sih, saya diam. Sebodo amat sama omongan orang, yang penting saya eksis. Hahaha. Tapi toh, saya hanya akan menunda sesuatu yang pada akhirnya tetap harus saya hadapi, kan? Sama saja, ketika saya berharap saya bisa lompat hari, tau-tau saya sudah sidang, atau wisuda—tanpa mau repot menghadap dosen yang selalu menemukan cacat dalam kerjaan saya—dan saya sadar itu adalah doa orang bodoh :) Ketika (akhirnya) saya, bisa wisuda lebih awal dari teman-teman saya, boleh lah saya sombong, semua penghargaan dan pujian itu memang patut ditujukan pada saya, karena toh yang jungkir-balik mau gila adalah saya sendiri. Hahaha (jadi berpikir, kenapa saya tidak menulis halaman persembahan untuk diri saya sendiri, ya? Atas dedikasi, semangat, dan perjuangan tidak kenal lelah atas kegilaan tugas akhir selama ini xp Beneran deh, saya malah kudu berterimakasih kepada de*an yang barangkali tidak berkontribusi apa-apa selain membubuhkan tandatangan berharganya itu—tentunya setelah bolak-balik menanti di lorong. Hehe *ups, no offense Sir!)

**

Itu adalah cerita saya beberapa bulan lalu. Sekarang, cerita saya sudah berganti. Hari ini adalah ulangbulan ke tiga saya resmi menyandang gelar jobseeker. Skripsi yang pada waktu itu saya anggap sebagai ujian mahadahsyat, mendadak menjadi tak berarti. Dan saya semakin akrab dengan kosa kata alay, #galau. Saya sebenarnya menikmati libur panjang ini, saat dimana saya bisa bangun siang dan jalan-jalan kemana-mana tanpa perlu ada tanggungjawab berarti. Tapi mungkin orangtua saya gerah, demi melihat saya bermalas-malasan tiap hari. Maka komentar mereka pun jadi lebih merepet. Duh…

Saya tahu, kali ini tak ada yang bisa menyelamatkan saya dari fase ini—tidak lagi masalah dosen, tidak lagi masalah jurnal yang susah, tidak lagi masalah mengejar yudisium—bahkan mungkin pacar saya pun dalam hati akan menyontek Kings of Convenience, “I don’t know what I can save you from…” 
Saat skripsi, separah apapun keadaan saya, saya tahu dengan pasti bahwa saya akan lulus—entah bagaimana caranya. Sama seperti ketika saya lulus SD, saya pasti akan masuk SMP, dan dari SMP saya akan melanjutkan SMA, kemudian perguruan tinggi. Tapi kini, tidak sesimpel itu. Saya galau, karena lebih tidak mungkin menebak pola pikir perusahaan yang menjadi incaran saya, kan? Lebih tidak mungkin, menebak takdir saya sekarang ini.



Don't know where the future's headed

Nothing's gonna bring me down

Jumped every bridge I've run every line

I risk being safe, I always knew why

So here I am still holding on

With every step you climb another mountain

Every breath it's harder to believe

You'll make it through the pain

Just when you think the road is going no where

Just when you almost gave up all your dreams

They take you by the hand and show you that you can

There are no boundaries




Kita—saya, memang tak akan tahu kemana kaki ini berlabuh.









* No Boundaries – Adam Lambert, benar-benar mampu menguatkan di fase terburuk—sama baiknya seperti doa *proud*  Penggalan ini sebenarnya nggak ada apa-apanya dengan perjuangan rekan lain yang lebih heboh dari saya. Tapi bagi saya sih, hal sesimpel ini pun tetap jadi pembuktian--bahwa saya pun bisa menyelesaikan 'sesuatu' yang menjadi momok mahasiswa tingkat akhir. Hahaha. Terutama, percayalah, menyelesaikan tugas akhir jauh lebih nggak ada apa-apanya daripada ketabahan mencari penghasilan *curhat mode : on*









Senin, 25 April 2011

The Cardigans - Carnival






Yaiyyy. Akhirnya, ketemu juga salah satu lagunya The Cardigans yang amat-sangat-suka-sekali saya, sering denger tapi sayangnya nggak ada yang  tau lagu siapa, judulnya apa. Yang saya tau cuma lirik refrainnya saja. Hohoho. Dan… here’s the song :) enjoy! *oiya, saya sempat menggambar asal selama 3 menit gara-gara mendengar lagu ini dari playlist mp3 saya (akhirnya)…hehehe. Kira-kira inilah mood yang saya tangkap mendengar keseluruhan lagu ini, 


carut marut yang saya bikin... :p




I will never know
cause you will never show
come on and let me know
come on and let me know


I will never know

cause you will never show
come on and let me know
come on and let me know
come on and let me know
 

carnival...came by enchanted day
like files from giant wheel for only any way
and I am here
and I don't
waiting for you


I will never know
cause you will never show
come on and let me know

come on and let me know

I will never know
cause you will never show
come on and let me know
come on and let me know
come on and let me know

hide yourself
old lovers very old
cause mother :
I would like to take you down to church
till make you mind in earth that miracle's around

I will never know
cause you will never show
come on and let me know
come on and let me know


I will never know
cause you will never show
come on and let me know
come on and let me know
come on and let me know
come on and let me know

come on and let me know
come on and let me know
come on and let me know
come on and let me know
come on and let me know





sumpah, lagu ini oke banget buat nemenin tidur siang di hari yang panas, dengan angin sepoi-sepoi...






Selasa, 01 Februari 2011

Westlife in Memoriam :)


Kemarin siang, rupa-rupanya saya kangen mendengar so last year boyband-Westlife-bernyanyi. Jadilah sambil beberes kamar sisa perang enam bulan melawan tugas akhir saya memutuskan untuk memutar, yap, kaset Westlife.

Sedikit bersalah, mendapati tumpukan kaset saya teronggok berdebu. Yah, entah sudah berapa lama saya tidak lagi memutar kaset setelah mengenal CD dan mp3. Technology save our lives. Hehe. Dengan sedikit harap-harap cemas, saya memasang kaset Westlife saya dalam player, berharap kaset ini sedikit lebih kooperatif daripada terakhir kali saya memutarnya : nge-roll parah dan membundet di beberapa bagian, mengakibatkan lagu ballad yang saya dengar menjelma menjadi repetan DJ (alias mampet). 

Sukses! Saya mendapati suara idola saya jaman kimcil kembali memenuhi ruangan, menemani aktivitas beberes kamar. Hmm, sudah lama sekali rasanya. Memiliki kaset Westlife pertama kali pada saat kelas 3 SD, setiap jam istirahat begitu antusias bergosip mengenai Mark dan kawan-kawan, niat banget nabung demi edisi khusus majalah Bobo yang memuat poster (atau tabloid Fantasi ya itu?? Duh lupa). 






 salah satu koleksi majalah jadul, era BOYBAND adalah dewa :p
bahkan Dea Ananda dan Andien tampak begitu polos dan lugu ...


 iklan CD dan kaset Westlife 'Coast to Coast'

 
 salah satu kaset Westlife fav saya... Mark tidak tampak gay :'( He's soooo damn cool



Manusia, okee…dalam hal ini, saya lebih tepatnya, memang aneh. Ketika semua menjadi sangat mudah dan instan, terkadang saya merindukan hal-hal konvensional yang sederhana, manual, bahkan memerlukan effort lebih keras untuk dinikmati. Kenapa? Karena upaya lebih itulah yang justru membawa lebih banyak kepuasan bagi saya. Benar kok,


Saya lebih suka bakmi jawa yang dimasak dengan anglo daripada mi instan (note : jika saya punya waktu lebih untuk mengantri)

Saya lebih suka menunggu dengan sabar demi memiliki Harry Potter #7 dengan hasil menabung daripada meminjam punya teman atau membaca e-book (note : yang sangat memprihatinkan karena bahkan saya belum membaca seri terakhirnya hingga saat ini, meski teman sudah menawarkan untuk meminjami dan saya memiliki versi e-book nya)

Saya lebih suka belanja langsung di toko daripada belanja on-line (note : terkadang masih kurang marem kalau tak melihat barangnya terlebih dulu).

Banyak keterbatasan ternyata ya, yang membuat hidup ‘terpaksa’ disederhanakan. Dan kita, berenang di dalamnya untuk meneguk demi sedikit jika tak ingin benar-benar tenggelam dan tertinggal :) Kali ini, saya sedang suka sekali (lagi) dengan lagu When You Came Around-nya Westlife…


When you come around
You know you pick me up when I’m feeling down
And I want you to know, baby, how can I show
Do I have to scream and shout


Sibuk mengingat-ingat kegilaan berburu merchandise Westlife, iseng kliping-kliping nggak jelas, menanti setiap video klip Westlife di TV, officially broken hearted ketika Nick Westlife ternyata sudah taken :)) Haha. Meretas kenangan ketika teknologi masih terlalu berharga memang menyenangkan. Pelarian sementara dari dunia bernama realita :p




Westlife, in memoriam :')  official soundtrack of my early puberty :p