Minggu, 12 Desember 2010

Bittersweet coffee

 

Berada dalam kehangatan sementara hujan petir menyambar-nyambar di luar sana memang jauh lebih baik daripada menunggu di lobby. Itu pikiranku ketika nyaris 3 jam menunggu Galih datang. Laptop Mac ku telah rapi jail berada di dalam Anya Hindmarch favoritku, tak ketinggalan secangkir kopi setengah kosong dan remahan hazelnut tiramisu. Akhir-akhir ini cuaca sangat tak menentu. Byarpet, kata Galih. Bagiku hal itu bukanlah masalah besar, karena selalu saja ada alasan untuk menghindari badai, tanpa aku sengaja. Bagaimana tidak? Nyaris waktuku tersita dalam marathon meeting, dari satu tempat ke tempat yang lain. Nyaman dari lindungan hujan, tapi terkadang tidak dari semprotan klien dan atasan.

Hm.. menghadapi klien memang lebih susah daripada menjinakkan bom. Kadang-kadang aku berkelakar seperti itu dengan Galih, ketika ia memprotesku gara-gara (katanya) aku gila kerja. Aku tak gila kerja, aku hanya mengalihkan semua perhatianku pada satu hal yang jelas-jelas aku kuasai dengan sangat  baik melebihi apapun. Jujur, berkutat dengan rentetan klien itu memiliki tantangan tersendiri.

Yes. I’m coffeeholic. More than four cups a day or you’ll get me dying in my desk. Hehehe.

Well, aku bukan maniak kopi tertentu, jadi jangan salah kira ketika kau menemukanku di pojokan sofa hotbrown empuk ini = aku pemuja prestise. Beberapa coffee shop modern, sebagaimana yang kerap aku singgahi ini memang menjual prestise : sophisticated lifestyle, extra-comfy furniture, elegant-but-chic interior design… khas kafe-kafe komunal di Italia, berbandrol sekian dolar.

Dan, jika aku boleh berkoar, kurasa bandrol harga yang lumayan ‘nendang’ untuk ukuran satu cup kopi terbilang wajar. Benar. Wajar. Harga itu tampak wajar karena barista mereka mendapat pelatihan ketat mengenai aroma, rasa, sekaligus ketebalan kopi demi menghasikan masterpiece. Harga itu tampak wajar karena mereka mencari biji-biji kopi terbaik ke seantero bumi. Harga itu wajar, karena ada konsistensi yang kuat di dalamnya. Dan konsistensi selalu berharga mahal. Konsistensi selalu dibayar oleh pengorbanan yang terkadang tidak sedikit. Aku bahkan tidak peduli meskipun Galih selalu bawel menghakimi hobiku melumat kafein sebagai sarana katarsis pribadi yang berlebihan. Yeah, konsistensi.

Hmm, image branding yang sempurna untuk menarik orang-orang yang merasa dirinya berkelas dan pantas, seperti aku yang masih saja terseret arus euphoria utopis ini. Jangan salah, aku masih salah satu big fan kopi-kopi lokal yang mungkin kerap kau temui di pinggiran lengkap dengan jajanan ala kadarnya. Dan jangan salah, bahkan kopi lokal yang ada pun tetap memiliki konsistensi. Bedanya? Antara prestise dan membumi. Sejauh ini kopi jos di utara Stasiun Tugu tetaplah menjadi jawaranya bagiku. Dengan arang yang dicemplungkan secara biadap ke dalam kopi.

Pahit!

Itulah reaksi pertamaku ketika Galih mencekoki kopi jos untuk pertama kalinya. Aroma harum, panas, pahit, plus membumi bersinergi dengan kuatnya. Nyaris mengalahkan getirnya perasaanku pada saat itu. Sebenarnya efek yang sama tetap akan muncul pada kopi jenis manapun. Kopi adalah stress detox yang ampuh. Setidaknya bagiku. Sama seperti secangkir kopi yang tengah kunikmati dalam kehangatan yang menenangkan diantara hingar bingar kosmopolitan ini.

Hmm… masih hujan. Dan anak itu mungkin terjebak macet entah di persimpangan mana. Kopiku telah tandas. Setengah melirik waitress di dekat mesin espresso, tiba-tiba dengan ajaibnya lirikan tanpa arti aku langsung menempatkan waitress itu di hadapanku lengkap dengan senyum cerah cemerlang pepso***.

“Ada yang bisa saya bantu, Kak?”

Sstt… sapaan khas dengan selipan kata ‘kak’ ini selalu mengundang senyum jika kebetulan aku mendengar waitress menyapa pengunjung berusia lanjut. Kak Bob Sadino? Errr, I don’t think so :p

“Hmm… frappucino.” 

“Baik, Kak. Ada yang lain?”

Gelengan pelan.

Konsistensi bisa dalam bentuk apapun, bukan? *devillaugh*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar