Senin, 20 Desember 2010

Me Vote Myself


Beberapa hari lalu ucapan seorang teman pasca curhat tentang temannya membuat saya terdiam dan berpikir selama beberapa saat. Dia merasa bahwa seorang temannya yang lain, lebih mirip menyerupai sahabat palsu. Dan saya hanya tertegun,

“Kenapa?” tanya saya pelan. Agak susah menghadapi orang yang sedang diliputi cipratan emosi dan kekecewaan.

Dia hanya mengangkat bahu, berusaha tak peduli namun sebenarnya sangat peduli.

“Kompleks. Yang jelas, aku sendiri kok jadi nggak yakin ya, ada sahabat yang benar-benar tulus.” Sahutnya setengah jutek.

Whoaaaa… dan saya hanya mesam-mesem sambil menenangkan teman saya tadi. Sekali lagi, susah memang menghadapi orang yang sedang diliputi cipratan emosi dan kekecewaan. Hehehe.

Ucapan seorang rekan tadi mengingatkan saya sekaligus pada potongan film 3 Idiots, scene ketika Farhan dan Raju bersimpati ketika tak menemukan nama Rancho di lembar pengumuman hasil ujian, perasaan itu kemudian berbalik menjadi setengah bahagia setengah sedih ketika mengetahui sahabat mereka itu justru menduduki peringkat pertama. So pathetic


Seakan perasaan itu terbagi dua dan bipolar : dia yang berempati, menghargai serta memahami kepiluan sahabatnya. Sementara di sisi lain dia yang ambisius dan terus berjuang mencapai puncak prestasi. Oh, life. Mungkin, yang perlu digarisbawahi ‘hanyalah’ (oke, sedikit menyederhanakan rumitnya permasalahan bipolar di atas, sih) bahwa diri kita adalah satu-satunya yang bisa kita andalkan untuk mengatasi semua stressor yang membabibuta, jika kita memang tak ingin terjebak dalam segala bentuk kemenye-menyean. Hanya diri kita. Selesai.

Tidak ada yang benar-benar berduka atas kegagalan seorang teman.
(Gore Vidal, 1925)

         
Gore Vidal tampaknya menghadapi permasalahan serupa :p

1 komentar:

  1. I kinda agreed with what Vidal said. In a way, though. Tapi saya tidak punya masalah yang sama. :p [P]'

    BalasHapus