Rabu, 30 Maret 2016

Thankful Wednesday




Mumpung lagi iseng men-selo-kan diri, kali ini mau posting edisi terimakasih.
Bagi saya, berkembang tanpa dukungan lingkungan adalah bulshit. Mustahil. Karena bahkan dari kilasan lampu merah pun kadang kita kan mempelajari sesuatu.


**


Mbak Rino

Itu nama panggilannya. Saya sampai ingat nama panjangnya, Rino Martha Sashadanti. Tidak sengaja mengenalnya saat sela-sela jam kosong mata kuliah--saya lupa--tertentu. Tidak, kami tidak berkawan akrab. Saya hanya mengenalnya sambil lalu. Namun obrolan singkat bersama Mbak Rino seperti membuka mata saya. Ia dua tahun di atas saya, namun dari cara dia berbicara, sangat terlihat ia adalah seorang real enthusiast. Alasan kenapa ia bisa satu kelas dengan saya adalah karena Mbak Rino memiliki minat di luar kampus yang cukup menyita waktu di kelas.

Saya ingat, saat itu kami sedang membahas sesuatu, entah apa, hingga berujung pada minat saya untuk pengen iseng mencoba aktivitas di luar acara ngampus : part-time. Saat itu ada open recruitment part-timer di Dagadu. Saya iseng cerita hal itu, dan herannya Mbak ini menanggapi dengan antusias. 

"Udah, coba aja Dek! Sesekali keluar dari zona nyaman. Nothing to loose saja!"

hanya berbekal obrolan macam ini, nyali saya mendadak sebesar gajah dan nekat mengikuti oprec Dagadu--suatu hal yang sebenarnya mustahil saya lakukan, dan pada akhirnya justru hal ini lah yang mengubah hidup saya.


**


Gardep Dagadu

Komunitas ini adalah komunitas yang memberikan perubahan terbesar dalam karakter saya. Saya yang sangat pasif-pemalu-nggak pede, dipaksa untuk melawan semua sifat dasar saya saat itu. Saya dulu cupu, cupu secupu-cupunya (sekarang juga masih sih sebenarnya, haha). Muka lusuh, kulit kusam, pendiam--well, bukan pribadi yang cukup asyik diajak jalan. Hahaha. 

Sebagai part-timer--atau lebih tepat adalah SPG kaos--saya belajar cara berbicara, lebih speak up, mulai asertif, dan sedikit peduli penampilan. Saat part-time disana, cukup sering pula saya dikomplain terkait dengan rambut saya yang kering kerontang dan berantakan, mata yang sayu dan pucat, kulit berminyak, suara yang terlalu lirih. Parah! 

Namun konyolnya, justru dari komunitas seru ini saya belajar banyak tentang excellent service, passion, dan kreativitas. Tiga hal yang alhamdulillah saya bawa sampai saat ini.

Btw, bagi yang domisili seputaran Jogja dan masih aktif sebagai mahasiswa, coba deh ikut part-time Dagadu sebagai Gardep (Garda Depan) disini. Sungguh-sungguh pengalaman seru!


**


Ibnu Wibowo

Pria ini sudah menemani saya hampir selama tujuh tahun. Dia orang yang sabar, sangat sabar, sampai kadang saya berpikir saya sudah terlalu semena-mena dengan pria ini. Satu-satunya pria yang tahan menghadapi segala kekonyolan, keegoisan, kegilaan, bucket list yang mungkin sudah sepanjang Jakarta - Sidney (haha), saya yang suka swing mood

Mengenal dia pertama di Dagadu sebagai salah satu supervisor saya, he's not my type (HAHAHAH, habis ini saya nggak dikasih uang jajan bulanan nih!). Namun ada satu yang tidak bisa ditolak. Pintar. Saya suka sekali dengan orang yang pintar, yah meski kadang saking pintarnya saya suka terlihat bodoh dan tolol. Sial.

Dia adalah bagian hidup yang membuat saya bisa berkembang sejauh ini. Dengan segala kecuekannya, saya jadi bebas melakukan apapun dan mengutarakan apapun yang saya mau ataupun saya pikirkan. He's my borderline. I love you!


**


Perusahaan ini.
 
Disini saya belajar banyak hal. Dari anak kemarin sore menjadi seseorang yang (mungkin) rada berharga bagi kehidupan. Hehehe. Saya sungguh belajar sebagai ikan yang besar di kolam yang kecil. Thx to Dagadu, ilmu Dagadu sangat berguna disini. Di tempat ini, saya ditarik hingga batas terjauh, imajinasi terliar, ide-ide gila yang satu per satu direalisasikan menjadi kenyataan. Tempat dimana saya belajar, apapun impian tergilamu, jika kamu ngotot bisa pasti bisa!

Mbuh piye carane, gasrukke wae!


**


Yoris Sebastian, Rene Suhardono, Austin Kleon, Handoko

Mereka adalah penulis dan passion enthusiast favorit saya. Niat nekat saya menjalankan usaha Omah Bapak adalah karena terlalu banyak (in a good way) membaca tulisan mereka di media sosial. Nekat yang disertai niat dulu! Itu yang penting. Sisanya, biarkan karya dan antusiasme yang berbicara


**


Yah, ini adalah segelintir. Namun segelintir sungguh yang membuat saya bahagia. Terimakasih.
















#moviereview : McFarland, USA




Pelampiasan terbaik setelah hari kerja yang melelahkan otak dan setelah cuplis tidur adalah dengan ongkang-ongkang kaki sambil menonton film.

Semalam ada film oke di HBO, judulnya McFarland, USA. Sayang, ketika saya mulai menonton sudah jalan hampir satu jam, karena berkali-kali switch channel dan melewati HBO karena tidak tertarik dengan judul film ini (dan ternyata bagus!)


**

taken from here



McFarland, USA
IMDb  7.4/10
Casts Kevin Costner, Maria Bello, Ramiro Rodriguez, Carlos Pratts

Bersetting tahun 1987 dan merupakan sebuah true story, film ini bercerita tentang seorang pria bernama Jim White (Kevin Costner) yang pindah ke sebuah kota bersama keluarganya ke sebuah kota kecil. White melamar pekerjaan sebagai coach di beberapa sekolah, dan terus gagal. Hingga pada akhirnya ia berakhir di sebuah sekolah berisi para imigran, sebagai pelatih lari lintas alam. White menjadwalkan latihan rutin untuk kelas lari lintas alam, namun sayangnya hal itu tidak berjalan mulus, mengingat mayoritas siswa selalu bekerja di ladang sepulang sekolah. Dan bekerja di ladang merupakan sebuah tradisi kerja keras turun temurun di lingkungan tersebut. Tidak ada impian lebih lanjut seperti mengambil pendidikan lebih tinggi. Berada dalam situasi itu, dengan susah payah White melatih dan memberikan pemahaman kepada mereka, tidak hanya tentang berlari namun sekaligus tentang krusialnya sebuah impian dan cita-cita.

Seiring waktu, dengan tangan dingin White sekelompok remaja belasan tahun ini semakin giat berlatih lari. Mereka digembleng secara fisik dan mental. Mereka juga semakin terdorong untuk dapat membuktikan kepada orangtua mereka bahwa cita-cita dan dunia luar itu sungguh ada, dan tidak hanya dari sepetak ladang saja. Hal yang berat, mengingat itu sama saja dengan mendobrak tradisi meladang yang ada di lingkungan tersebut. Semua orang skeptis, karena tidak pernah ada sejarah bahwa siswa di McFarland--yang notabene imigran--dapat memenangkan lomba lari. Jadi sebetulnya itu hanya sia-sia saja, begitu menurut sebagian besar warga disana. Plus White sang coach adalah kulit putih, dan minoritas. Apa yang dapat dilakukan seorang kulit putih disitu?

Singkat cerita, pembuktian kerja keras dan latihan mereka terbayar saat mengikuti perlombaan kualifikasi ke tingkat negara bagian. White berusaha memberikan keyakinan pada para remaja tanggung tersebut bahwa mereka pasti mampu lolos dalam babak kualifikasi. Dan berhasil.

Kisah yang sempurna ini pun nyaris berantakan karena ada insiden yang memaksa White untuk memilih antara tetap mengajar di McFarland dengan kehidupan keras di daerah tersebut dan terkesan tidak aman namun dengan ikatan persaudaraan yang kuat, atau memilih pergi dan menerima tawaran dari universitas di luar daerah tersebut.


**


Saya sangat suka film-film seperti ini. Premis sederhana, tidak bertele-tele dan dibuat-dibuat--mungkin terlalu mudah ditebak--namun seperti sebuah ketukan kesadaran. Tiap orang bisa berjuang dan sukses, yang mampu membedakan kesuksesan itu adalah seberapa besar ia menginginkan hal itu. So, just keep going :)




"It's not the size of the dog in the fight, Coach. It's the size of the fight in the dog." -- McFarland, USA















Selasa, 29 Maret 2016

Weekendgetaway : Kuntum Nurseries Farm !





Belum lama ini, the Wibowo's main-main ke Bogor (again). Namanya juga lokasi yang paling terjangkau dari planet Bekasi yak. Getaway kali ini iseng-iseng nginep di Hotel Arnava, hasil browse di pegipegi.com . So far hotelnya cukup bersih (hal paling krusial, karena saya cukup toilet picky) dan rapi. Kebetulan nggak ambil paket breakfast disana, jadi belum bisa kasih rate untuk menu makanannya. Tapi secara keseluruhan hotelnya seru, ala hotel budget lain yang simple yet clean. Jaraknya rada lumayan sih dari pusat kota. Nggak apa-apa, rada ngirit. Hehe.

Agenda mBogor kali ini adalah ke Kuntum Nurseries Farm--sebuah peternakan dengan konsep cukup baik di daerah Tajur, Bogor. HTM nya pun cukup murah (kalau boleh saya bilang standar-hehe) 25K/orang. Pas masuk ada tumpukan caping pinjaman yang bisa dipakai  selama mengitari area Kuntum. Seru sih ya, karena niat utama adalah (ala ala) memperkenalkan binatang dan alam ke anak saya. Sepanjang disana anaknya heboh sendiri, antara takut-excited-kepanasan-seru. Ah ya, kita bisa kasih makan ke hewan-hewan lucu yang ada disana loh. Jadi pas masuk, ada corner khusus yang menjual pakan ternak. Yes, affordable price kok. Kita bisa memilih sayuran (sudah dalam bentuk set keranjang) atau susu atau jenis pakan ternak lain, tergantung pengen kasih makan hewan yang mana :)


si kucrit gaya banget, ogah digandeng

ala-ala petani kecil

anaknya serem lihat sapi, tapi pengen banget kasih makan rumput gajah

excited ketemu angsa

best angle :)

rimbun, namun tetap saja... panas



suka banget sama konsep tempat istirahat di bagian depan area ini. Lucu!

fish feeding :) sementara si bocah sibuk menghambur-hamburkan pelet ikan



asri banget!!

keseruan mana yang engkau dustakan, eh? 




Kuntum Nurseries Farm
Jl. Raya Tajur No.291, Sindangrasa, Bogor Tim, Kota Bogor, Jawa Barat, Indonesia








Kamis, 24 Maret 2016

Riuh



Lantai ini cukup riuh. 
Riuh dengan suara printer beroperasi, dering telepon di ujung meja, percakapan sambil lalu tentang konsumen, ketukan keyboard. Riuh.




Jumat, 18 Maret 2016

A Deep Feeling



Saya terdiam, dan merenung cukup lama sebelum benar-benar mulai menulis. Detik ini.

**

Saya suka sekali suasana sepi setiap istirahat Jumat. Membuat saya memiliki cukup banyak waktu untuk diam dan merenung tentang apapun. Tentang berbagai curhatan rekan kerja. Tentang idealisme-idealisme. Tentang apapun.

Banyak orang salah mengira tentang karakter dasar orang lain, kadang asal judging dari beberapa detik perkenalan. Ataupun hanya dari kilasan percakapan.

Well, couple hours couldn't determine you who really are.

Dan menerapkan empati (masih) menjadi hal yang tidak mudah, berusaha memahami visi dan motif seseorang melakukan sesuatu. Yang kita butuhkan memang hanya sepasang teling dan segelintir hati. Itu cukup. Kamu tidak perlu mengklaim gelar doktoral apapun untuk menjadi empati.





Jumat, 11 Desember 2015

Service with Heart




Caption di atas cenderung rada.--rrr--basi ya?
Judul di atas dipilih karena akhir-akhir ini lingkungan sekitar saya sedang berjibaku dengan hakikat service

**

Service, atau pelayanan adalah hal yang tangible (kalau menurut teori di perusahaan saya). Tangible, karena cenderung bisa dirasakan dan tak semata teraba. Bisa sih diraba, tapi dengan hati :) 
Entah kenapa saya pribadi merasa sangat dekat dengan kata 'pelayanan' setelah...

Mungkin karena saya pernah menjadi part-timer di sebuah gerai belanja, dan rasanya senang dan bangga ketika orang lain mengapresiasi pelayanan kita.
Mungkin karena saya mempelajari psikologi yang sangat erat dengan empati--perlakukanlah orang lain seperti kamu ingin diperlakukan dengan memahami terlebih dahulu kebutuhannya.

Pelayanan adalah hal yang kompleks, yang kadang suka diabaikan dengan beberapa statement picik :

"Ngapain ah, males! Kita nggak digaji untuk bikin seperti itu."
"Nggak usah lah ya, uda oke ini hasilnya."
" Nggak efektif kayaknya, nggak usah trial lah ya."

dan sederet konten-berujung-intinya-malas lainnya. Miris sih, karena ketika kamu bergerak dalam bidang jasa, yang bisa dijual HANYA pelayanan. Tidak kurang, tidak lebih, tidak berlebihan. Dan tetap saja ada segelintir orang yang merasa dirinya terlalu keren untuk sekedar peduli dan antusias dalam memberikan pelayanan maksimal. 

**

Suatu ketika kita memberikan extra effort dalam bekerja--just go miles away a lil bit--itu adalah ruang bagi kita untuk mendapatkan komplimen. 

Bukan karena sudah oke,
atau profit
atau buang-buang waktu

Cobalah dulu, dengan maksimal dan antusias, atau berikan extra effort pada daily routine yang ada, itu bisa menjadi feedbcak yang luarbiasa keren.

**

Dan di penghujung hari saya membuat ini saking gregetnya :




sebuah self reminder untuk sebisa mungkin berkarya dan berupaya dengan hati, bahwa setiap orang berhak atas pencerahan yang 'segar'.

Saya tidak peduli mau dibaca atau diabaikan atau ditertawakan atau bahkan disobek dan dibuang--sakit, sih, pasti--tapi minimal sudah ada sesuatu yang kita lakukan dan tidak menjadi bagian lingkungan masabodoh lainnya.





Rabu, 11 November 2015

What's Loyalty ?


Rupa-rupanya saya sudah benar-benar bergeser dari mindset bahwa loyalitas hanya ditunjukkan dengan setor tampang all-day-long.

Bukan itu.

**

Inilah kenapa dalam psikologi sangat ditekankan yang namanya observasi dan empati. Karena dari dua hal tersebut lah kita baru bisa menemukan hakikat human well-being yang sebenarnya.
Loyalitas, setelah saya jalani bertahun-tahun dari suatu budaya perusahaan, tidak semata perkara datang paling pagi pulang paling malam, menerjang hujan dan badai, dan hadir di setiap kegiatan. Bukan. Bukan perkara itu semua.

Semua kembali kepada sesuatu yang--setidaknya menurut saya--saya sebut purpose of life

Prihatin adalah ketika mendapati bahwa bekerja ala kadarnya kemudian menjadi hal yang biasa dan legal. Tidak salah, bahwa akan selalu ada beberapa pihak yang lebih money oriented ataupun achievement oriented. Itu lumrah, yang lebih tidak lumrah adalah ketika beberapa pihak hanya terfokus pada 'ala kadarnya'.

Mungkin hanya saya yang merasa greget.

Productive employees are happy employees.

Saya baru merasa produktif ketika saya merasa bahagia. Saya bahagia ketika menemukan apa tujuan saya bekerja 'mati-matian'. Mati-matian berpikir apalagi yang bisa membuat orang lain bahagia, senang, nyaman, dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Berusaha memfasilitasi ini itu. Yea, shit happens sometimes. Ketika sudah full charge siap melakukan eksekusi ternyata ujungnya digagalkan hanya karena masalah birokrasi atau rasa malas karena ribet. 

**

Beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan hati dan sukacita, terkadang tidak dihitung sebagai definisi harafiah bekerja. Bagi sebagian orang bekerja adalah berapa banyak yang kamu hasilkan. 

Quantity.

Semata kuantitas (Yaya, di bidang tersebutlah saya bekerja : kuantitas). Tidakkah rasanya sangat kosong ketika rutinitas kita hanya mengejar yang disebut kuantitas? Tidak bosankah ketika aktivitas dari hari ke hari, hingga bertahun-tahun ke depan ternyata hanya memberi dampak alakadarnya pada kantong dompet, tapi tidak 100% bisa mengisi hati?

Well, sayangnya tidak semua orang memiliki pola pikir yang sama.