Minggu, 06 November 2011

Different is (still) Different



Perkenalkan. Saya Reni. Saya suka hujan, menyeduh kopi pahit, membaca buku. Jawa tulen dan bercita-cita menaikkan kedua orangtua saya haji.”
“Hei. Aku Robin. Mulai detik ini aku akan memandu kamu selama dua minggu ke depan. Kapan-kapan kamu harus mampir ke dekat gerejaku, ada spot menarik yang bisa dijadikan spot kegiatan photo shoot kita."

**

“Ah ya, yang namanya berbeda ya tetap bakal berbeda. Sampai mati perbedaan itu mutlak. Dan pasti mengundang masalah.”
“Kamu picik, ya, Re.”
“Nggak. Rasanya sama pahit seperti ketika kamu menelan obat cina. Hanya saja, efeknya berkebalikan. Pahit pada akhirnya.”
“Dan kalau aku tetap berkata aku sayang kamu?”
It isn’t workin’.”

**

Ko, apa yang menjadi dasar sebuah hubungan?”
“Banyak. Memangnya kenapa?”
“Tampaknya aku jatuh cinta.”
“Pastikan dia sama seperti kita, Ro. Kamu pasti tak ingin seperti Cici.”
“Apakah memang semata hanya kata ‘sama’ yang menjadi dasar dari semua hubungan, Ko? Aku pikir manusialah yang menciptakan kata ‘sama’ untuk memukul rata perbedaan itu sendiri? Menjadi kotak-kotak seperti itu?”
“Tak sesederhana itu, Ro. Tak sesederhana itu.”

**

Bibit, bebet, bobot. Ibu ndak mau kamu punya pasangan aneh-aneh, Nduk. Cukup bibit, bebet, bobot.”
“Ro—“
“Ibu ndak melarang kamu berteman dengan Ro. Tapi sebatas itu saja, Nduk. Kamu kayak ndak tau Bapak mu saja. Mau apa kamu jadi gosip pas arisan trah?”
“Ibu—sebelum sama Bapak, Ibu pernah jatuh cinta dengan orang lain?”
“Pernah, Nduk.”
“Ibu nggak melanjutkan hubungan itu?”
Eyangmu ndak setuju… pacar Ibu dulu cuma lulusan SMP.”
“Tapi Ibu cinta?”
“…cinta. Tapi—“
“Ibu sayang?”
“…iya Nduk. Tapi itu dulu—“
“Bu, maaf Re lancang. Tapi-tapi itu, Ibu mengabaikan semuanya hanya karena dia lulusan SMP—karena Eyang? Padahal entah kapan takdir mungkin menjadikan pacar Ibu dulu sebagai atasan Bapak.”
“Itu berbeda, Nduk. Tolong. Jangan Ro. Tidak sesederhana itu. Perbedaannya terlalu jauh. Tidak sama.”



**

“Kita kawin lari saja, Re.”
“Kamu gila.”
“Aku nggak gila. Aku masih punya cukup logika untuk sekedar berpikir. Aku, dan kamu berbeda. Beda etnis. Beda agama. Beda budaya. Perbedaan signifikan yang sialnya memang ada sejak awal sebagai benteng. Dan masing-masing Tuhan kita yang mungkin sedang ‘iseng’ menuntun kita untuk bertemu seperti ini pada awalnya.”
“Dan aku harus mundur, sejauh ini. Setelah semua ini?”
“Aku bingung. Kamu tahu posisiku.”
“Dan tolong pertimbangan juga posisiku. Posisi hatiku yang menjadi tak karuan sejak kamu datang pertama kali.”
“…”
“Re…?”
“Aku tidak bisa. Kita—tetap berbeda.”
“…”
“Ro?”
“Aku berharap reinkarnasi dan masa depan setelah kematian itu ada, Re.”



1 komentar: