Senin, 21 Maret 2011

D’ Bagus : Varian Oseng-Oseng so spicy


Saya sebenarnya orang yang sangat suka makan. Makan apa aja. Speciality : menu yang bikin megap-megap saking pedesnya nggak ketulungan. Cabai, adalah wajib dalam dunia kuliner yang saya cicipi. Sama halnya Harry Potter yang kurang oke tanpa tongkatnya, bagi saya suatu menu belum lengkap tanpa ada kejutan pedas-pedas menggelitik. Dari sekian banyak favorit saya di Jogja, ada satu tempat yang sangat oke. Namanya D’ Bagus.

 
tampak depan warung tenda D' bagus
 
D’Bagus adalah sejenis warung tenda, satu dari sejuta warung tenda yang silih berganti menambah warna-warni kuliner Jogja. Warung yang terletak di Klebengan, utara pas Teknik Mesin UNY—menempati tanah lapang yang sepi di pagi hingga siang, namun menjadi hidup di kala senja. Warungnya membujur dari timur ke barat, dan terletak paling utara. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari warung tenda ini sekilas. Sama seperti warung kebanyakan disekitarnya, hanya terdiri dari tiga meja kayu sederhana, disertai beberapa bangku fiber, plus tikar bagi yang mau lesehan. Plus dapur seadanya khas warung tenda. Tapi, sekali mencoba menunya, bisa dipastikan pengen balik lagi (sudah saya buktikan, dan saya berhasil mempengaruhi beberapa teman, dan hasilnya sama seperti saya : ketagihan).
Menu andalan dari D’Bagus adalah oseng-oseng dan kremes, meski terdapat menu lain seperti aneka nasi goreng, sup-sup, dan seafood. Kalau saya, lebih suka oseng-osengnya. Kuahnya kental, dengan berbagai varian isi. Ada oseng seafood, oseng jamur campur, oseng orak-arik telur special, dan lain-lain. Aduh, lidah saya sampai bereaksi menuliskan menu tersebut *mupeng*
Buka sejak pukul 17.00 (tahap persiapan), dan menjelang malam (tapi jangan harap bakal menemukan menu-menu asyik jika Anda benar-benar mematuhi saya untuk datang menjelang malam, karena biasanya sudah ludes). Warung yang dikelola oleh sepasang suami-istri ini sangat mampu menyajikan menu yang menggugah selera. Pedas yang tepat, panas, dan sangat kental rasa bumbu—atau tepatnya—rempahnya. Kita tinggal menulis pesanan di kertas yang telah disediakan di tiap meja, dan memberikannya ke tukang masaknya. Jika Anda penggemar pedas, saya sarankan menulis menu dengan embel-embel pedas, atau kalau sudah terlanjur jadi, kita bisa minta sambal (atau irisan cabai rawit. Hmmm…)
Sekedar berbagi cerita, favorit saya sejauh ini adalah oseng-oseng orak-arik telur spesial. Berisi potongan sawi, irisan wortel, hati ayam, sosis, bakso, jamur, dan terkadang kalau beruntung ada potongan udang nyempil, disiram dengan kuah yang… mmm saya tidak bisa menggambarkannya dengan sempurna. Yang jelas. Pas dan mantab. Kental dan tajam.
Tentang harga? Well, kalau saya bilang pas kantong, bahkan mahasiswa anak kos sekalipun. Rata-rata menu dibandrol dengan kisaran 6000 – 15000 rupiah. Itu sudah plus nasi. Mungkin plus uang parkir seribu perak. Oseng-oseng orak-arik telur special saya seharga 8500 rupiah saja plus nasi dan taburan kerupuk. Itu sudah bikin kenyang loh. Sayang, saya lupa mengambil gambarnya. Kelak akan saya sisipkan disini agar Anda bisa melihatnya dan memimpikannya. Hehehe. Dan satu lagi yang disayangkan, karena keterbatasan tenaga dan tempat yang tidak permanen, warung ini tergolong cukup moody. Kadang buka, kadang tutup. Saya sendiri sudah berkali-kali menyambangi warung ini, namun berakhir kecewa karena tutup. Tapi kemarin saya berhasil mampir dan menunggu warung tersebut buka, menjelang pukul 6 sore. Saat saya tiba, tenda baru terpasang dan pemilik tidak ada (saya sampai duduk-duduk di lapisan semen dekat tenda, nongkrongin warung :D). Tak lama pasangan suami-istri tersebut datang naik motor membawa berbagai perlengapan dan bahan memasak. Mereka cukup heran mendapati saya sudah nangkring bahkan ketika warung tersebut belum selesai berbenah :) Ketika saya bertanya kenapa sering tutup, si bapak berkata bahwa keterbatasan tenaga membuat semuanya repot plus insiden puting beliung tempo hari, repot sekali tampaknya. Sedih juga mendengarnya…
Hmm, mungkin warung tenda D’Bagus hanya warung tenda biasa yang didirikan tanpa manajemen yang profesional. Bisa jadi hanya menyalurkan hobi saja, tapi jangan salah, menu-menu yang disajikan sangat amat layak bersanding dengan booth kuliner lain yang katanya modern dan elegan. Karena dalam dunia bisnis kuliner, menurut saya yang terpenting adalah rasa dan kualitas sebagai inti bisnis tersebut. Masalah manajemen, adalah hasil belajar dan pengalaman, ditambah network, serta bumbu modal. Sekali lagi, ini menurut hemat saya loh. 


Jumat, 18 Maret 2011

Deal with Bureaucrazy : S.K.C.K Hunt




yahh... empat setengah jam cukup lah...


Sebenarnya pada saat saya menulis ini saya sedang ingin mencakar orang, jadi daripada saya melakukan tindakan anarkis lebih baik saya menulis sesuatu yang (mungkin) bisa berguna pagi para-para yang sedang (atau tepatnya baru) menjajaki urusan birokrasi…

Akhir-akhir ini, saya sedang sok sibuk mempersiapkan segala sesuatu demi profesi baru saya : jobseeker. Huahh… jujur, saya jadi mending kuliah lagi deh *ooops, just kid* *meringis*

Beberapa hari yang lalu, demi membaca sebuah lowongan di media, salah satu persyaratannya adalah lampiran surat keterangan berkelakuan baik, or officially named SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian). Jujur, kemampuan terbaik saya dalam mencari surat-surat birokratis semacam ini adalah ketika perpanjangan KTP atau SIM C saya. Jadi saya benar-benar tak paham alurnya, dan hanya mengandalkan kata orangtua mengenai step-by-step mencari SKCK.

Hari pencarian SKCK dimulai dengan saya bangun terlambat (untuk ukuran ibu saya) gara-gara begadang semalaman menyelesaikan deadline. Terseok-seok, menuju kamar mandi dengan ceramah Ibu di pagi hari mengenai antri mendapat surat SKCK. Tapi dasar ndableg, saya tetap saja berangkat rada siang dengan amunisi asumsi saya : dress up well for the best service. Hehe. Jadilah saya berapi-rapi jail dengan outfit saya (demi Tuhan, saya hanya akan mejeng di depan aparat lanjut usia! --a). Foto. Check. C1. Check. KTP. Check. Dan dimulailah tujuan pertama saya,


            Pos #1 Kantor Kelurahan

Saya sudah harap-harap cemas akan antri, namun begitu menjejakkan kaki di halaman kelurahan yang menyambut saya hanya sepi. Jam berapa sih? Oke, jam 9 pagi waktu setempat, dan jam 12 jam ibu saya. Hanya sekitar 3 pegawai yang ada di bagian pelayanan. Dan… kehadiran saya direspon oleh bapak-bapak muda yang tampak asyik membaca koran. Okay.

BapakBacaKoran (BBK)     : Mau melamar dimana, Mbak?
Saya   : Di KPPU (Komisi Pengawasan Persaingan Usaha), Pak
BBK    : Oh, yang Pemilu itu ya? (sambil menulis di atas form)
Saya   : (membatin bahwa si bapak sotoy), bukan KPU Pak. Ini KPPU, ‘P’ nya   dobel…
BBK    : …

Dan saya mendapatkan form saya yang pertama, lalu sayapun dirujuk ke kecamatan, demi proses berikutnya. Dan diwanti-wanti membawa foto berwarna 4X6, serta fotokopi akte kelahiran. Well, karena foto saya yang 4X6 tinggal 2 biji, maka saya berniat mencetaknya lagi, dan akte. Saya lupa bawa akte lahir. Dan saya balik ke rumah…


            Pos #2 Kantor Kecamatan

Idem. Suasana sepi di kantor kelurahan. Selama beberapa menit saya celingukan di depan salah satu pintu (saking sepinya), hingga akhirnya saya memutuskan untuk bertanya pada mas-mas di dalam pintu. Intinya, itu memang tempat mengurus SKCK. Cukup lama saya menunggu, sambil sesekali menguap. Bosan. Mata saya iseng mengobservasi ruang 3X3,5 meter itu. Whiteboard yang digarisi dan ditulis secara manual dengan spidol. Sementara si bapak petugas (yang cukup berumur) sibuk mengetik dengan mesin tik tua. Tak-tik-tuk-tak-tik-tuk. Ingin deh, saya menyumbangkan komputer saking lamanya si Bapak mengetik sambil sesekali menyapukan cairan pembersih (baca : tipex). Akhirnya giliran saya. Bapak itu memeriksa KTP serta form dari kelurahan, dan bertanya,

Bapak             : … belum menikah?
Saya               : Belum Pak
Bapak             : Sudah besar kok belum menikah…
Saya               : … (%&&^$#@##??) (sekali lagi, basa-basi yang aneh)
Saya               : Kan kerja dulu Pak, sayang gelarnya.
Bapak             : Melamar dimana?
Saya               : KPPU, Pak
Bapak             : Pemilu, ya?
Saya                : .... bukan, Pak. ‘P’ nya dua, KPPU. Pengawas Persaingan Usaha…
Bapak             : (mengangguk-angguk) ini baru… masih kecil, kelahiran tahun delapan-delapan, udah cari kerja?
Saya               : … (berpikir bahwa si bapak mungkin menelan Baygon… tadi dibilang sudah saatnya menikah karena sudah besar, dan sekarang dibilang terlalu kecil untuk mencari kerja?? Geez… nampaknya saya langsung mencoret keinginan untuk daftar PNS deh…) (hanya bisa cengengesan nggak jelas)

Petugas itu lalu mengurus surat berikutnya. Dan saya menunggu lagi. Tak terlalu lama, surat saya jadi. Dengan administrasi sekedarnya (ada selembar seribu dan lima ribu di dompet saya, tadinya saya mau memberi seribu saja, tapi takut dikira pokil :p). Jangan lupa : foto, KTP, C1, akte, dan form tadi. Dan siap meluncur ke destinasi berikutnya.

Pesan moral destinasi #2 :  KPPU bukan BUMN yang cukup dikenal luas, dan… jika kamu cukup besar untuk menikah, belum tentu kamu cukup dewasa untuk bekerja… *garuk-garuk kepala*


Pos #3 Polres

Lebih tidak paham metode di kantor polisi. Pengalaman dengan kantor polisi saya hanya sebatas meminta surat keterangan hilang, KTP, dan SIM C. Di bagian depan, ada bapak-bapak dalam balutan kemeja kasual, sedang baca Koran. Tampaknya perlu lebih dari sekedar kejahatan sensasional untuk memberi kantor polisi ini ‘sedikit’ gairah… saya bertanya dimana untuk mengurus SKCK dan diarahkan ke bagian belakang kantor itu. Uhh… sedikit horor, karena saya melewati segerombolan polisi muda yang sedang asyik ngobrol. Takut-takut saya bertanya letak pengurusan SKCK, dan diarahkan dengan serempak oleh mereka : Lurus, kiri, kanan. Nah.

Ruang pengurusan SKCK lebih kecil dari ruang SKCK di kecamatan. Tapi saya tahu peradaban telah menyentuh ruang ini dengan adanya komputer. Nama saya dicatat oleh petugas, yeah, seorang polisi muda, beserta KTP dan form saya. Lalala… saya menunggu lagi sementara bapak tua yang mengetik form saya sebagai surat pengantar berikutnya. Ngik-nguk-ngik-nguk. Dan saya diminta memeriksa apakah data saya sudah benar (prosedur yang sama dengan dua tempat sebelum ini). Dan salah, nama saya jadi Nursasi Septirina… wejangan berikutnya : foto 4X6 dan 3X4 (karena ternyata saya belum punya pernah mengurus sidik jari…) dengan latarbelakang MERAH (oh, great! Punya saya, yang saya cetak adalah BIRU! Saya harus mencetak lagi. Rrrr). Saya memastikan dan didapat kesimpulan, foto berwarna dengan latarbelakang MERAH, fotokopi akte, fotokopi C1, KTP, dan form untuk pos terakhir.


Pos #4 Poltabes

Jam sudah menunjukkan… sepertinya lewat tengah hari karena cuaca sangat panas dan saya terbakar di jalanan, ketika saya sampai Poltabes (tempat terakhir, yippieee!). Adik saya sudah pernah kesini untuk mengurus hal yang sama, jadi saya tak perlu celingukan lagi di dalam Poltabes. Fiuh.

Ruangan yang menyambut saya adalah ruangan paling menyenangkan sejauh ini : bersih, dingin, tempat tidur siang yang oke di bawah teriknya siang (dengan AC dan keramik) *LoL* Dua petugas SKCK, yaitu dua ibu muda yang salah satunya sedang hamil tua, nampaknya polwan (harusnya sih iya…) memberitahukan saya mengenai syarat-syaratnya, dan oke, saya belum pernah cap sidik jari. Jadi saya harus mengurusnya terlebih dulu, lengkap dengan fotokopi C1, KTP, akte, kartu sidik jari, dan form rujukan dari Polres.

Saya menembus siang yang panas sekali itu, ke fotokopian di dekat ruang SKCK (sungguh sangat brilian mendirikan fotokopi di lingkup Poltabes, sangat berguna!) kemudian menuju bagian sidik jari.

BapakSidikJari (BSJ) : foto 4X6 nya 2 Mbak, nanti di bagian SKCK juga, 4

2 + 4 = 6

Dan saya (dengan bodohnya) HANYA mencetak 4. Dan yang 3X4 nya samasekali tidak terpakai. Thanks to mas polisi di Polres, thanks to bapak kecamatan. Saya terpaksa harus balik lagi untuk cetak foto. Sampai mbak cetak fotonya bilang,

MbakCetakFoto : Udah Mbak, dibikin back-up nya aja yang latar merah…  

Okay, Mbak. Saya memang bodoh dan tidak secerdas itu >____< Menunggu dan menunggu…

Dengan sisa-sisa semangat saya hari itu, sudah siang, panas terik menyengat, lapar karena belum sarapan, saya balik lagi ke Poltabes (parker seribu rupiah) dan buru-buru ke bagian sidik jari. Mengisi form dengan bingung karena ada kotak-kotak nggak penting. Bertanya pada polisi yang salah, dan dianjurkan menunggu. Sampai akhirnya mas polisi bagian administrasi bertanya apa keperluan saya. Dengan lega saya bertanya ini itu dan mengisi form-nya. Saya menunggu sebentar, kemudian si mas polisi tau-tau—WHOAA—melompat dari balik tempat kerjanya, lewat jendela, jadi si mas tadi melompati jendela dan menuntun saya membuat sidik jari. Adakah yang memberitahu saya bahwa mas polisi ini keren sekali? Besar, gagah, keren, berkharisma.

Jadi mas polisi ini membantu saya mengoleskan jari ke tinta, kemudian menggenggamnya—jari saya, dengan tangannya—membuat tanda sidik jari di setiap kolom (kolom jempol kanan, empat jari kanan minus jempol, telunjuk kanan, jari tengah kanan, jari manis kanan, kelingking kanan, dan bagian kiri, tentu). Sementara temannya yang lain, yang polisi muda juga, ikut melihat dari balik jendela bolong tadi dengan minat. Waw, mungkin ini adalah bagian terbaik dari perjuangan sejak pukul 09.00 tadi *terharu* Setelah itu saya dipersilakan cuci tangan di pojokan dan… ditangani oleh bapak polisi tua yang mana seharusnya tadi menuntun saya. Well

Saya menjutkan perjuangan ke bagian SKCK, mengisi 2 form lain, menunggu lagi. Kemudian memutuskan untuk melegalisir sekalian SKCK tersebut, jadi saya keluar fotokopi lagi (rangkap 5) dengan biaya administrasi 10 ribu dan biaya legalisir ala kadarnya (10 rb, saya masih berpikir untuk memberi seribu rupiah saja—pekerja SKCK di Poltabes sudah menikmati cukup kenyamanan dengan bekerja di ruangan yang bersih, ber-AC, dan memakai komputer). Dan…


I’m DONE.


Fiuh.




Kamis, 17 Maret 2011

::: HATE :::

Kenapa harus buku?

...Amoral...


  


buat buku-buku... yang jadi korban orang-orang tak bertanggungjawab... dukacita yang terdalam karena engkau dijadikan alat, untuk membunuh orang-orang yang (seringkali) dipojokkan sebagai praduga.
penyesalan terdalam :(







Rabu, 16 Maret 2011

Oopss… No BB Mom, just tomatoes, please!


Klontang.
Sendok melamin oranye favorit Chila beradu dendang dengan lantai. Ia melirik takut-takut ke arah Bunda yang asyik mengetik cantik, mengetukkan jemari lentik di atas board laptop. 
Fiuhhh… berjingkat, anak manis berpita lucu yang baruuuu saja menapak bangku sekolah dasar itu memungut sendok melaminnya, perlahan meletakkannya di atas meja, lalu kembali ke kamarnya di lantai atas. Mengendap-endap, tanpa suara. Karena Bunda tampak begitu khidmat. Tapi toh, Bunda memang jarang bisa mengalihkan pandangan dari laptopnya ketika sudah mulai mengetik. Tak-tik-tuk-tak-tik-tuk… jadi deh, Chila cuma bisa bermain dengan Bi Imah di dapur atau di kebun, itu kalau si Bibi nggak sibuk lihat infotainment loh ya!
Eitss… jangan salah. Boleh dong dia baru kelas satu. Membaca saja masih dieja be-a-ba-je-u-ju, be-u-bu-de-i-di, tapi Chila punya obsesi jadi orang terkenal. Sssttt… orang terkenal mirip kakak cantik bernama Cinta Laura, yang sangat lucu kalau sudah bilang ‘Aduhh betjek, nggak ada odjekkk.’ Hihihi. Chila juga hobi nonton infotainment loh. Gara-gara Bi Imah yang nggak bisa absen dari jadwal infotainment setelah kelar beberes rumah, memasak, dan menjemput Chila. Hmm…Ssstt (lagi), akhir-akhir ini Chila punya hobi baru. ‘Bertapa’ di sudut baby pink room-nya. Ngapain??

*** 
Jujur deh, ini semua gara-gara ulah Ayah. Akhir-akhir ini Ayah sering menginvestasikan, umm… apa yang disebutnya sebagai celah masa depan. Bunda suka geli sendiri mendengar kalimat ‘celah masa depan’, kesannya kok jadi mirip peraduan di dalam gua ala Spongebob dan Patrick Star yang terjebak sebagai manusia purba. Baru-baru ini Ayah membeli Ipad, gara-gara rayuan mas-mas penjaga pameran computer. Ipad!! Entah apa urgensinya. 
Tak heran. Ayah memang bekerja di salah satu perusahaan berbasis teknologi. Hal itu cukup membantu Chila sedari kecil untuk memahami bahwa, technology simplify her life. Bangun tidur, ada derak jam digital yang berpendar dalam gelap. Setelah itu, KLIK. Menyalakan lampu, byar-byur-byar mandi. Kemudian turun, menjumpai Bunda yang sibuk mengatur nasi goreng di atas meja, tentunya setelah dimasak… dengan kompor. Gotcha! Teknologi. Dan ketika Chila terlambat pulang, maka Bunda sibuk dan panik menghubungi Ayah via pesan teks dan telepon. Teknologi. Teknologi memanjakan kita. Sangat memanjakan. Ayah ingin anaknya bekerja di bidang teknologi kelak. Entah jadi CEO, software developer, milyuner macam Bill Gates…atau apapun… pokoknya yang membuatnya selangkah labih dekat dengan teknologi. Titik. Yah… Ayah adalah korban terknologi. Di kamarnya, ruang kerjanya, dimanapun Ayah berada pasti ada lilitan teknologi. Sama sih, Bunda juga. Tapi Ayah lebih parah. Kali ini, Ipad…

***
“Chila kenapa ya Yah? Kok akhir-akhir ini jarang cerita-cerita… “ Bunda mengupas kulit apel sambil setengah berpikir. Akhir-akhir ini Bunda sedang break dari aktivitas jurnalisnya, jadi dia bisa off dan fokus pada keluarga. Ayah—hmm… parah deh. Tangannya tak bisa lepas dari gadget barunya. Si Ipad. Lama-lama si Ipad jadi anak kedua Ayah dan Bunda tuh. Namanya jadi Ipadio Perdana. Duhh…
Tuu kan benar. Ditanya Bunda, ehhh Ayah malah diam saja. Belum tau rasanya dicubit perutnya sih. Tapi, nampaknya Ayah sadar deh, terbukti ia langsung meletakkan Ipad nya dan menatap Bunda. 
“Ehm—mungkin Chila lagi sibuk belajar, Bunda… bagus kan??” kata Ayah coba menenangkan. 
“Hmm…” Bunda bergumam tak jelas. Takut putri semata wayangnya kenapa-kenapa.

***
“Chila, ulangtahun mau kado apa?” 
Siang itu cukup terik. Bersama Chila, Bunda memilih untuk menghindar sesaat dari sengatan matahari di kepala. Mampir di Häagen-Dasz, macadamia nut buat Bunda, dan chocolate peanut butter buat Chila. Sudah belepotan kemana-mana saja tuh es krim, sampai Bunda sibuk mengelap pipi dan baju Chila. Kemarin Bunda sedikit memperbincangkan ulangtahun Chila yang ke tujuh, lengkap dengan pesta istimewa (maklum , masih kecil, masih anak pertama, dan masih terlibat euphoria pasangan muda). 
“Mmm… tomat.”
Bunda nyaris tersedak. Putri mungilnya, minta dikado tomat?? Yang bulat, ranum, merah, mengkilap??
“Tomat… Chila?” hati-hati Bunda mengulang kata-kata Chila.
Chila mengangguk-angguk cuek. Kakinya sibuk terayun kesana-kemari. Tak peduli, ibunya mengernyit dalam-dalam demi permintaan tomat.

***
“Masak tomat sih, Yah??” Bunda geleng-geleng kepala.
Si Ayah—yahh… tetap sibuk dengan Ipad barunya. Lebih mirip orang autis sebenarnya @.@
“Padahal kan bisa saja Chila minta boneka, minta sepatu baru, bahkan minta Blackberry deh… ini kok, tomat…”
Nah, mendengar kata Blackberry, Ayah baru bereaksi.
“Wah. Iya tu Bun. Blackberry. Sekalian Chila latihan menulis-membaca alphabet. “ Uhh, si Ayah ngaco. Yang ada bukan ‘menulis’. Tapi ‘mengetik’. Sangat-sangat mengkontaminasi pembelajaan motorik bocah.
“ … “

***
Hari ini, genap Chila berusia tujuh tahun.
Sesorean ini Bunda tampak sibuk kesana-kemari. Beberes dapur, belanja-belanji, cari pernak-pernik, perlengkapan pesta, gaun mungil warna pink dengan tutu dan pita-pita imut untuk Chila… Semua! Semua harus serba sempurna. Karena kali ini Bunda mengundang teman sekelas Chila dan teman-teman arisannya untuk merayakan pertambahan usia Chila. Jadi semua harus beres dan sempurna. Malu doong, kalau nanti tamu kecewa, apalagi jadi perbincangan pas arisan. Hmm… heran deh. Sebenarnya yang ulangtahun Chila atau Bunda, sih?
Nah, sampai pada sesi tiup lilin-potong kue.
“Panjang umurnya, panjang umurnya, setamuliaaaaa…”
HUUUUFFFSSSS
Chila kuat-kuat meniup lilin. Dan seketika sekeliling ruangan menjadi penuh tepuk tangan dan sorak-sorai. Ayah sibuk mengabadikan acara itu melalui handycam-nya.
Sementara semua anak sedang berlarian dan para ibu mengobrol, Chila diapit Ayah dan Bunda membuka hadiah satu per satu. Yang besar saja dulu. Hehehe.
“Boneka!”
“Buku dongeng!”
“Barbie!”
“Bantal!”
Chila mengabsen satu persatu hadiahnya.
Hingga kemudian Ayah menghilang sesaat, dan menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya.
“Itu apa Ayah?” seru Chila riang.
Ayah tampak sangat bersemangat. Ia langsung memberikan sebuah kotak biru muda berpita cantik.
“Buka dong Chila…”
Tanpa ba-bi-bu Chila langsung membuka hadiahnya. Sobek sana-sobek sini, buka sana-buka sini…sampai…
Ayah menahan napas, Bunda juga. Entah kenapa.
Dan…
Loh loh, ekspresi Chila kok sedemikian datar? Ia meletakkan kado dari Ayah-Bunda, Blackberry (rupanya Bunda termakan rayuan Ayah untuk memberi Chila kado berupa Blackberry) di sisi sofa, dan kembali mengabsen hadiah lain.
“Pot bunga!” jerit Chila sambil mengangkat tinggi-tinggi pot bunga plastik lengkap dengan miniature bunga matahari yang bisa bergoyang-goyang, itu loh, hiasan dashboard mobil yang harganya cuma dua puluh lima ribu sebuah. Lalu Chila membawa pot itu ke sudut ruangan, membaur dengan anak-anak lain sambil berceloteh riang. Meninggalkan Ayah dan Bunda yang melongo. Mengalahkan sekian juta demi dua puluh lima ribu…

*** 
Berjingkat-jingkat Bunda masuk ke kamar Chila. Kamar itu tampak berantakan, oleh boneka dan hadiah lain. Sementara Chila sudah tertidur pulas. Tampaknya kelelahan. Bunda tersenyum simpul. Ia mencium pipi putrinya dan membenarkan letak selimut Madagascar Chila. Hampir saja Bunda keluar ruangan ketika ia melihat gambar semrawut Chila tergeletak di bawah pot bunga plastic yang menjadi favorit Chila. Bunda tertegun. Gambar itu lugu, sederhana, dan sangat tidak artistic. Tampak jelas ia berusaha keras menyambung garis demi garis untuk membentuk… sesuatu yang tampak seperti sosok petani. Dibawah gambar itu ada deretan huruf mungil unproporsional.

Chila – petani tomat

Tulisan Chila.
***

“Kenapa Bun?”
“Seharusnya kita memberi Chila bibit tomat, Yah.”
“ … “
“Bun, kayaknya kamu capek, deh.”
“ … “
“Yah, tahu nggak? Kayaknya kita kecanduan teknologi deh… “
“Loh?”
“Nggak semua hal bisa kita selesaikan hanya dengan sekali ketik, sekali sentuh, sekali gesek… Ada hal-hal tertentu yang sangat mendasar, yang membuat kita lupa. Membuat kita berjarak. Alam. Kita melupakannya… “
    





  Thanks to Chila


Selasa, 15 Maret 2011

Junkfood-Facebook via Global Warming : Gumo *thinking*


Kalian pasti tak tahu, deh. Ketika senja menjelang, penghuni peternakan Holihololobel justru mulai menampakkan pantat mereka yang lucu diantara tumpukan jerami. Sejak ada program internet masuk peternakan, well, boleh dong keluarga sapi dan ayam—penghuni utama Holihololobel—menikmati layanan surfing riang di peternakan, sekedar menghilangkan kecemasan mereka dalam menghadapi kenyataan bahwa nasib mereka sekedar teronggok di atas selapis sandwich atau makanan junkfood.
Dari kesemua populasi Holihololobel, ada dua ekor makhluk yang hobi ngendon di depan komputer ber-OS Windows7. Ciwi dan Gumo.
“Petok-petok-aku pusiiingggg-petok-petok!!” Ciwi si anak ayam mulai berulah. Ia sibuk mengibas-kibaskan sayapnya yang belum ditumbuhi bulu sempurna itu ke segala penjuru.
“Uhuk-uhuk. Moooooo… Ciwiii. Kamu menebarkan debu kemana-mana! Moooo…” Gumo agak sebal dengan Ciwi yang nakal.
Ciwi si anak ayam memberengut. Ia menendang-nendang remahan bekatul. Sementara itu, Gumo kembali terlarut dalam aktivitasnya berselancar di Facebook. Tak seperti kaum sapi yang lain dengan akun Twitter, Gumo masih setia pada Facebook. Toh Gumo bukanlah sapi dengan totol hitam tercantik hingga takut akun Facebooknya di hack. Tak perlulah ia menjadi trending topic.
“Ihh, Gumo kok nggak punya Twitter sih?? Kan dari Twitter kamu bisa eksis…Moooo…” demikian sindir Gurara, anak sapi bangsawan (yang tetap saja, namanya sapi mau bangsawan kayak apa juga bakal berhenti di antara irisan lettuce dan tomat, plus mayones, kan? :p). And, so what? Exist isn’t great thing that I always wanna deal with (Gumo, 2011). Hehehe…
Oke. Kembali ke Ciwi. Ciwi sebenarnya sebal setengah mati pada Gumo. Gumo ini, kalau sudah keranjingan Facebook bisa benar-benar parah. Tidur larut, bangun telat, bahkan untuk sarapan rumput tersegar di sudut savanna bagian timur. Akibatnya, huh, Ciwi yang diuber-uber Pak Tua Jim, si pemilik Holihololobel. Apalagi kalau tidak untuk dijadikan menu baru di bar-nya. Tak dapat dipungkiri, akhir-akhir ini produksi daging dari peternakan Holihololobel tidak dapat dikatakan baik, tidak hanya di Holihololobel. Namun di seluruh penjuru dunia. Kabar baik bagi para pemamah biak, namun mimpi buruk bagi orang-orang seperti si tua Jim.
“Gumoooo, petok-petok-gantian dongg… petok-petok. Aku juga mau upadate status Twitter…petok-petok!” Ciwi kembali mengeluh dalam-dalam. Tapi dasar Gumo, ia malah sibuk mengetik di wall Loluta, sapi imut dari Cupritmarit.  Dan Ciwi teracuhkan (lagi).

*** 

Gara-gara Gumo yang nakal, Gumo mendapat hukuman dari Pipi Gumo. Pipi Gumo melarang Gumo bermain internet gara-gara kemarin ia lebih memilih internet daripada ikut Pipi Gumo dan Mimi Gumo merumput. Dan… Ciwi lah yang merasa paling bersukacita atas keputusan Pipi Gumo. Jadilah, Ciwi menguasai komputer selama sepekan penuh.
“Mooo… internet membawa pengaruh yang buruk! Mooo… Harusnya sejak kecil Gumo kita beri asupan yang benar seperti anak manusia dengan revolusi Baby Einstein—sungguh inspiratif! Mooooo…” Pipi Gumo berkeluh kesah pada Mimi Gumo yang lebih asyik merapikan bulu-bulu barunya yang baru tumbuh.

***
Gumo, bahkan Ciwi. Mau tak mau harus gigit jari. Karena para tetua Holihololobel menganggap internet berdampak buruk, tak lama lagi mereka harus merelakan sambungan internet yangsudah demikian lemot itu dicabut.
“Petok-petok! Sungguh kejam! Petok!” Ciwi mematuk-matuk bekatul yang jatuh dari karung di pojokan gudang. Anak ayam ini tampak begitu galau (meski lebih tepat jika dia sedang tampak begitu lapar dengan mematuk-matuk bekatul).
“Aduuhhhh…petok-petok. Apa yang bisa kita lakukan Gumo?? Petok-petok!” keluh Ciwi lagi. Duh, lama-lama Gumo bisa menyumpal telinganya dengan jerami demi tidak mendengar keluhan panjang-pendek Ciwi.
“Petok-petok! Kita harus menyampaikan protes! Bahwa internet itu berguna. Petok! Internet itu, seperti keluarnya Nelson Mandela dari penjara! Petok-petokkk!!” kali ini Ciwi semakin membabi buta menotol-totol bekatul.
Gumo buru-buru kabur, sebelum ikut-ikutan ditotol Ciwi. Tapi ia setuju dengan ucapan Ciwi : Internet itu mirip skenario Nelson Mandela keluar dari penjara. Menyapa kaum minor untuk bergerak, peduli pada kemerdekaan. Merdeka. Kemerdekaan alam. Itulah kenapa Gumo selalu menolak untuk ikut merumput di savanna. Air di savanna tercemar limbah pabrik. Pipi dan Mimi telah Gummo ceritakan mengenai kemungkinan yang ia lihat, betapa benda asing jahat membuang sekubik material beracun dalam sumber air dekat savanna, tanpa sadar mengotori tanah dan rerumputan. Mengabaikan pertemanan dengan alam setelah mengeruknya habis-habisan. Tak heran banyak penghuni Holihololobel jatuh sakit kemudian bernasib lebih apes daripada kebab atau hamburger. Dan dari manakah Gumo tahu mengenai kemungkinan limbah dapat meracuni rumput? Tentu, paman Google. Termasuk yang Gumo temukan di salah satu cuplikan posting blog sapi tetangga : tak ada satupun di Holihololobel yang tahu bahwa daging sapi berkontribusi pada penghancuran iklim global. Yeah, global warming. Bahkan si tua Jim tak akan paham, atau mungkin tak peduli…




Gumo tahu ia tak bisa menjadi Nelson Mandela. Tapi ia bisa, menulis blog, seperti yang dilakukannya selama waktu-waktu oopss-me-corrupted-my-facebook-time, mengenai pentingnya keterbukaan terhadap teknologi baru, bukan untuk gaya-gayaan. Namun untuk membuka mata dunia. Well, sekali lagi. Sapi tetap sapi, bukan? Jadi sapi disini juga bertanya pada manusia, are you ready to shout your environmental issues louder? We’re just cows, for God’s sake… we do nothing! Ohh, c’mon…

Linkage :

Fiala, Nathan. How Meat Contributes to Global Warming. 2009.

Bittman, Mark. Price of Meat : Cut Some Meat, Cut Global Warming. 2009.


Kamis, 10 Maret 2011

Bapak




Ini benar-benar hari yang gila. Gila! Seharian aku terjebak di dalam kantor, melewatkan makan siang, melewatkan jadwal konsultasi dengan terapis (yes, BIG part), melewatkan cerita penting Firan tentang bagaimana aku akan menjadi calon tante (umm, she’s getting pregnant. Am I jealous? Oh, I’m not jealous. I envy her! :)). Gara-gara ada tender besar yang sangat menggiurkan (oke, aku juga tergiur), maka tim ku harus lembur hingga lewat tengah malam—aku melirik lilitan Gucci mungil di pergelangan tangan—yah, dini hari. Bahkan aku mengabaikan seluruh akses komunikasi. Ada sekitar, umm… 15 pesan masuk dan 5 miscalls. Dari kesemua itu, pesan dari Bapak cukup mengambil alih rasa lelahku, Sambil charging, aku buru-buru membacanya,




Uffff. Aku menahan napas. Permintaan beliau kali ini, agaknya bakal bernasib sama dengan permintaan serupa Bapak sebelumnya. Aku paling tak bisa meninggalkan kantor, apalagi dengan tumpukan tugas menumpuk. Aku tak tega dengan tim ku yang akan kerepotan. Kami sudah berbagi tugas. Hhh… tapi rasa bersalah lain menyergapku, tiga Lebaran terakhir, aku tak bisa menikmati cuti dengan tenang. Tiga tahun berselang, mendadak aku harus terbang ke Medan. Tahun berikutnya, menjelang minggu terakhir Lebaran, aku harus mempresentasikan perolehan target di depan direksi. Dan tahun lalu… ah, sudahlah. Yah, tiga Lebaran. Mirip Bang Toyib saja, keluhku dalam-dalam. 


***


“Pak, May nggak bisa pulang lusa. Kerjaan May numpuk. Memangnya ada apa, Pak?” tanyaku di sela-sela meeting. Agenda hari ini sangat membosankan. Daripada aku kedapatan menguap dan jatuh tertidur, lebih baik aku ijin ke belakang dan menelepon Bapak.
“Putra nikah, Nduk.” Bapak menyebut nama sepupuku. Wah, cepat sekali dia menikah. Padahal kayaknya belum lama dia bilang hendak wisuda. Aku yang nggak update, atau waktu memang cepat sekali berlalu, huh? Satu yang aku suka dari Bapak, meskipun sudah masanya, bahkan mungkin lewat beberapa saat dari target, tak sekalipun Bapak pernah menanyakan kapan aku akan menikah. Ia cukup paham, layaknya ia memahami kami semua, putra-putrinya yang telah memiliki jalan masing-masing di usia kami yang dewasa, termasuk ketika kami satu-persatu meninggalkannya demi mengejar karir dan impian lain.

“Mas Rengga dateng?” aku menanyakan kakakku. Posisinya jauh lebih dekat dengan Bapak yang ada di Jogja. Sementara aku yakin Mbak Wulan—my lovely sister—dipastikan tidak bisa datang karena kehamilannya sudah memasuki bulan ke tujuh. Sedikit riskan untuk bepergian.

“Rengga sedang ada proyek di luar Jawa, Nduk.” Tampak getar kesedihan dalam suara Bapak. Tinggal seorang diri, hiburan di hari tuanya hanya seekor prenjak. Bapak sudah lama pensiun. Hari-harinya hanya diisi dengan bercocok tanam sekadarnya.

Aku terdiam,

“Nanti May telepon lagi ya Pak, rapatnya sudah mulai…”



***

 
Siang ini kebetulan aku bisa ngabur sebentar balik ke rumah. Ada berkas yang ketinggalan untuk agenda pukul 13.00. Aku membayangkan sensasi dingin dan nyaman ketika aku berhasil melepaskan stiletto favoritku dan telapak kakiku beradu dengan dinginnya lantai. Ahh, home sweet home. Tepat ketika mobil berhasil kuparkirkan di carport dan turun, aku terkejut bukan main.

“Bapak?!” 

Terburu-buru aku mendekat dan mencium tangannya. Pasti sudah lama Bapak menunggu. Sempat kulirik barang bawannya, satu travel bag sederhana, sebuah tas plastik yang berisi entah apa, dan sangkar kecil yang tertutup kain. Pasti—

“Bagong Bapak bawa, Nduk. Tidak ada yang merawatnya di rumah.” Tampaknya Bapak mengikuti arah pandanganku barusan.

Aku tersenyum. Sungguh, sulit terbayangkan bagaimana rasanya. Semua campur aduk. Senang, sedih, terharu, tak habis pikir… Mendadak aku menjadi sangat kangen dengan Bapak. Rutinitasnya meninabobokanku kala kecil dengan sebait penuh lagu Lir-ilir, tawanya yang terkekeh-kekeh, beliau yang tak bisa marah. 

“Yuk Pak, masuk. May bantu bawakan barang-barang Bapak.” Aku langsung meraih sangkar Bagong, prenjak kesayangan Bapak. Entah bagaimana aku berterimakasih pada prenjak ini. Dia, yang menemani Bapak, lebih dari putra-putrinya.


 ***
*** 


Hari ini Bapak ulangtahun. Sama sepertiku. Coba tebak apa yang beliau berikan padaku? Si Bagong, yang aku tak tahu bagaimana cara merawatnya, yang aku tak sampai hati membersihkan kandangnya, yang aku sangat paranoid dengan isu penyakit flu burung… Tapi itulah yang Bapak berikan padaku. Mungkin karena ia tahu, aku akan lebih membutuhkan Bagong diantara hari-hariku. Mungkin karena ia tahu Bagong bisa menemaniku dengan setia, sebagaimana yang Bagong lakukan pada Bapak. Ngomong-ngomong, ada alasan khusus yang membuat Bapak memelihara Bagong. Menurut mitologi Jawa, suara prenjak adalah penanda kehadiran atau kedatangan tamu dari jauh. Dan Bapak selalu berharap, kelak ketika mendengar kicauan Bagong maka ia melihat salah satu dari kami berdiri di depan pagar.  Pulang. Aku baru tahu alasan itu dari Mbak Wulan, belum lama ini. Ia diberitahu Bapak di suatu sore menjelang Lebaran, ketika aku memilih untuk terbang ke Medan.
 
Lalu, apa yang aku berikan di hari ulangtahun Bapak? Setelah Bapak merelakan Bagong untuk aku rawat meski Bapak tahu aku antipati pada binatang. 

Aku memberikan ini,

Satu buket segar anggrek bulan, satu yang menjadi kesayangan Bapak selain Bagong. Tampak begitu segar di bawah teriknya siang.

“Ayo pulang, May. Barusan Mbak Wulan menelepon…” Mas Rengga membimbingku keluar dari areal itu. 

Sedikit berat hati, aku mengikuti Mas Rengga. Menatap pusara Bapak untuk kesekian kali, aku tahu aku memiliki banyak waktu—yang bodohnya baru kusadari sekarang—untuk kembali mengunjungi Bapak. 

“Mas, mampir sebentar ke pasar depan ya. Makanan Bagong habis.”

“Nggak di pet shop aja?”

“Bagong nggak suka makanan mahal. Dia lebih suka pakan burung murah di pasar.” Seperti Bapak yang tak pernah mau kubelikan kemeja mahal atau kopiah baru, dan setia pada kaus putih dan sarungnya yang sudah bulukan. Sekuat tenaga aku menjaga agar air mataku tak kembali merebak.

Mas Rengga tersenyum lalu mengangguk.