Rabu, 15 April 2015

Only Dead Fish Go With the Flow



Ini stuck. Benar-benar stuck.

Pernah kah kamu merasa amat sangat stuck dan tidak tahu harus keluar dari suatu situasi?


**


Tidak peduli itu mudah, tapi menjadi peduli lebih sukar.

"Bagaimana kalau begini?"
Bodo amat lah.
"Gimana kalau acara diundur Senin?"
Persetan lah.
"Bagusnya bagaimana ya untuk prospek kedepannya."
Biarin lah.


Gampang sekali memang ya ternyata meng-lah kan segala sesuatu. Dan kali ini tetap saja stuck. Senang sih, menjadi tidak peduli. Tapi rasanya sangat garing. Dan membosankan total. Seperti berdialog dengan tembok.

Only dead fish go with the flow.






Jumat, 10 April 2015

A crazy hard feeling





Guilty feeling.

It's crazy hard being a woman-career mother. 

**

Kemarin sore ketika menjemput si Cuplis, Mbak di daycare nya bilang kalau anak saya habis jatuh. Mendengar kata 'jatuh' sendiri, hati saya langsung mencelos. Yah mungkin alay, tapi rasanya sangat bersalah. Tidak dalam pengawasan kita dan anak jatuh itu... rasanya mendadak gagal menjadi seorang Ibu.

Saya menulis ini setengah mati berusaha tidak mewek. Huhu.

Cuplis sedang aktif-aktifnya bereksplorasi.

Paham sih kalau yang namanya dititipkan di daycare berarti cuplis harus berbagai perhatian.
Dan kudu siap mendengar case batuk-pilek karena tertular teman-teman lucunya
Dan kudu siap mendengar dia lagi mogok makan dan tidak mau apa-apa
Dan kudu siap kalau ekspresi mbak daycare nya jengkel karena dia rewel terus karena tumbuh gigi
Dan kudu siap mendengar dia 'jatuh'

Seperti kemarin sore.
Tampak konyol mungkin, karena jatuhnya di atas matras. Tapi entah kenapa rasanya nyesek sekali. Dan malamnya saya langsung mengirimkan pesan singkat ke pengurus daycare tersebut. Dan setelah pesan itu terkirim, saya mendadak merasa bodoh...

Kan saya yang menitipkan si cuplis ke mereka, jadi itu risiko
Kan saya yang memutuskan untuk berkarir karena beberapa alasan
Kan saya yang kekeuh memilih daycare

Yes, it's crazy hard being a mother :(













Kamis, 19 Maret 2015

I HATE SLOW





#Ihateslow.





Saya benci bertele-tele dan ketidakpratisan. For any reason.

Cukup menyebalkan, melihat suatu hal yang langsung bisa dikerjakan harus ditunda karena beberapa kesibukan, dan ketika saya berniat take over hal tersebut dari yang bersangkutan ternyata masih saja ditolak entah karena alasan tidak percaya (yang tidak disampaikan) atau alasan lain apapun.

Saya juga tidak sempurna, sih. Tapi menjadi lambat benar-benar bisa memicu rasa kesal. Gemas dan geregetan. Just delegate it. Beda kisah jika saya hanya merongrong tanpa membantu apapun, kan?

Kalau bisa cepat kenapa lambat.
Kalau praktis kenapa dipersusah.

dan serangkaian kenapa lain. *sigh












Senin, 23 Februari 2015

Surat terbuka untuk para Eyang, Mbah Uti, Yangkung, Ibu, Bapak, Uwak, Pakdhe, Budhe



Surat terbuka untuk Eyang, Mbah Uti, Yangkung, Ibu, Bapak, Uwak, Pakdhe, Budhe, siapapun yang pada saat ini memiliki putra-putri dan sudah menimang cucu.


**


Selamat siang, Eyang, Mbah Uti, Yangkung, Ibu, Bapak, Uwak, Pakdhe, Budhe, saya berdoa semoga hari ini adalah hari yang luarbiasa bagi panjenengan semua.

Hari ini saya sedikit kesal, sedikit sih, dan semi terintimidasi oleh (mohon maaf) generasi panjenengan


Jleb #1

"Ini tadi kesini naik motor? Dengan seorang bayi?" 
seorang Ibu dari salah satu kerabat penitipan, sekaligus seorang Nenek dari seorang cucu teman main Abhi.

"Iya, Bu. Naik motor."

Ibu itu menatap saya dan Abhi--bergantian--dengan ekspresi amat sangat khawatir dan tidak tega yang teramat sangat menyiksa. Tipe tatapan yang saya kategorikan sebagai 'parah-sekali-anak-sekecil-ini-naik-motor-kesana-kemari'.

Saat itu saya gatal sekali untuk mengeluarkan statement rada pedas yang akhirnya saya tahan : "Kalau adanya cuma motor terus bagaimana lagi, Bu?" - yang mana statement itu saya tahan dalam-dalam agar tidak keluar dari ucapan saya. Takut kualat.

Melihat situasi awkward itu, owner daycare Abhi langsung menimpali bahwa saya diantar dan tidak sendirian bersama Abhi.

Saved by the bell--namun tetap saja rasanya menyebalkan loh Eyang, Mbah Uti, Yangkung, Ibu, Bapak, Uwak, Pakdhe, Budhe.


**


Eyang, Mbah Uti, Yangkung, Ibu, Bapak, Uwak, Pakdhe, Budhe, 

Jleb #2

Minggu pagi lalu, suami saya pulang dari jalan-jalan pagi bersama Abhi, sementara saya sibuk doing some housekeeping tasks--jenis pekerjaan yang baru bisa saya lalukan di hari libur karena ada suami saya yang bisa menjaga Abhi.

"Tadi ketemu ibu-ibu tetangga di gang depan."
"Lalu?"
"Iya tadi cerita-cerita tentang Abhi, lalu dia mendadak menitikkan air mata ketika bercerita setiap hari melihat Abhi dibawa kesana kemari kehujanan dan kepanasan. Berangkat pagi, pulang malam."

Saya diam, suami saya diam.


**


Eyang, Mbah Uti, Yangkung, Ibu, Bapak, Uwak, Pakdhe, Budhe.
Saya paham betapa tidak teganya kalian melihat anak sekecil Abhi menjalani hidup sedemikian beratnya, dengan jam operasional di luar rumah sama seperti ayah dan ibunya. Tapi, jika boleh saya kembalikan kegelisahan itu kepada anda, Eyang, Mbah Uti, Yangkung, Ibu, Bapak, Uwak, Pakdhe, Budhe...

Jika ada pilihan lebih baik menurut panjenengan sekalian apakah saya akan sebodoh itu mengikhlaskan periode terlucu Abhi kepada orang lain? 

Sudah cukup berat rasanya tiap hari saya harus mengenyahkan perasaan 'terpaksa' ketika mengantarkan Abhi 'sekolah', membawakan makanan dalam kondisi tidak benar-benar fresh from the oven, secara berkala menelepon untuk memastikan kondisi Abhi baik-baik saja atau sedang apa, atau bergulat dengan perasaan bersalah bila mendadak hujan turun sangat deras di pagi hari dan saya mau tidak mau tetap harus masuk kantor dan itu berarti Abhi kehujanan.


**


Eyang, Mbah Uti, Yangkung, Ibu, Bapak, Uwak, Pakdhe, Budhe,

Bisakah saya sedikit meminta tolong, sedikit bantuan, untuk bersedia mengerti dan memaklumi--sedikiiiiit saja, bahwa beginilah realita hidup di ibukota. Bahwa jaman memang sudah berubah. Bahwa pekerjaan tak lagi hanya seperti PNS yang selo dan mudah, ataupun berlokasi sejengkal dua jengkal dari rumah.

Ibukota yang keras dan berat. Ibukota yang terkadang memberikan pilihan teramat sulit bagi otak dan badan untuk sejenak beristirahat. 


**

Eyang, Mbah Uti, Yangkung, Ibu, Bapak, Uwak, Pakdhe, Budhe,
Tentunya kami tidak ingin berada dalam kondisi ini selamanya. Ada masanya kami ingin menjadi guru bergelar S1 yang well educated, great manner bagi anak-anak kami. Ada masanya kami ingin dan pasti menjadi koki terhandal dengan menu-menu bintang lima bagi putra-putri kecil kami. Ada masanya kami ingin memberikan pelukan terhangat ketika mereka sedang sakit ataupun sedih. Kami--dan bukannya nanny, babysitter, pembantu, ART, guru, mbak, om, tante, atau bahkan Eyang, Mbah Uti, Yangkung, Ibu, Bapak, Uwak, Pakdhe, Budhe sekalian. Akan ada masanya kami yang menjadi dan pasti mengambil semua peran itu.

Eyang, Mbah Uti, Yangkung, Ibu, Bapak, Uwak, Pakdhe, Budhe,
Sampai masa itu tiba, bantulah kami dengan sedikit pengertian dan senyuman alih-alih ekspresi sedih tak tertahankan karena cucunya berada jauh dari kenyamanan rumah sendiri selama sekian jam. Karena jika ada yang lebih sedih, tentulah itu kami sebagai seorang Ibu :') 









Jumat, 30 Januari 2015

An essential thing in life





Menjadi tidak peduli itu mudah, tapi menjadi peduli butuh effort luarbiasa.


**


Ada satu author yang sangat saya kagumi, bahkan sejak buku pertamanya rilis di publik. 




taken from Google


Rene Suhardono. 

Buku- bukunya terkadang memang cukup 'idealis'. Idealis dalam tanda kutip, karena idealisme itu faktanya cukup menampar saya berkali-kali. Dan bila dibaca dalam keadaan rapuh karena tekanan kerja, bisa dipastikan buku ini seakan mendorong gerakan eksodus dari pekerjaan yang sekarang. Pathetic. Hehe.

Terlepas dari spelukasi terhipnotis, saya pribadi sangat suka dengan pola pikirnya dan hasratnya untuk 'change the world' dari skala terkecil, diri sendiri. Bukan lagi perkara apa passion mu, apakah pekerjaan sekarang sudah cocok atau tidak, perusahaan sekarang sudah memfasilitasi 'kemerdekaan' berkembang atau belum, atau alasan klise dan cere seperti masalah gaji tidak sesuai, bos tidak asyik, so on.

Tidak munafik, itu kebutuhan yang cukup mendasar untuk diperhatikan. Tapi, tetap saja, rasa-rasanya ada hal lebih dari itu.
Membaca bergantian buku-bukunya semakin mengingatkan saya tentang arti berkarya. Tidak hanya berkarya untuk pribadi atau sekedar make some profits dari karya itu, tapi lebih kepada berkarya untuk berkontribusi. Minimal dengan membaca buku-bukunya saya bisa tertantang untuk lebih dari sekedar mengeluh, mencaci, dan memaki keadaan. 



**




 taken from Google



"Adain acara yuk, biar kantor ini seru!"
"Ah, nggak usah lah ya, bos nya juga nggak care."

"Ikutan kegiatan ini yuk, biar cabang kita eksis."
"Ah, ribet ah, males ngurusinnya."

Dan sederet ah-ah lain. Menjadi berbeda, bersemangat, dan berkontribusi terkadang menjadi benar-benar diperumit oleh keadaan, lingkungan, dan peers. Dan bukan sekali dua kali, beberapa orang yang tadinya berapi-api dan cukup ekstrovert mendadak terpaksa masuk kembali ke cangkangnya. Ya, dipaksa oleh keadaan.


 **


Ada satu materi kuliah psikologi saya jaman jadul yang baru saya ngeh ketika bekerja. Teori hirarki kebutuhan manusia. Kebutuhan tertinggi manusia sejatinya adalah pengembangan diri atau aktualisasi diri. Membaca buku Rene yang sangat menggarisbawahi passion, passion, dan passion, yah--ternyata sangat sejalan dengan teori Bapak Maslow itu. Saat kuliah, istilah 'aktualisasi' sebenarnya sangat far away dari otak saya. Dan kini saya baru ngeh dengan arti aktualisasi ini.

Setiap orang butuh eksis, bukan ala-ala selfie
Setiap orang butuh berkembang secara IQ, EQ, dan SQ
Setiap orang butuh wadah dan mentor untuk bisa mengembangkan diri

Setiap orang, termasuk saya, terkadang terjebak diantara keinginan yang sangat kuat dan menggebu untuk bisa berkontribusi dan berkarya dan berguna menciptakan sedikit perubahan (dan terkadang terkesan sok suci, munafik, pahlawan kesiangan, banci tampil, cari muka, menjilat, dan sederet label negatif lain), tapi terkadang terdesak oleh lingkungan mayoritas. 

Dan benar,


Birds of a feather flock together.

Akan lebih mudah jika ada partner dengan kesamaan visi, misi, slogan, doktrin, ataupun passion yang serupa. Akan lebih mudah ketika suatu ide bisa digagas secara tepat dan pada porsinya. Selalu tidak mudah sendirian di tengah kerumunan. Selalu ada tantangan menjadi hijau di kerumunan berwarna merah. Susah, tapi selalu ada harapan. Dan sampai pada titik ini, rasanya benar-benar seperti sudah sangat di ujung tanduk. Pada akhinya, ternyata saya baru sadar saya PUNYA yang namanya kebutuhan akan aktualisasi diri. dan ketika itu tidak terfasilitasi, tidak tertampung dengan baik, atau minimal tertanggapi dengan baik, rasanya sangat menyebalkan. 

Yah, it's sucks

Karena lebih lanjut, aktulisasi diri tidak melulu kamu resign dari suatu pekerjaan, membuat usaha sendiri, dan sebagainya dan sebagainya (well, sometimes 'make-your-own-path-by-yourself' rule sounds tempting :p). 

Aktualisasi adalah bagaimana kamu akan berkembang dan mau belajar berkembang, di situasi dan lingkungan manapun. Yah meski setiap orang bebas menentukan di media seperti apa mereka ingin dan akan berkembang, indeed

IMO, Aktualisasi juga bukan melulu mempertanyakan dan mendebat ketiadaan mentor atau wadah, sih. Terkadang dengan at least mencoba untuk berkontribusi kamu juga bisa belajar mengembangkan diri.

Ya, aktualisasi memang sangat esensial. Tapi lebih esensial lagi cara dalam mencapainya. No pain, no gain




thx Rene Suhardono, your words really an always make my day









Jumat, 23 Januari 2015

Do somethin



Do something. 

** 

Beberapa orang terkadang baru menyadari karakter lain dirinya ketika tertekan. Termasuk saya. Akhir-akhir ini saya mudah terbakar berapi-api oleh oranglain. Tepatnya oleh pencapaian orang lain. Bukan pencapaian secara materi, namun lebih ke eksistensi diri. Yayaya. Saya ingin eksis. Eksis dalam apa yang menjadi minat saya. Gemas sekali rasanya melihat orang lain 'sukses' dalam membudidayakan eksistensi. Lalu bagaimana cara? Kepala saya kian sering berkerut memikirkan ini tiap harinya. 

** 

Teman saya bernama Aichiro. Kami biasa memanggilnya Chiro. Dulu kami mengenalnya sebagai seorang teman SD yang cukup nakal, terlalu aktif, dan jago matematika. Kini, namanya familiar dengan Indonesia Mengajar, Anies Baswedan, founder Sabangmerauke.org, student exchange Belgia, dan sederet prestasi lainnya. Bahkan menulis satu buku. Ya, saya iri secara positif. 

** 

Buku itu berjudul Stargirl. Tokoh utamanya adalah ABG wanita bernama Stargirl. Karakter yang sangat menonjol dengan segala polapikir, perasaan, dan kebiasaan. Bahwa berbuat baik itu adalah kebahagiaan. Bahwa berbuat baik itu bisa sangat sederhana, sesederhana ucapan terimakasih. Bahwa memiliki tujuan untuk membahagiakan orang lain bisa jadi adalah tiket utama menjadi bahagia. Truk makan siang silver dimanapun kamu berada, selalu menginspirasi. 

** 

Bob Sadino. Beliau berpulang belum lama. Dan cara yang nyentrik dalam berbisnisnya sangat menyentuh pikiran saya : Bisnis bukan dipikir, tapi dijalankan! Persetan tanpa modal, tanpa sumberdaya, niat adalah modal terbesar. 

** 

Hmm, terlalu banyak inspirasi. Kini cita-cita saya benar-benar diujung tanduk untuk diwujudkan. Dan harus berwujud! Mbuh piye carane, pokoke gasrukke wae! 




Rabu, 21 Januari 2015

Absurd



  

**
Terkadang ya, bentuk emosi itu seperti celah di dinding yang merembes ketika musim penghujan turun dan lupa dilapisi lapisan anti air.

**