Selasa, 21 Agustus 2012

Never.Ending.Jogja : Sadeng Beach!


Hari ini, pada akhirnya saya nglencer juga.
Jogja, kota yang saya bilang kota kecil ini, memang belum semuanya saya jamah. Dan disinilah saya, beberapa jam lalu.

Sadeng, eksotisme lain Gunung Kidul

***

Berlokasi kurang lebih 40 km timur Wonosari (Gunung Kidul), pantai ini terletak di Desa Songbanyu dan Desa Pucung (dua jam via mobil dari rumah saya di Kotagede - situasi jalanan dari arah Jogja tidak terlalu macet, mengingat hari ini masih masa libur Lebaran). Perjalanan menuju Sadeng sendiri melewati jalan meliuk-liuk macam ular dan relatif sepi. Bagi yang berminat kesana harap dipersiapkan stamina, karena medannya cukup curam :)

Saya sempat kecewa mendapati tidak ada pasir-pasir putih bertebaran luas di tepi pantai (esensi pantai menurut saya adalah main pasir!:)). Kalau iseng diamati, Sadeng sebenarnya lebih mirip pelabuhan mini... minus peti kemas, kontainer, dan kapal raksasa--dimana konsep awal tempat ini pun, adalah TPI.


Tapiii... tak ada pasir, kejernihan air pun jadi. Double WOW. Yang paling penting, saya bisa nyemplung dan berkecipak-kecipuk :))


Sadeng, kesimpulan saya adalah perpaduan Sanur dengan pemecah ombak buatannya,Tanah Lot dengan geografi karangnya, Sundak dengan bening air pantainya, Depok dengan TPI nya. Lengkap, untuk ukuran 'pantai' yang tidak bisa dibilang luas. Airnya tenang, anginnya pun tidak terlalu kencang. Pegalnya badan selama perjalanan dua jam terbayar demi melihat kontur pantai ini. 

Tanah Lot KW, versi miniatur...

Pecahan karang turut menambah keindahan bibir pantai, di sekitaran pemecah ombak

Jernih, namun tidak terlalu dalam

Saking jelasnya, kaki saya yang berendam di dalam air pun begitu nampak :p
narsis, teuteup :))

Sudut ini sedikit mengingatkan saya pada hutan bakau

Pecahan beton bebatuan yang memang digunakan sebagai pemecah ombak

Adik kecil yang satu ini sedang sibuk menghitung jumlah ikan
kecil yang berhasil didapatkannya--aktivitas yang juga dilakukan
sebagian besar pengunjung yang membawa putra/putrinya :))


***

Jogja itu never ending. Tak akan habis, tak akan putus saya nyerocos tentang Jogja dan euforianya. Setelah berbulan-bulan saya tahan diri untuk tak pulang kampung, mudik Lebaran kali ini adalah pelampiasan mutlak. Jogja yang kata orang lugu, polos, dan ndeso... dengan kesederhanaan dan eksotisme alamnya, sangat mampu membayar kepenatan puluhan hari sebelumnya. 

Dan ya, selalu ada alasan, untuk pulang ke Jogja :)




Senin, 20 Agustus 2012

Hatimu, boleh dititipkan kepadaku?


Aku tak bisa merasakan angin yang lebih memukau daripada sore ini. Berhembus lembut, lirih, memainkan lonceng cina di beranda belakang dengan harmonisasi yang tak mampu digambarkan. Dan ya, ngomong-ngomong waktu berkejaran kencang akhir-akhir ini. 

 ***

"Sudah deh, masa iya kita harus berdebat untuk hal-hal macam ini?"
"Macam ini? Seharian penuh tanpa kabar, bahkan sekedar menanyakan kabar pun tidak? Aku tidak perlu berdebat, begitu?"
"Terserah deh, aku capek. Seharian ini aku repot dengan serangkaian jadwal visit klien."
"Kamu pikir, semua kesibukan hanya ada padamu? Aku juga sibuk!"

*** 

"Hei, kamu baik-baik saja?"
Whoops. Another stupidity. Aku terlalu sibuk melamun, hingga tanpa sadar teh yang aku tuang dari teko meluber kemana-mana. Sedikit gugup, aku menyeka sisa tumpahan itu dari permukaan meja. Nice try. Meskipun tak terlalu berhasil menyeka sisa tumpahannya di atas meja, menimbulkan guratan motif baru.
"I'm fine."
"Dari ekspresimu, tidak. Kamu benar baik-baik saja?"
Bisakah... bisakah pertanyaan itu keluar dari mulut seseorang yang aku harapkan, bukan orang lain seperti momen ini?
Cengiran terbaikku biasanya mampu menolong, tapi tidak kali ini.

*** 

Ketika seorang pelari amatir gagal dalam arena yang bahkan menjadi tempat berlatihnya tiap sore, bukan berarti pelari itu tidak mencoba bukan?
Semua orang berhak membuat justifikasi mengenai suatu usaha. Tapi tidak setiap waktu pula justifikasi itu tepat, meski sudah dikalibrasi berkali-kali sekalipun. Tidak pula dalam suatu hubungan. Hubungan ini tentu bukan kompetisi diantara dua orang, kan? Bukan pula lomba debat untuk memenangkan plakat di tempat pertama. It takes two to tango. Sparring partner. Kamu tidak perlu berselingkuh untuk merusak sebuah hubungan. Cukup jatuhkan dengan tidak memberi dukungan. Hubungan yang seperti jambangan porselen bisa hancur berkeping-keping. 

***

"Estimasi waktu itu ada. Setidaknya, aku juga ingin memastikan bahwa keputusan besar, memang bukan main-main. Pernikahan ini."
Aku mendengar, dalam delusi ku, bahwa aku terkesan sebagai pihak yang main-main. Yang bisa saja bertindak bodoh seperti menolak muncul di pelaminan pada hari H. Tahu rasanya? Seperti tamparan.
"Aku butuh bukti, bukan hanya janji. Buktikanlah."
Suara blower bahkan jauh lebih kencang dari ini semua.
"Terlalu banyak dikecewakan, terlalu banyak dijanjikan. Dan stok pemaklumanku ada batasnya."
Pernah merasa berada di tepi jurang, sementara deretan singa kelaparan siap memangsa? Aku pernah, dengan situasi hampir sama dengan plot berbeda. Saat ini. 
Boleh, aku memilih terperosok ke jurang?

*** 

Waktu kecil, ada satu impian yang aku simpan rapat-rapat dalam segala imajinasiku. Menikah. Bagiku, gambaran momen sakral nan istimewa ini begitu luarbiasa. Aku selalu terpaku kagum dengan setiap detail bahasan pernikahan. Kerumitan desain busana, kilauan berlian dengan kotak mungil berwarna telur asin, visualisasi indah dari tiap menu yang tersaji, suara mistis pranata cara, semuanya. Itu adalah momen. Momen tertinggi dari suatu pernikahan adalah resepsi. Itu bayanganku ketika aku masih berseragam merah-putih.

*** 

Hari-hari setelah resepsi adalah kegilaan sebenarnya. Dan ya, ngomong-ngomong lagi, harapanku sederhana. Dengan segala kerumitan, kekesalan, emosi yang bertumpuk dan bersahut-sahutan.
Tolong, percayakan kepadaku, hatimu.
Aku hanya ingin tiap pagi bisa melihatmu yang masih tertidur pulas dengan rambut mencuat kesana-kemari, menyuapimu ketika kamu sakit setelah begadang semalam suntuk mengerjakan portofolio, memasakkan menu favoritmu meski aku paling takut dengan cipratan minyak meletup, menenangkanmu ketika mendadak kamu terbangun di tengah malam tanpa sadar, mengigau, kemudian tertidur kembali.
Sesederhana itu, aku ingin menemani harimu. Jadi tolong, percayakan semua stok perasaanmu kepadaku. 




 
 


Selasa, 14 Agustus 2012

Yes, I do




"Maukah kamu mendampingiku saat aku dalam kondisi terburuk?"
"Ya."
"Maukah kamu mengingatkanku ketika aku salah?"
"Ya."
"Maukah kamu menemaniku kalau dunia mendadak memusuhiku?"
"Ya."
"Maukah kamu hidup denganku?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Buatku, kamu adalah semua peran yang aku harapkan untuk menemani. Dan sekarang, aku ingin setidaknya akulah semua peran yang bisa kuberikan untuk menemanimu."
"Lalu?"
"Yes, I do."



Minggu, 12 Agustus 2012

Silence of words


Nyaman adalah perasaan seperti malam hari ini, di tepi jendela. 
Ada banyak hal yang sebenarnya bisa kita perbincangkan. Tumpukan deadline, tagihan kartu kredit, kesempatan promosi, renovasi rumah, tetangga yang baru saja bercerai. Sayangnya, ada kadangkala ingin diam saja. Hanya duduk diam di tepi jendela, memandang bulan yang tak lagi gemerlap. Cenderung masam, malah.

***

Aku benci, waktu kita yang sudah sedikit dan menipis makin dipersingkat dengan bunyi PING Blackberry, merahnya lampu LED nya berkedip, nada telepon masuk yang tak henti bersambutan, mention Twitter yang bertubi, dan hal lain. Egois ya? Ya.
Tak bisakah rasa lelah menggila yang terforsir seharian penuh, eight to eight a day, digantikan oleh sesuatu bernama sunyi?
Ada kalanya aku tak ingin menghabiskan sisa malam di lounge - berbasa-basi mendengarkan live music sebagai suatu lifestyle statement, menyusuri sepanjang Tebet atau Kemang demi kulinerisasi, berdesakan berlomba menonton premiere, atau bahkan menghilang ke pulau terpencil yang cantik. Tidak, bukan itu semua, kadangkala.

Aku hanya ingin duduk, diam. Dengan kamu diujung sana. Mendengarkan suara yang selama ini terlewat karena satu sama lain dari kita sibuk berucap makian terhadap bos, lelahnya mengejar target, tidak enaknya menu yang baru saja dipesan, hal lain yang menambah kompleksitas hari.

Duduk dalam diam. Memandangimu. Kadangkala lebih dari cukup buatku untuk mengatakan apa yang perlu aku katakan. Sempurna, jika aku - kamu - kita, bisa menemukan satu jam saja dalam diam. Tanpa merasa perlu mengambil topik apapun, tanpa menghiraukan distraksi gadget manapun, tanpa peduli besok hari yang kita hadapi lebih berat. Satu jam saja, itu lebih dari cukup.

***

Pria itu seperti anggur. Makin diperam, makin didiamkan, begitu sudah masak, rasanya memabukkan. Beda halnya dengan wanita. Ia justru seperti kopi. Makin panas, makin harum aromanya. 

***

Jika pria dan wanita begitu berbeda, tidak bisakah mereka dibungkam sunyi selama satu jam saja, untuk menyetarakan hati? 









Hello Goodbye


11.42 PM

Hei, di seberang sana pasti kamu sudah bergelung geming. Diam nyenyak dalam selimut. Sudah malam. Lepas tengah malam. 

Aku?

Aku masih belum bisa tidur disini. Di kota yang ramai, namun semu. Warganya sibuk bertingkah dan berulah, berpeluh topeng. Kangen ku memaksaku menuliskan ini.

Apa kabar kamu disana? 
Masih terlambat bangun dengan ujung rambut tercuat?
Setangkup burger nikmat di malam pekat?
Keruwetan hari yang nikmat

Tak ada yang sanggup menggantikan randomnya topik kita. Ujung ke ujung yang entah juntrungannya. Lepas tawa kesal. 
Menungguimu di lorong gelap sepi ketika kamu sibuk bergulat sidang skripsi - mendengarkan dosenmu yang galak berkata bahwa ia seperti mengaji di surau gara-gara berbagi makalahmu dengan dosen penguji lain, 
nikmatnya semangkuk mie rebus super pedas di warung burjo pasca nonton midnite,
dikejar meeting dan motormu mendadak mogok di tengah hujan sementara aku malah bersenandung gembira, 
berebut mengambil slice burger masing-masing yang tersisa, 
menghabiskan dua cething nasi gara-gara kepedasan sambal - praktis masing-masing dari kita menguasai satu cething nasi, 
menghadapi kuliah yang padat dan membosankan dan tergantikan sesi jalan-jalan sore denganmu,
badan sama-sama rontok pasca 'serangan' serombongan bis berbelanja kaos oleh-oleh, 
opening dance Centro yang tak bisa berhenti membuatku tertawa demi melihat betapa kakunya badanmu ketika menari,
meracuni seisi rumah dengan asap dan aroma incridible eksperimen masakan kita yang lebih mirip baygon,

 Hm.

Hal-hal kecil itu mengingatkanku pada kita

***

Dan ya, aku tetawa geli mengingat celetukan seorang sahabat,

"Potong rambut sudah. Potong poni sampai rapi, juga sudah. Lalu kapan, kita potong jarak diantara kita?"

:)

Sedemikiannya sejengkal sentimeter di peta dalam hidup kita. 

***

Pukul 12.51 disana. Apakah nyamuk-nyamuk nakal mengganggumu?
Aku merindukan hujan deras, dua cangkir teh, semangkuk mie rebus, ditemani Michael Buble.

I’m just too far from where you are
I wanna come home