Jumat, 29 April 2011




Duh, malam ini saya terlalu aktif berpikir dan mengomentari hal-hal nggak penting. Tergelitik dengan statement salah satu acara TV yang membahas pasca-pernikahan Will-Kate tadi sesorean. Katanya (yang berhasil saya tangkap separo-separo diantara kesibukan saya ngemil melon),


“…dan begitu banyak aturan yang menanti Kate setelah dia resmi menjadi istri Will. Seperti tata cara berpakaian, makan, protokoler…”


Geez, ya biar saja lah. Menjadi Cinderella yang happily-ever-after juga pasti memerlukan pengorbanan, to?




Wedangrondeism




Malam itu Pak Ronde datang tepat waktu. Mengantarkan semangkuk hangat wedang ronde di dalam pelukan jari-jari.


Bagian pertama yang saya makan adalah kolang-kaling warna merah jambu semi ungu, mirip tanaman anggrek di kebun ibu. Meneer kompeni menyebutnya glibbertjes. Dengan jebakan ‘biji’ di dalamnya, saya berusaha mengunyah dengan hati-hati. Saya bukan fan berat olahan pohon aren tersebut, sih. Makanya saya menjadikan si kolang-kaling urutan pertama. Padahal, kolang-kaling kadar airnya sangat tinggi dan memperlancar BAB. Tapi tetap saja saya tidak suka. Hmm.


Potongan kolang-kaling telah sukses merambah kerongkongan, berikutnya adalah giliran si kekacangan. Kress kress. Begitulah  bunyi gigi beradu dengan kacang goreng yang dimasak renyah. Saya juga tak suka kacang, jadi saya mengunyahnya lebih dulu karena akan mubazir ketika saya meletakkannya di urutan akhir : positif tersia-sia. Nah nah, kolang-kaling sudah… kacang sudah… daftar berikutnya adalah campuran tepung beras ketan dan tepung beras yang dibentuk bulatan dengan paduan air kapur, sedikit garam, serta kacang tanah. Si mochi mini cantik! Bagian kesukaan saya. Kenyal, namun ringan dikunyah. Membuat saya lebih bersemangat melumat mochi-mochian ini :) Bulatan demi bulatan sukses terkunyah sempurna. Saatnya tahap akhir. Saya angkat mangkuk porselen sederhana dari atas cawan, dan glek glek glek. Menelan keseluruhan wedang. Sukses membasahi kerongkongan  dengan kehangatan yang mengendap sempurna. Menyisakan senyum lebar di wajah.


“Berapa, Pak?”


“Dua ribu lima ratus.”


Begitu cara saya mengakhiri suatu malam. Hujan rerintik, belum mengantuk, dan lapar. Mirip prinsip yang selalu berusaha saya amini : seberapa sukar, berat, dan pedas masalah itu, toh saya harus melaluinya, kan? Saya harus menghabiskan kolang-kaling dan kacang dahulu, sebelum bertemu si mochi jadi-jadian dan dihangatkan dengan aliran wedang ronde. Efeknya tidak hanya di tenggorokan. Tapi lebih dalam, sampai ke hati :) living your life.




Mood Reshuffle




Kepada yang terharap,

Semua bahagia, kepuasan, serta keceriaan.



Dengan hormat, mengundang kehadiran rekan-rekan sekalian pada :

Acara     : Mood Reshuffle

Waktu    : Saat lidah menjadi kelu, mata nanar, pikiran suntuk, air mata hendak tumpah,  dan suasana hati begitu tak terkendali

Tempat   : Seluruh persendian, otak, dan hati

Seluruh undangan diharapkan hadir tepat waktu, atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terimakasih.



Hormat saya,

Pemilik mood



Kamis, 28 April 2011

Somewhere Over the Rainbow






Malam ini fulan sibuk. Pura-pura sibuk tepatnya. Mengerjakan ini, melakukan itu. Tak dibiarkan waktu bergulir tanpa melakukan apapun. Sangat aktif—atau tepatnya, memaksa diri untuk aktif beregulasi. Tapi sayang, sesibuk-sibuknya otot bergerak, pikiran bekerja, selalu saja ada ruang kosong yang menggumpal. Menjadikannya begitu jelas diantara semua upaya berpura-pura itu.


I’m tryin’ so hard to pretend”, begitu fulan membatin. Ia melepas topengnya sesaat, dan terdiam di pojokan kamar. Terdiam ditemani sepotong lagu, somewhere over the rainbow--lagu yang saking imajinatifnya adalah ketika fulan tak perlu memakai topengnya--mungkin itu benar-bener ‘somewhere over the rainbow’. Dinding, waktu, dan lagu itu hanya segelintir saksi bahwa jujurnya terkalahkan kebohongan. Malam ini, pasti berakhir dengan kepura-puraan.


“Maka aku akan berpura-pura tertidur, pura-pura bermimpi, dan pura-pura malam tadi tidak pernah ada.” Ia menarik selimut, dan tidur. Dengan bola mata yang terdiam kaku. Ia merinding, kepura-puraan ini jauh lebih mengerikan daripada kematian. Tapi ia tetap terpejam.


Kata orang tua dulu, orang yang sabar itu disayang Tuhan, kan?





Amour Bollen





Duh... saya sedang keranjingan bollen. Ceritanya kemarin saya dapat oleh-oleh bollen Prima Rasa, sekaligus dua versi : apel dan nanas. Huhuhu. Dan saya nyaris mengahabiskan semuanya, sendiri! Rrrr...  Padahal sudah beberapa kali juga sih, saya mencicipi bollen itu :( siapapun yang dari Bandung, bawakan saya bollen itu dong :p




Saya suka makanan yang kemasannya oke. Hohoho. 
Bisa jadi mahal cuma gara-gara kemasan =,= 



bollen-o-apple



gettin mad with this bollen. Muach :*
Terimakasih telah menemani sesi nge-teh saya :) 


Malam yang Datang Terlalu Cepat



Malam datang terlalu cepat, setidaknya itulah yang dirasakan oleh lelaki itu. Rembulan yang kebetulan sedang purnama, dan lampu jalan yang kebetulan menyala di depannya, membuat pemandangan yang ganjil dan indah. Tapi bagi lelaki itu semua in hanya ganjil, tanpa indah.

Ada seorang perempuan yang berdiri dibawah lampu, entah sedang apa, entah sedang menunggu siapa, entah sedang menghitung berapa banyak sebuah apa.

"Apakah kamu juga merasa malam ini datang begitu cepat?" tanya si lelaki, pada perempuan yang sesungguhnya tidak pernah dia kenal itu.

Alih-alih menjawab, perempuan itu semakin merapatkan jaket cokelatnya, erat membalut tubuh. Malam bisa kian kejam dengan desiran angin yang menggigit. Persis seperti gigi yang mengulum es.

Ia tak menggeleng. Hanya menatap. Tak menjawab. Hanya mendesah.

"Cepat atau lambat... adakah yang lebih ditakutkan manusia daripada waktu yang berputar, eh? Seperti kamu sekarang. Seakan-akan manusia memang hidup hanya demi waktu yang berputar. Huft."

Perempuan itu menendang batu, bak waktu.

"Untuk apa lagi kita hidup jika bukan untuk terus berperan dalam memutar roda raksasa pemutar waktu? Kita terus ber-regenerasi, kita terus berubah, kita terus berjuang mati-matian menolak tua, tapi tetap sang waktulah yang menang, dan sialnya kita hanya bisa diam melihat dia mengkhianati kita. Ah lupakan. Omong-omong, jam berapa sekarang?" kata si lelaki.

"Aku tak memakai jam--dan tak ingin memakainya. Jika semua hal dalam hidup ditentukan dengan deadline... usiamu dalam kandungan, waktu yang diharapkan cemas kedua orangtuamu hingga menapak langkah pertama, bahkan menjelang nyawamu terenggut, huh, aku memilih untuk mengabaikan waktu sebisaku. Maaf. Aku tak tahu jam berapa sekarang. Omong-omong, kenapa kau memanggilku kesini?"

Perempuan itu memilih ayunan bercat merah terkelupas, menjejakkan kakinya dan mulai berayun. Kembali, mengusir waktu. Menunggu lelaki itu berucap, entah apa.

Sementara bulan semakin membulat dan lampu jalan semakin meredup, lelaki itu mengambil duduk diatas tumpukan ban bekas, mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam tasnya, menyalakan sebatang, menghisapnya dalam-dalam, sebelum kemudian mengeluarkan asap yang sengaja dibentuknya menjadi lingkaran, menghadiahi malam ini satu lagi lingkaran sempurna, pikirnya.

"Aku tidak mengatakannya dalam surat ya? Ah iya, maaf, lagi-lagi masalah loncatan kognisi ini. Maaf, seharusnya aku juga mengatakan kapan tepatnya kamu harus datang kesini, bukan hanya 'saat lampu menyala' yang bisa kapan saja. Tapi mengingat kamu tidak pernah melihat jam, aku jadi tidak terlalu merasa bersalah. Sebelumnya, aku bisa memanggilmu dengan apa?"

Perempuan itu mendengus. Lelaki ini!

"Apa sih, arti panggilan? Begitu kan, kata Shakespeare? Kamu bisa memanggilku apa saja. Autisme berjalan, kepulan asap rokok, kotoran kuda. Terserah kamu. Kupikir, setidaknya kamu harus cukup mengenalku hingga memaksaku meninggalkan selimut di dalam kebekuan seperti ini, kan?

Perempuan itu menatap lelaki itu dengan tajam. Ia tak suka hembusan rokok yang menjelma bak tameng di sekeliling lelaki itu. Seakan ia bisa memonopoli emosi, menopengi sedikit getar ragu dalam intonasi. Padahal, siapa yang tahu jika lelaki ini rapuh di dalam, dengan sebatang rokok mengepulkan asap panjang pendek? Rokok--adalah cara lain menjadi jantan yang sukses dipropaganda media. Cih.

"Haha, lelucon pembuka yang bagus untuk malam keparat ini. Berbicara soal nama, aku malah ingat sebuah dialog satir dalam Pulp Fiction.

'What is your name?’

'Butch.'

'What does it mean?'

'I'm American, honey. Our names don't mean shit.'

Ini bukan Amerika, tapi aku juga percaya nama tidak berperan begitu besar sehingga kita tidak perlu membawanya kemana-mana. Kamu juga bisa memanggilku sesuka hatimu wahai Kepulan Asap Rokok."

Lelaki itu mematikan rokoknya. Bukan, bukan karena dia tidak ingin menyumbangkan polusi lebih banyak lagi untuk udara, tapi semata karena dadanya semakin terasa sakit semenjak semalam.

"Kamu ingat ini?" katanya kemudian sambil mengeluarkan benda lain dari dalam tasnya, sebuah buku.

Kali ini alis perempuan itu terangkat tinggi-tinggi.

"Tarot?" lirihnya antara heran dan geli.

Dari semua buku di muka bumi, lelaki ini menggiringnya di tengah kepekatan malam demi sebuah buku yang berawalan abjad ke duapuluh?

"Ya, tarot. Sebentar, mungkin ini akan terdengar aneh. Aku akan menceritakan semuanya. Dua minggu yang lalu aku bermimpi aneh selama lima hari berturut-turut."

"Ada seorang pria tua yang selalu datang, tidak pernah absen. Dalam mimpiku dia memberikan kartu ke-delapan dari Major Arcana, 'Kematian', selama empat hari berturut-turut. Di hari kelima aku bertanya apa artinya kartu itu, lalu dia memberikan kartu lain, kali ini kartu bergambar seorang perempuan, dia bilang perempuan itu adalah reinkarnasi dari peramal terhebat sepanjang sejarah. Dia akan menjelaskannya untukmu."

"Lalu besoknya aku melihat perempuan dalam kartu di mimpiku dalam dunia nyata, aku melihatnya keluar dari rumahnya yang ternyata tidak jauh dari rumahku. Perempuan itu adalah kamu! Itulah mengapa sore itu kamu menemui surat dariku dibawah pintumu."

Perempuan itu tersenyum samar. Dingin yang semula dirasakan kian menusuk kini hanya bagaikan sapaan singkat angin lalu. Pembicaraan ini kian menarik, batinnya.

"Nostradamus pasti akan berpikir panjang sebelum memilih ku sebagai reinkarnan nya, bukan? Aku beritahu satu hal, aku mendapatkan kartu nomor enam dari peramal gadungan di ujung jalan. Malam berikutnya, sepertimu, tarot yang kuperoleh berubah terbalik. Tidakkah itu menarik?"

Tak ada sahutan dari lelaki di hadapannya. Jeda sekian lama, hingga tinggal suara malam dan kisikan daun yang membelah kebisingan dalam pikiran lelaki itu.

Sebenarnya bukan tidak ada sahutan, tetapi lelaki itu menyahut dalam hati, sehingga yang bisa mendengarnya mungkin hanya virus-virus dan bakteri yang terintegrasi dalam tubuhnya.

"Sial, tahu apa aku tentang tarot? Dan apa pula maksudnya kartu nomor enam dan kebalikannya?"

Lelaki itu kembali menyalakan rokok. Bukan, bukan karena dia sedang ingin menyumbangkan polusi lebih banyak lagi untuk udara, tapi karena malam itu begitu dingin. Dan kalaupun aku mati, setidaknya aku mati dibunuh oleh sahabatku, pikirnya.

"Fiuuh, bukankah ini lucu, betapa waktu dan takdir telah mempermainkan kita? Pertama mimpi-mimpi itu, kemudian malam yang datang terlalu cepat, dan cerita yang sama darimu, semua ini seperti script sebuah sitkom yang sarkas. Bedanya, disini penontonnya hanya kita berdua, sehingga membuatnya menjadi begitu sepi."

Perempuan itu merasa kasihan pada lelaki itu. Ia bangkit dari ayunan, dan tersenyum padanya. Teramat manis, menyisakan lesung pipi yang dalam terhadap lamunan si lelaki. Menjawab samar,

"Yah, karena kamu bahkan tidak tahu apa yang hendak kamu katakan... mungkin, aku ingin kembali ke peradabanku yang hangat. Dengan secangkir kopi pahit nan panas.

Terdengar desahan panjang,

"Padahal, aku tahu dengan pasti arah pembicaraan ini." Lanjutnya.

Perempuan itu mengecup sekilas pipi si lelaki yang dingin oleh kabut, namun kasar oleh bekas rambut-rambut pendek yang tak rapi tercukur. Yang tanpa sadar diamini hangat oleh hati lelaki itu.

Lelaki itu hanya membalas dengan senyum sekilas. Dia masih saja duduk disana sementara si perempuan berjalan kembali ke rumahnya yang hangat. Diambilnya benda lain dalam tasnya, sahabatnya yang lain: kertas dan pena. Dia mulai membuat garis diatas kertas, entah tulisan, entah gambar, entah diagram, entah.

Ada senyum yang tipis namun menyiratkan kemenangan dari wajahnya.
"Dia tidak tahu sebenarnya masih ada mimpi di hari keenam. Mimpi yang membuat semua ini terasa masuk akal sekarang. Mimpi yang aku yakin tidak datang begitu saja dari bawah sadarku. Perempuan itu, ah.." katanya pada virus-virus dan bakteri dalam tubuhnya sambil terus menggoreskan pena.

Lelaki itu terlalu sibuk dengan pena dan kertas tipisnya, hingga tak menyadari bahwa perempuan itu berbalik sesaat,

"Hei, Kabut Malam! Namaku Rhe." lagi-lagi dengan senyum teramat manis, bak candu.

Cukup pelan, sangat pelan. Namun desis angin telah berbaik hati menyampaikannya ke gendang telinga lelaki itu. Senyum samar, berbalas tipis di ujung bibir si lelaki.

"Kau begitu kejam padaku, ah malam..."


  

 *cerpen ini adalah proyek eksperimen saya dengan Lulabi, yang terinspirasi gara-gara karya terbarunya Djenar Maesa Ayu. Well done, mate! :)








Rabu, 27 April 2011

Kepuasan yang paling eksistensial




Kenapa saya cukup freak dengan buku? Entah.


Baru saja, saya mencapai kesepakatan dengan sebuah toko buku bekas online, tentang sebuah novel yang saya cari. The Namesake.

Menilik obsesi saya terhadap buku tersebut, pasti semua orang berpikir bahwa saya tahu ceritanya. Jawabannya : tidak. Saya hanya tahu tentang buku itu dari katalog Grame*ia beberapa tahun lalu. Saya tertarik, namun selalu lupa untuk menjadikannya prioritas dalam belanjaan saya berikutnya. Sampai akhirnya saya merasa benar-benar harus memilikinya, bertahun-tahun kemudian, dan ternyata pihak Grame*ia tidak menerbitkannya lagi :(  saya patah hati. Plus saya baru tahu novel itu meraih penghargaan Pulitzer Prize dan menjadi The New York Time Bestseller. Betapa kian mupeng saya :(

Jujur, saya bahkan tak hapal nama tokohnya, hanya hapal tokoh sentranya, Gogol. Dengan setting India-Amerika, dengan pergulatan masalah nama. Titik. Tapi saya merasa, saya akan amat sangat senang dan puas ketika saya berhasil memiliki bukunya. Memiliki. Bukan meminjamnya dari rental atau teman.
 

Kepuasan yang aneh? Biar.
  

Kepuasan sederhana saya itu--memiliki dan mengoleksi buku-buku yang mungkin tidak cerdas atau fantastis--sama halnya dengan seseorang yang berhasil mengutak-atik fitur yang ada dalam smartphone-nya hingga mengabaikan ujian, sama halnya dengan seseorang yang membuang-buang uang dan bahan demi eksperimen memasak kue yang gagal terus menerus, sama halnya dengan orang yang memilih merakit sepeda tanpa rem dengan warna-warni bak pelangi…

welcoming the next lovely book in my cabinet ...
  




Setiap orang memiliki titik dan bentuk kepuasan terhadap berbagai hal masing-masing, kan? Meskipun orang lain menganggap kepuasan kita sangat tidak jelas eksistensinya, toh kita puas.

Kepuasan saya mengoleksi buku, sama halnya dengan kepuasan saya dalam menulis. Saya suka menulis. Bukan buat pamer, karena tulisan saya juga sangat abal-abal dan tidak sekeren Fira Basuki atau Dee atau Pramoedya, kok. Saya suka menulis, karena saya menemukan diri saya yang paling jujur disini. Saya suka menulis, karena setelah semua hal yang tidak bisa saya lakukan, tidak bisa saya kendalikan, tidak mampu saya dapatkan, saya bisa tahu dengan pasti bahwa huruf demi huruf akan menjelma menjadi paragraph, dan paragraph akan berubah menjadi beberapa larik alinea. Dan kalau beruntung, ada yang membaca tulisan saya yang tak bermutu ini, memberikan feedback pada saya kelak, dan saya terharu, ada yang sudi membaca tulisan saya. Hehehe. Padahal bahkan mungkin mereka tak benar-benar mengenal saya :)

Saya bisa tahu dengan pasti, apapun mood saya di suatu hari, saya akan lega setelah menuliskannya. So, ini bukan masalah berapa banyak saya menulis, topik apa yang saya kemukakan, berapa komentar yang saya harapkan, atau apapun. Saya hanya ingin menulis karena saya merasa menemukan ruang autis pribadi saya. Itu saja.


Seperti penggalan dialog dalam film Julie & Julia,


“You know why I love about cooking?”

“What’s that?”

“I love then after the day when nothing is sure, and when I say nothing--i mean nothing--you can come home, and absolutely know there if you add egg yolks to chocolate, and sugar, and milk… It would get thick. It such a comfort.”


            Karena menulis itu, adalah mood kita yang sangat personal :)

           

Selasa, 26 April 2011

Ikan di Kolam Kecil








Aku berhenti di persimpangan untuk kesekian kali. Memandang langit, memandang hujan. Berbisik diantara kisikan tetes-tetes air yang bersimfoni secara teratur, bersamaan. Kapan ya, hujan ini akan berhenti membasahiku? Batinku. Tapi aku juga tak ingin berhenti atau berlari atau bersembunyi.  


“Kenapa kamu menolak payung ini?”


Dari belakang Radit mengikuti, dengan teduhan payung, bajunya tentu masih kering daripada aku yang telah basah kuyup  mirip habis tercebur sungai.


Aku tahu ia tahu bahwa pertanyaannya retorik saja. Aku mengulum senyum dan menengadah.


“Manusia… aneh, bukan? Mereka mandi dengan air, membasuh diri dengan air. Tapi ketika air datang keroyokan seperti hujan—mereka menghindar. Berteduh dan bersembunyi… tidakkah manusia menjadi manusia yang paling pengecut di muka bumi ini?”


Tak ada komentar. Aku tahu. Raditku adalah pendengar yang baik. Bahkan ia bisa mendengarku dalam keheningan yang tercipta diantara malam dan nyanyian jangkrik. Apa yang lebih wanita perlukan daripada sepasang telinga yang baik dan mulut yang tidak menarik asumsi? Wanita—kami, tak memerlukan solusi paling tepat untuk semua masalah yang diributkan, meskipun omelan kami bisa sepanjang kereta eksekutif jurusan Surabaya-Jakarta. Rumit? Memang.


“…namun ketakutan adalah motivasi terbesar manusia untuk maju, kan?”


“Tepat.”


Nah, kali ini Radit menyahut sepatah. Ia masih betah bertahan dalam payungnya. Masuk akal, karena ia sedang sedikit flu. Mungkin, aku akan memasakkan semangkuk hangat sup krim jagung favoritnya begitu sampai di rumah nanti. Hmm… pasti nikmat di hujan yang lebat.


“Bisakah aku menginterupsi pemujaanmu terhadap alam?”

“Tentu.”


“Tentang keputusanmu bila menjadi ikan—ikan seperti apa yang akan kamu pilih untuk menjadi?”


Aku pura-pura berpikir keras, padahal bahkan Radit pasti akan tahu jawabannya.


“Aku—aku suka menjadi mujair, menjadi lele, menjadi sepat, menjadi nila, menjadi koi…aku ingin menjadi ikan, yang berkembang di kolam yang kecil, ketimbang ikan yang berkeliaran di kolam yang besar.”


“Tidakkah itu sama saja dengan mengekang dirimu sendiri?”


“Tidak. Ketika aku adalah ikan di kolam kecil, aku akan tahu dimana menemukan plankton terbaik, arus-arus mana yang efektif, bergerombol dengan tepat, dan jam-jam dimana aku dapat muncul dengan aman. Aku akan menghargai dan begitu mencintai kolam itu. Menjadikannya bagian terdekat… dan ketika aku di kolam besar,”


“Ya?”


“Aku hanya akan ribut beradaptasi, bersaing dengan ikan lain, merasa tertekan dengan arus yang tak terkendali, dengan ikan-ikan yang sibuk berkoloni. Tidak lagi peduli untuk menemukan lokasi plankton dan jam-jam bahaya, bahkan apakah kolam itu akan tergusur oleh pengembang atau tidak... karena terlalu sibuk berpikir apakah aku sudah cukup keren untuk bergabung dalam kolam besar yang dipahat sempurna ini. Aku tak ingin sibuk berkolektivis menjadi gurameh atau koi.


“Mungkin…setelah aku lelah di kolam yang kecil, dengan pemahaman dan pengalaman yang cukup, baru aku akan melompat ke kolam yang besar. Plung! Proses itu… tak semudah membalikkan telapak tangan, eh?”


Radit tersenyum simpul. Dan kenapa, sih? Ia selalu membuat gurat seperti di pipinya?


“Yuk, pulang. Aku ingin sup krim jagung yang hangat.” Kali ini, aku langsung melompat di bawah payungnya.









Senin, 25 April 2011

The Cardigans - Carnival






Yaiyyy. Akhirnya, ketemu juga salah satu lagunya The Cardigans yang amat-sangat-suka-sekali saya, sering denger tapi sayangnya nggak ada yang  tau lagu siapa, judulnya apa. Yang saya tau cuma lirik refrainnya saja. Hohoho. Dan… here’s the song :) enjoy! *oiya, saya sempat menggambar asal selama 3 menit gara-gara mendengar lagu ini dari playlist mp3 saya (akhirnya)…hehehe. Kira-kira inilah mood yang saya tangkap mendengar keseluruhan lagu ini, 


carut marut yang saya bikin... :p




I will never know
cause you will never show
come on and let me know
come on and let me know


I will never know

cause you will never show
come on and let me know
come on and let me know
come on and let me know
 

carnival...came by enchanted day
like files from giant wheel for only any way
and I am here
and I don't
waiting for you


I will never know
cause you will never show
come on and let me know

come on and let me know

I will never know
cause you will never show
come on and let me know
come on and let me know
come on and let me know

hide yourself
old lovers very old
cause mother :
I would like to take you down to church
till make you mind in earth that miracle's around

I will never know
cause you will never show
come on and let me know
come on and let me know


I will never know
cause you will never show
come on and let me know
come on and let me know
come on and let me know
come on and let me know

come on and let me know
come on and let me know
come on and let me know
come on and let me know
come on and let me know





sumpah, lagu ini oke banget buat nemenin tidur siang di hari yang panas, dengan angin sepoi-sepoi...






Sabtu, 23 April 2011

HP = Handphone or headphone?




“ Lo ol pake laptop ini apa hp? “

“ Laptop kok. ”

“Ok. Gw suka heran orang yang suka ol pakai hp. Nggak ribet ya? SMS panjang2 aja gw udah males… “

“ Hahaha. Kamu ngomong sama orang yang betah ngetik sampai 3 karakter loh… “

“ Eerrrr. Ok…”

“ Asal nggak mikir gini aja : pengen deh punya hp layarnya segede gaban. at least segede laptop. Rrrrrrr… ”

“ Hehe. Ipad dong! Ntar tapi kalo udah bisa dipakai buat hp. “

“ So. Esensi HAND-phone udah kegeser dong, jadi HEAD-phone? “

“ Oh. Iya ya… “

“ ...  ”




Kronik Betawi







"Konon, buaya adalah binatang yang setia. Tak seperti merpati. Buaya hanya hidup dengan satu pasangan seumur hidupnya, sedang merpati jika pasangannya pergi, bisa mencari pasangan lain. Entah kenapa dua jenis binatang ini diartikan terbalik. Sebutan buaya darat untuk laki-laki berhidung belang yang doyan cari perempuan. Sedang merpati selalu dilambangkan kesetiaan dengan ungkapan 'merpati tak pernah ingkar janji'. "

"Heran, orang-orang itu bela-belain datang jauh-jauh ke Jakarta cuma buat hidup berhimpit-himpitan. Apa betul hijrah ke Jakarta itu sama dengan memperbaiki nasib? Apa tidak sama susahnya dengan tinggal di kampung asal atau malah lebih susah?" 

"Saya yakin, kalau semua penduduk Jakarta pendatang dijejer di Jalan Sudirman, pasti mirip ikan sardin. Mepet-mepet."

 "Kebayakan orang Jakarta sekarang pada kurang paham, kalau Menteng itu nama buah, Bintaro itu nama pohon dan Kebon Jeruk, memang dulu di sana ada hamparan tanaman yang benar-benar jeruk buahnya. Para pendatang agaknya hanya kenal nama-nama itu sebagai kawasan gedongan."

--Ratih Kumala-- 






"